
Di skip aja yang gasuka Athes and the geng dan Geng ikan lele 😁
Maxime sedang memilih dress untuk di pakai Milan makan malam nanti, ia menggeledah lemari nya sementara Milan hanya duduk di sisi ranjang memperhatikan.
Sesekali suara pecahan benda di lantai bawah kembali terdengar, Milan hendak keluar tapi Maxime mencegahnya.
"Maxime aku tidak tau rumahmu se berantakan apa di bawah sana," ucap Milan.
"Biarkan saja sayang, yang penting kita tidak ikut bergabung bersama mereka," sahut Maxime lalu berbalik menunjukan dress hitam untuk Milan.
"Ini bagaimana sayang?"
Milan mengangguk. "Bagus." Maxime tersenyum.
Sementara itu di lantai bawah geng ikan Lele sedang berlari mengelilingi sofa, berlari ke lorong yang ada di mansion, pergi ke dapur. Kemana saja asal tidak di tangkap oleh Keenan, Philip dan Athe and the geng.
Sementara itu, Javier, Sekretaris Han dan Thomas hanya duduk menonton seraya menyuapkan cemilan ke mulutnya. Sesekali mereka menyunggingkan senyumnya.
"Hei kau mau kemana?" teriak Aiden mengejar Alvin.
"Tuan jangan ganggu saya Tuan ... tolong ..." teriak Alvin tanpa menghentikan langkahnya berlari di lorong.
"Jawab dulu pertanyaan ku," teriak Aiden.
"Apa Tuan?" teriak Alvin dengan nafas terengah-engah.
"9x3x3x6x4x8 hasilnya berapa?"
"Cepat jawab! kalau jawabanmu benar aku berhenti mengejarmu!!"
Dada Alvin naik turun, keringat bercucuran di pelipisnya. Begitupula dengan Aiden yang semakin memperlambat lari nya karena usianya tidak muda lagi, ia tidak sanggup berlari secepat Alvin.
Keduanya berhenti sesaat dengan Aiden yang berada jauh di belakang Alvin, pria itu membungkukan badan menopang tangan nya di lutut seraya mengatur nafasnya.
Begitupula dengan Alvin yang terlihat berbalik menatap Aiden di belakangnya.
"T-tuan ... kenapa memberiku soal seperti itu ..."
"Ja-jawab sa-saja ... un-untuk melatih otakmu ..."
"Ja-wa-ban nya ... 1200 Tua-n ... cape sekali ..."
Aiden berdecak. "Salah ..." pria itu mengeluarkan sesuatu yang membuat Alvin melotot. Senapan.
"Kau salah ... kau harus mati ..."
"Tu-tuan ... ini bukan ... ini bukan squid game tuan ..."
Alvin pun kembali berlari membuat Aiden kembali berteriak.
"Hey anak muda jawabanmu salah!!"
Aiden mendesis kesal lalu berlari menyusul Alvin.
Tino dan Faiz berlari di ruang tamu tak sengaja menyenggol beberapa hiasan di sana karena di kejar oleh Sergio, Keenan, Philip, Samuel, Athes dan Nicholas.
Mereka berdua seakan di kepung oleh segerombolan mafia gila, alhasil mereka berlari kesana-kemari menyenggol beberapa hiasan seraya berteriak.
"Kau pasti di suruh ganti oleh Maxime, Javier," ucap Thomas yang melihat banyaknya hiasan yang hancur.
Javier mendengus. "Seharusnya aku membuat kebun binatang dan memasukan Athes dan yang lain ke sana agar mereka tidak selalu membuat ulah!"
"Aku tidak mengerti bagaimana para istri mereka bisa sabar dengan sikap mereka," ucap Sekretaris Han menggelengkan kepala seraya melihat Sergio terus mengejar Tino.
"Jelas lah istri-istrinya sabar, mereka jarang bertemu dengan suaminya yang gila itu," sahut Javier.
"Seharusnya kau pecat saja mereka agar tidak tinggal di mansion mu Jav, dengan begitu mereka kembali ke istrinya masing-masing," sambung Thomas.
"Tapi mereka di butuhkan Sky, Kara dan Liana untuk pergi ke pasar. Kau tau itu kan," sahut Javier.
"Ya, malah istri kita yang membutuhkan mereka," sambung Sekretaris Han menghembuskan nafas.
Sky, Liana dan Kara lebih percaya kepada Keenan dan yang lain jika di suruh membeli bahan makanan di pasar. Menyuruh anak buah yang lain takut ada yang berkhianat dan meracuni makanan yang mereka beli.
Javier beranjak dari duduknya di ikuti Thomas dan Sekretaris Han, mereka sudah malas menyaksikan keributan tidak jelas ini.
