
Kecurigaan Maxime terhadap Jack hanya di beritahu kepada Arsen. Peter sama sekali tidak tau apapun, ketika Jack mengatakan ia di suruh kembali ke mansion Peter hanya menurut dan memberikan Milan kepada Jack.
Bukan tanpa alasan Maxime tidak mengajak Peter untuk membahas kecurigaan dirinya terhadap Jack, seandainya ia mempunyai sahabat yang sangat dekat sekalipun tetap saja ia hanya akan berbagi dengan Arsen.
Hanya Arsen yang ia sangat percaya. Selain sahabat, Arsen adalah adiknya yang tumbuh bersama dan Maxime yakin tidak akan pernah Arsen mengkhianatinya.
Jika dengan Peter, Maxime masih sedikit memberi jarak untuk tidak membahas hal-hal yang di anggap cukup serius.
Keenan, Philip dan Athes and the geng di suruh Arsen untuk berjaga di depan gerbang, setidaknya untuk menghalangi Javier masuk.
Maxime terlihat santai duduk di sofa seraya merokok, malah Arsen yang kalang kabut sendiri takut Javier benar-benar menghukum Maxime.
Arsen terus mondar-mandir membuat Maxime berdecak.
"Duduklah, kau ini kenapa?!"
"Sial*n!! ini bisa saja hari terakhir kau hidup!!apa kau tidak khawatir dengan nyawamu sendiri!!" sahut Arsen.
Tiba-tiba Miwa berlari menuruni anak tangga dengan panik. "Kak ... kak ..."
Maxime menoleh ke tangga dan Miwa pun segera duduk di samping Maxime.
"Sepertinya Dad sedang di jalan, dia pasti menghukum mu. Lebih baik kakak sembunyi saja cepat!!" Miwa menarik tangan Maxime tapi Maxime hanya tersenyum.
"Ayahmu itu pinggang sudah sering encok masih mau bertengkar denganku ..."
"Kak Maxime aku serius!" kesal Miwa yang melihat Maxime malah santai seperti itu.
"Kalau serius jawab pertanyaan kakak, kau menaruh obat perangs*ng di minuman kakak. Iya kan?"
Mendengar hal itu Arsen yang penasaran duduk di depan Maxime dan Miwa.
"I-itu ..." Miwa menggantung kalimatnya.
"Jangan bilang kau melakukan nya!" potong Arsen.
Miwa menghela nafas. "Tapi aku tidak menyebarkan video apapun kak!"
Arsen sontak menepuk jidat nya, Miwa benar-benar menaruh obat perangs*ng ternyata.
"Lalu siapa yang menaruh obat tidur di kopi ku?" tanya Arsen kini.
"I-itu ..."
"Kau juga?" tanya Arsen lagi.
Miwa mengangguk perlahan membuat Maxime menyunggingkan senyumnya lalu mengacak-ngacak kepala Miwa.
"Sikap licik ini mirip sekali dengan Daddy!!"
"Astaga Miwa ..." Arsen benar-benar tidak habis pikir kepada adiknya ini, untung saja bukan dirinya yang di beri obat perangs*ng.
Miwa berdecak. "Aku melakukan itu karena kasian dengan kak Maxi. Hubungan kita sama, Milan belum mencintai kakak. Arsen belum mencintaiku. Tapi aku kesal karena Milan suka sekali kabur, bukannya belajar mencintai malah kabur-kaburan!!" sahutnya dengan menekuk wajah.
Maxime hanya terkekeh pelan sampai akhirnya mereka mendengar suara klakson begitu keras di depan. Itu pasti mobil Javier.
Mereka semua beranjak dari sofa dan mengintip di jendela. Terlihat Javier dengan kesal keluar dari mobil mendekati Keenan dan yang lain yang terlihat berjajar di depan gerbang.
"Minggir!" titah Javier seraya memercak pinggang.
"Langkahi dulu mayat kami," sahut Philip dengan wajah songong.
"Maaf, kami memilih melindungi Maxime," sambung Aiden.
"Ya, karena Maxime duitnya lebih banyak sekarang," ucap Jonathan yang mendapat geplakan kepala dari Nicholas.
Javier menghela nafas. "Ini bukan waktunya bercanda!!" sentak Javier.
Sampai akhirnya mobil Sekretaris Han, Thomas dan Xander pun datang ke mansion Maxime. Mereka semua segera keluar dari mobil.
"Dimana anakku ..." tanya Sky menghampiri Keenan dengan mata sembab.
"Di dalam," sahut Keenan.
"Hanya Sky yang boleh masuk," ucap Athes.
"Jangan g*la kepar*t!!" kesal Javier. "Cepat minggir atau aku tembak kalian!!"
Javier mengeluarkan pistol dan membidikkan ke arah mereka. Sontak semua orang membidikkan pistol ke arah Javier.
Xander, Sekretaris Han, Thomas, Liana, Kara bahkan Sky juga ikut membidikkan pistol ke arah Javier.
Mereka semua sudah sepakat untuk menodongkan pistol kepada Javier. Bahkan Sky yang istrinya sekalipun tetap berpihak kepada putranya.
Javier celengak-celinguk. "Apa-apaan kalian ini!!"
"Aku mencintaimu tapi aku lebih mencintai putraku ..." ujar Sky menatap tajam Javier.
"Berani menyentuh cucuku kau mati di tanganku Javier!!" sambung Xander.
"Aku sudah menganggap nya seperti anakku sendiri!!" hardik Sekretaris Han.
"Aku tidak akan membiarkan kau menghukum kakak kesayangan Tessa," pekik Thomas.
"Uang adalah segalanya bagiku," sambung Samuel.
"Maxime mati, kami miskin. Aku tidak mau miskin!" sambung Keenan.
"SEMUA ORANG DEMO DI JALANAN APA KALIAN TIDAK LIHAT!!" teriak Javier.
"Cukup ..." Maxime berjalan ke arah gerbang. Semua orang sontak menurunkan pistol nya kala melihat Maxime berjalan mendekat.
Javier sontak mendesis marah. "Anak ini ... mempermalukanku saja!!"
#Bersambung