
Aberto menatap Felix dari atas sampai bawah, mereka duduk bersama di restaurant yang ada di hotel.
Smith yang duduk di samping Aberto terlihat tidak suka dengan kehadiran Felix, ya walaupun memang itu tujuan mereka datang ke Negara X. Bertemu Felix dan membahas soal Yakuza dan Antraxs.
"Bagaimana?" tanya Felix. "Kapan kira-kira kita bisa menyingkirkan Maxime?"
"Kenapa kau ingin sekali menyingkirkan Maxime?" Aberto balik bertanya.
"Aku hampir berhasil melakukan kerjasama dengan perusahaan De Willson, tapi sayangnya dia memutuskan kerjasama itu. Padahal dengan kerjasama membuatku mudah menyingkirkan perusahaan mereka ..."
Aberto tersenyum miring. "Kau ingin menjadi orang terkaya di Negara ini?"
"Tentu saja," sahut Felix.
"De Willson masih menjadi orang terkaya di beberapa Negara, tidak mudah mengambil posisi nya itu," jelas Aberto.
"Setidaknya kita mau mencoba menyingkirkan Maxime, apa salahnya?" sambung Rhea kini menatap Aberto dan Felix bergantian.
"Tapi tidak semudah itu Nyonya ..." sambung Smith. "Dalam hal ini, kalau bukan mereka yang mati maka kita lah yang mati Nyonya."
"Bukankah suamiku ini cukup pintar mengatur strategi. Iya kan sayang?" Rhea menoleh ke arah Aberto dengan tersenyum.
Felix hanya menatap Rhea dan Aberto bergantian. Aberto menghela nafas.
"Kita tidak bisa bertindak sekarang, tunggu sampai Maxime menikah dan istrinya hamil."
"Apa?!" teriak Rhea dan Felix bersamaan.
"Apa hubungan nya dengan menikah? Dan berapa lama kita harus menunggu?!" tanya Felix.
Smith hanya berdecak pelan seraya menggelengkan kepala.
"Kau hanya ingin perusahaan Maxime tersingkir kan, begitu bukan? Membunuh Maxime sekarang itu tidak mungkin, yang harus di lakukan untuk menghancurkan perusahaan nya hanyalah membunuh mental Maxime."
"Ma-maksudmu, kita akan membunuh istrinya yang sedang hamil nanti?" tanya Rhea.
Aberto mengangguk. "Kalau Maxime depresi akan lebih mudah menghancurkan perusahaan nya."
"Walau kemungkinan berhasilnya tidak seratus persen," sambung Smith yang mendapat tatapan langsung dari Aberto, Rhea dan Felix.
"Apa maksudmu?" tanya Felix.
"Sekalipun Maxime depresi, masih ada adiknya. Arsen. Dan lagi, keluarganya masih lengkap. Javier, Han, si tua Xander dan yang lain juga masih hidup ... Kita benar-benar tidak bisa bergerak sekarang. Masih banyak yang akan membantu Maxime," sahut Smith.
"Perusahaan mungkin akan tetap berjalan di tangan Arsen," lanjut Smith.
"Bunuh saja mereka semua," sahut Rhea enteng.
"Ya, aku setuju dengan Rhea," sambung Felix.
Aberto menghela nafas kasar. "Kalian benar-benar berpikir pendek. Memangnya membunuh mereka itu mudah? Aku juga tidak mau Recobra habis di tangan mereka seperti Mudork."
"Kalau anak buahmu habis, tinggal ganti dengan yang baru. Bukan kah di Negara XX banyak orang yang ingin bergabung dengan Recobra?" tanya Felix.
Aberto dan Smith kompak menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan sikap Felix yang berpikir membunuh Yakuza dan Antraxs itu semudah membalikkan telapak tangan.
Dan lagi, mengganti anak buah Recobra dengan yang baru tidak semudah itu, banyak orang yang gagal dalam tantangan yang di berikan Recobra sebelum bergabung dengan kelompok mafia ini.
*
"Sayang ..." panggilnya.
Milan menoleh, Maxime duduk di samping Milan lalu merangkul gadis itu. "Sedang apa hm?"
"Maxime, satu bulan lagi aku ujian. Bagaimana ini?" Milan terlihat gelisah.
"Sayang, kau pasti lulus. Kalau tidak lulus juga kau tidak akan hidup susah karena tinggal bersamaku hm," bisik Maxime seraya menggulum senyum di wajahnya.
"Sekarang bilang seperti itu, dulu kau bilang aku harus dapat nilai minimal delapan lima dari pelajaran yang tidak aku suka huhh," ketus Milan membuat Maxime tertawa.
Maxime lalu memeluk Milan erat dengan gemas. "Kekasih kecilku ..."
"Maxime ..." Milan mendongak.
"Ya sayang?"
"Bagaimana dengan Tessa?" tanya nya.
"Sepertinya dia pulang ke mansion Daddy ku, biasanya ketika marah dengan salah satu dari kami dia pasti pulang ke mansion Daddy."
Ponsel Maxime tiba-tiba bergetar, ada pesan masuk dari salah satu anak buahnya. Yaitu foto Aberto, Smith, Felix dan Rhea.
Dimana mereka?
Tak lama kemudian anak buah Maxime membalas.
Di hotel X Tuan.
Maxime kemudian kembali membalas.
Awasi mereka, kalau besok mereka masih di sini. Sekap mereka agar tidak bisa kembali ke Negara nya!!
Baik Tuan.
"Siapa Maxime?" tanya Milan karena Maxime terlihat begitu serius dengan ponsel nya.
"Hanya masalah bisnis sayang," sahut Maxime lalu menyimpan ponsel nya di meja.
"Oh iya, sayang kau tau Franz Liszt?"
"Franz Liszt?" Milan menatap Maxime.
"Dia kan pianis terbesar," lanjut Milan.
"Kau masih mengingatnya ternyata." Maxime tersenyum.
"Tentu saja, dia guru musik asal Hungaria di abad ke 19. Dia juga menulis 700 komposisi musik. Dulu aku bercita-cita seperti dia, ya walaupun tidak sebesar dia. Hanya menjadi pianis biasa sudah cukup untukku, tapi orang tua ku terlalu mementingkan nilai sekolah." Milan menekuk wajahnya.
"Kau mau belajar piano lagi hm? aku bisa membantu mu ..."
Mata Milan melebar sempurna. "Beneran Maxime?"
Maxime mengangguk. "Kau boleh belajar piano setelah ujian mu selesai sayang."
"Mau ..." Milan menjawab penuh semangat membuat Maxime tersenyum lalu mengecup kening gadis itu.
Bersambung