
Arsen berjalan ke kamar mandi setelah menunggu Miwa hampir dua puluh menit tak kunjung keluar, dengan berjalan penuh energi yang masuk ke kamar mandi perempuan.
"Aaaaaa ..." semua perempuan yang ada di sana menjerit, toilet Rumah Sakit di datangi seorang pria bagaimana bisa mereka berpikir positif.
"Ma-maaf Nona ... saya sedang mencari seseorang di sini."
"Hei kau, ini kamar mandi perempuan. Bagaimana bisa kau mencari seseorang di sini!!"
"Saya juga mencari seorang perempuan," sahut Arsen.
"Ya tapi tidak di kamar mandi juga!!"
"Tapi dia pergi ke---"
"Satpam!!!"
"Satpam!!"
"Ada pria mes*m di kamar mandi!!"
"Satpam!!"
Tiga orang perempuan berteriak, membuat Arsen melebarkan mata. Perempuan yang ada di dalam toilet pun dengan tergesa-gesa keluar dari kamar mandi setelah memakai kembali pakaian dal*m nya. Lalu ikut menjerit ketika pintu toilet terbuka dan mendapati seorang pria di kamar mandi.
"Aaaaa---bugh!!"
BUGH
"Hei Nona--"
"Nona---"
BUGH
BUGH
BUGH
Mereka memukuli Arsen dengan geram menggunakan tas mereka, Arsen berusaha melindungi kepalanya dengan kedua tangan nya.
"Dasar kau pria mes*m!!"
BUGH
"Hei kalian tidak tau siapa aku hah!!" ucap Arsen di sela-sela mereka memukuli kepalanya.
"Aku tidak perduli kau siapa yang aku tau kau pria mes*m yang mau mengintip kami!!"
BUGH
"ADA APA INI!!" teriak satpam yang baru datang.
Semua perempuan itu pun menghentikan aksi memukuli Arsen dengan tas mereka, mereka kini menunjuk wajah Arsen.
Arsen menghela nafas kasar dengan membereskan bajunya yang kusut, karena sebagian perempuan itu juga menarik-narik bajunya.
"Kalian tidak tau siapa aku?" tanya Arsen dengan penuh penekanan lagi.
"HEI KAU--"
Satpam menghentikan langkahnya kala Arsen mengangkat telapak tangan nya.
"Aku---"
BUGH
"Akkhhh ..."
Belum selesai Arsen bicara salah satu perempuan menendang aset berharga milik Arsen, membuat pria itu jatuh bersimpuh di lantai.
"Aku bilang aku tidak perduli kau siapa kepar*t!!"
Perempuan yang menendang Arsen melenggang pergi dari kamar mandi di ikuti yang lain, satpam di sana hanya ternganga seakan tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya aset berharga Arsen di tendang.
"AWAS SAJA KALIANNN ..." teriak Arsen.
Bisa saja Arsen melawan, tapi mereka perempuan masalahnya.
*
Arsen di bawa ke salah satu ruangan oleh satpam di sana, Rumah Sakit ini bukan milik De Willson jadi Arsen tidak punya kuasa untuk menolak satpam membawanya ke ruangan. Sekalipun ia sudah mengatakan siapa ia sebenarnya, satpam itu seperti tidak punya rasa takut terhadapnya.
Ini Rumah Sakit biasa yang tidak terlalu besar, tapi karena jaraknya cukup dekat dengan mansion Maxime, alhasil Tessa di bawa ke sini dari pada harus memakan waktu lama.
Dan para perempuan tadi lupa kalau Arsen bagian dari Yakuza.
Arsen duduk bersilang di sofa dengan sesekali meringis karena yang di bawah sana masih terasa ngilu.
"Tuan ... saya minta maaf karena harus membawa anda ke sini. Tapi masalah ini harus di selesaikan," ucap satpam tersebut.
"Aku tidak punya masalah apapun. Aku harus menunggu siapa di sini?"
"Direktur Rumah Sakit Tuan."
Satpam tak menjawab, ia hanya menunduk saja. Satpam itu hanya menjalankan tugas, masalah Arsen di hukum atau tidak bukan wewenangnya.
Arsen mengeluarkan ponselnya di saku dan mengirim pesan kepada Maxime.
Sepuluh menit kemudian Maxime membuka pintu ruangan tersebut, terlihat Arsen yang hanya duduk menyenderkan punggung nya di sofa dengan seorang satpam di depan nya.
Maxime berjalan dan duduk di samping Arsen. Satpam itu menelan Saliva nya susah paya, aura pria yang baru datang ini begitu menyeramkan.
Satpam itu tahu siapa Maxime, tapi tetap saja masalah kerjaan tidak bisa di toleransi. Ia harus menunggu direktur nya.