Arsen menonton seraya menggelengkan kepala di lantai atas bersama Oris. Miwa berada di kamar Tessa bersama Sky dan yang lain. Mereka juga tidak berniat keluar kamar, mereka sudah tahu dimana ada Athes and the geng di situ ada keributan.
"Untung saja saat aku masuk ke sini tidak di kejar-kejar seperti mereka," ucap Oris seraya tertawa.
"Ya karena kau masuk ke mansion Maxime, bukan mansion Daddy Javier! coba kau masuk ke sana, bisa-bisa kau di kepung oleh mereka semua!" sahut Arsen menunjuk Keenan dan yang lain dengan dagu nya.
Sementara itu Aken dengan celana basah menjerit seraya berlari kencang karena di kejar oleh Jonathan.
"Aaaaaa mamaa ..." teriak Aken dengan wajah panik.
"Berhenti kau bocil!!" teriak Jonathan.
"Aaaaa mamaaa ..."
"Mama ... mama ... berapa usiamu sampai ketakutan memanggil mama mu hah!!"
"Aaaaa mama tolong ... Tolong berhenti mengejar ku Tuan ..."
"Kau lah yang berhenti, ini aku bawa sarung untukmu sial*n lepas celana mu itu!!" teriak Jonathan yang nafasnya mulai tak teratur.
Karena memang benar Jonathan berlari dengan membawa sarung di tangan nya untuk mengganti celana basah nya Aken. Tapi Aken yang memang dari awal takut dengan para mafia malah terus berlari.
"Tidak mama tolong ... hiks ..." Aken mulai menangis.
"INI SARUNG UNTUKMU KENAPA KAU MALAH NANGIS!!"
Tidak ada lelaki yang seusia Aken dan teman-teman nya di mansion alhasil tidak ada celana yang cukup untuk di pakai Aken. Bisa saja membeli yang baru tapi karena Aken dan yang lain tidak terlalu di spesial kan oleh Maxime maka tidak ada yang berniat membelikan celana. Pakai yang ada saja, sarung.
"Ini ... sa-rung ... untuk ... mu ..." Jonathan yang mulai kelelahan berbicara terbata-bata, ia berlari tergopoh-gopoh dengan wajah lesu.
Aken yang menyadari itu menghentikan langkahnya lalu berbalik. Ia berbicara setelah mengusap air mata di wajahnya.
"Tuan ... bagaimana kalau kita main tebak-tebakan. Kalau Tuan tidak bisa menjawab, berhenti mengejar ku ..."
"Apa ..." tanya Jonathan dengan nafas memburu.
"Aku sering main ini bersama Milan. Apa judul lagu pembunuhan yang sadis? jawab Tuan ..."
Jonathan terlihat berpikir dengan memercak pinggang sesekali menyeka keringat di wajahnya. "Sebentar ..."
Hening beberapa saat sampai akhirnya Jonathan menyerah.
"Ah tidak tau lah. Aku kalah, apa jawaban nya?"
"Potong bebek angsa ..."
Jonathan melotot. "Apa maksudmu potong bebek angsa?"
Aken mencoba menyanyi. "Potong bebek angsa ... angsa di kuali ..."
"Sadis kan Tuan? bebek nya di potong ..."
Jonathan mendengus kasar. "Kurang ajar!"
"Aaaa mama ..." Aken kembali berteriak dengan suara melengking karena Jonathan kembali mengejarnya. Mereka kembali saling mengejar satu sama lain.
"Si*lan!! mana bisa judul lagu anak-anak kau bilang sadis!!" teriak Jonathan berusaha mempercepat larinya.
"Itu bebek nya di potong Tuan," sahut Aken lalu tubuhnya menabrak seseorang.
BRUKH
Ia mendongak perlahan lalu melebarkan matanya seraya menelan Saliva nya susah payah. Javier, berada di depan nya menatap Aken datar.
Lalu pandangan Javier turun ke celana Aken yang basah. Javier menepuk pundak Aken seraya berkata.
"Anak muda kau--"
Belum selesai bicara Aken kembali jatuh pingsan membuat Jonathan yang berlari menghentikan langkahnya.
Javier mengerutkan dahinya bingung, anak ini kenapa selalu takut dengan dirinya padahal Javier hanya ingin bertanya kenapa celana nya belum di ganti.
"Pingsan lagi ... pingsan lagi ..." Thomas berjalan menggelengkan kepala.
"Dia seperti putri malu," sahut Javier.
"Apa maksudmu?" tanya Sekretaris Han.
"Ya, putri malu di pegang layu. Dia di pegang pingsan," sahut Javier membuat Thomas, Sekretaris Han dan Jonathan meledakkan tawa nya.
"Sudah angkat dia dan ganti celana nya," titah Javier.
Arsen menjawab panggilan telpon dari Maxime seraya terus menonton kericuhan di bawah sana.
"Berikan teman-teman Milan hadiah sebelum pulang."
"Oke," sahut Arsen.
Bersambung