"Semua dokter tak berani menghalangiku, hanya kau yang berani!" ucap Maxime seraya tersenyum kecut.
Bukan apa, saat Maxime membawa Tessa ke sini dan Tessa di bawa masuk para dokter tidak menghalangi atau melarang Maxime masuk karena mereka tahu siapa Maxime. Tapi satpam di depan nya ini ternyata punya keberanian sampai mengurung Arsen.
Satpam itu hanya menunduk kemudian Maxime menoleh ke arah Arsen, ia menatapnya dari atas sampai bawah lalu berdecak.
"Kau juga kenapa masuk kamar mandi perempuan!"
"Aku mencari adikmu sial*n!! tadi dia bilang ke kamar mandi!!"
"Lalu?" tanya Maxime.
"Dia tidak ada, tidak tau pergi kemana. Mungkin malu ..."
"Malu kenapa?" tanya Maxime kembali.
"Aku menci*m nya tadi."
"APA?!" teriak Maxime seraya menarik kerah baju Arsen. Satpam yang duduk juga ikut terlonjak kaget.
Arsen yang terbelalak kemudian menjawab. "Kau lupa aku dan dia sudah tidak menganggap adik kakak lagi!"
Maxime menghembuskan nafas lalu mendorong tubuh Arsen. Ya, dia lupa soal itu. Mendengar Arsen menci*m Miwa terdengar sangat aneh dan menjijikan di telinga Maxime karena selama ini Maxime melihat mereka sebagai adik kakak saja.
Pintu kembali terbuka, seorang pria masuk ke dalam. Usianya terlihat lebih tua dari Maxime.
"T-tuan Maxime ... Tuan Arsen ..." ia terbata karena shock melihat dua orang yang di segani di negara ini ada di ruangan.
Lalu ia menoleh ke arah satpam yang bekerja dengan nya. Satpam itu segera berdiri seraya menundukkan badan ke arah direktur tersebut.
"Tuan--"
"Cukup!!" potong Direktur itu kepada satpam tersebut lalu berjalan menghampiri sofa. Sebelum duduk direktur tersebut sempat melayangkan tatapan tajam kepada satpam.
"Tuan Maxime ... Tuan Arsen ..." Direktur tersebut menyapa dengan tersenyum tapi dua pria yang di sapa nya malah melayangkan tatapan datar.
"Maaf menganggu waktu kalian ... maafkan satpam saya ini." Ia menoleh ke arah satpam yang berdiri di sampingnya.
"Dia mungkin tidak tahu siapa anda Tuan ..."
"Saya hanya menjalankan tugas," sahut si satpam membuat direktur nya berdecak ke arahnya.
"Diam kau!!" ucapnya pelan dengan geram.
"Begini Tuan ---"
"Saya minta kalian keluar, sudah itu saja. Nyawa kalian selamat kalau dalam hitungan ketiga kalian sudah keluar dari sini. Satu ..."
Direktur dan satpam itu melebarkan matanya kala Maxime berhitung.
"Dua ..."
Dan dengan secepat kilat dua pria itu keluar dari ruangan, lari terbirit-birit dan hampir jatuh tersandung kakinya sendiri.
Maxime menghela nafas seraya menggelengkan kepala melihat pintu ruangan sudah tertutup.
"Akkhhh ..." kini suara Arsen kembali meringis kesakitan karena aset berharga nya kembali berdenyut.
Sebenarnya sakitnya dari tadi, tapi Arsen mencoba menahan di depan satpam.
"Aku pernah merasakannya saat di tendang Milan," ucap Maxime seraya menarik ujung bibirnya tersenyum.
Maxime mengambil rokok di saku celana nya lalu menyalakan nya dengan pemantik api. Sementara Arsen di sampingnya tampak sedang mengatur nafasnya untuk menahan rasa sakit di bawah sana.
"Bagaimana dengan Tessa dan Milan?" tanya Arsen setelah merasa cukup mendingan.
"Aku sedang memikirkan cara tetap bersama Milan tanpa bertengkar dengan Tessa ... bertengkar dengan Tessa sama saja aku bertengkar dengan Mom Liana dan Dad Thomas."
"Ya, jangan membuat keluarga besar kita hancur," sahut Arsen yang mendapat toyoran keras dari Maxime.
"Itu karena kau!! coba saja kalau kau dan Miwa tidak bersama, mungkin lebih mudah berbicara dengan Tessa. Kalau dia tahu hubungan kalian bagaimana!!"
Arsen menghembuskan nafas. "Itu sulit Maxime ... tapi aku sudah mengatakan perasaan ku kepada Miwa. Jadi jangan paksa aku melepaskan dia!!"
Maxime hanya berdecak dengan jawaban Arsen lalu memijit pelipisnya yang terasa pusing.
Bersambung