
Miwa menjewer telinga Arsen menyeret pria itu keluar dari toko pakaian dalam wanita. Satu tangan Arsen berusaha melepaskan tangan Miwa dari telinganya sementara tangan yang lain menenteng belanjaan Miwa yang cukup banyak.
"Bee, lepaskan. Aku salah apa, aku hanya menjadi penengah Maxime dan Daniel!!"
"Memalukan ya, malah bertengkar seperti anak kecil di sini!!" Miwa semakin memperkuat jeweran telinga Arsen membuat Arsen berteriak.
"Aaaaaa ... itu sakit!!"
Kemudian Daniel pun keluar dengan telinga yang di jewer oleh Tessa.
"Aku sudah bilang jangan masuk ke sini, kau tidak menurut ya. Kau ini belum menikah sudah berani memegang pakaian dalam wanita, wajar kalau Kak Arsen dan Kak Maxi marah!!"
"Le-lepaskan ... itu sakit, lepaskan dulu. Sayang, kau mau telingaku putus!"
Daniel pun sama seperti Arsen, satu tangannya menenteng belanjaan Tessa.
Kemudian yang terakhir keluar dari toko itu Maxime dan Milan. Mereka jalan berdua dengan Maxime membawa belanjaan Milan yang hanya sedikit dan telinganya bebas dari jeweran istrinya, beda dengan Arsen dan Daniel.
Miwa menoleh ke belakang. "Hei, Milan. Kau tidak mau menjewer suamimu juga?" tanya Miwa tanpa melepas tangannya dari telinga Arsen.
"Hah?" Milan menaikkan kedua alisnya lalu menoleh ke arah Maxime di sampingnya. Arsen dan Daniel masih berteriak meminta di lepaskan.
Setelah menjadi istri sah Maxime, Milan sedikit sungkan untuk bersikap kurang ajar terhadap suaminya itu, padahal ia dulu pernah sampai menendang harta berharga Maxime.
"Apa?" Maxime menaikkan satu alisnya menatap Milan. "Kau mau menjewer ku juga?"
Milan menggeleng. "Tidak, untuk apa aku menjewermu."
"Ya, Milan benar untuk apa kau menjewer ku Bee!" teriak Arsen.
"Dengarkan apa kata Milan, untuk apa menjewer?!" teriak Daniel.
"Berisik ya!! sudah ayo pulang!!" Miwa menyeret Arsen keluar dari Mall begitupula dengan Tessa.
Maxime tersenyum lalu dengan santainya merangkul istrinya berjalan berdua paling belakang menonton Arsen dan Daniel yang terus berteriak kesakitan.
Sebenarnya mereka bertiga bertengkar bukan bertengkar layaknya melawan musuh, tidak ada pukulan, tendangan atau tembakan. Mereka bertengkar layaknya adik kakak, berteriak dan saling menjambak satu sama lain. Terdengar aneh, tapi itu sudah biasa di lakukan Maxime dan Arsen dari kecil tanpa sepengatahuan orang-orang, bahkan hanya Miwa dan Tessa saja yang tahu jika Maxime dan Arsen sering bertengkar seperti itu. Di tambah lagi sekarang ada Daniel.
Dua pelayan perempuan itu saling berbisik heran.
"Tuan Arsen itu adiknya Tuan Maxime, mereka berdua itu tidak ada bedanya, tidak takut dengan pistol sama sekali tapi kenapa malah kesakitan padahal cuman di jewer."
"Iya ya, aneh sekali. Suami takut istri."
*
Sesampainya di mansion, Arsen duduk bersila dengan tangan bersedekap dada, wajahnya datar dan mengacuhkan Miwa yang terus berbicara di sampingnya. Ia masih kesal perihal di jewer di mall.
"Bee, mau susu tidak?" Miwa berusaha membujuk dengan berniat membuatkan segelas susu untuk Arsen.
"Hei Bee, ayolah jangan diam terus. Salahmu, malah bertengkar. Kau tidak lihat, banyak pengunjung yang melihat kalian bertengkar tadi."
"Bee ..." Miwa memanggil dengan manja berharap Arsen luluh.
"Bee, mau susu tidak?"
"Susu apa yang Nona tawarkan untuk Tuan Arsen?" celetuk Oris yang tiba-tiba berdiri di dekat mereka. "Susu sapi atau susu ..."
Oris menggantung kalimatnya lalu pandangannya hendak menatap sesuatu di tubuh Miwa, seketika Arsen membidikkan pistol ke arah Oris membuat Oris mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Ampun Tuan ampun hehe ..."
Miwa menatap tajam Oris dan menyuruhnya kembali ke dapur.
Sementara itu Maxime dan Milan sedang mengeluarkan semua baju dari lemari. Milan enggan membuang baju-bajunya yang kebanyakan hoodie polos, tapi Maxime memaksa mengganti semua pakaian Milan menjadi dress selutut agar Milan terlihat lebih feminim.
"Kau bilang isinya dress, kenapa malah kebanyakan lingerie semua. Kau tadi tidak membeli lingerie sebanyak ini," ucap Milan seraya melipat baju bekasnya dan memasukannya ke dalam koper.
"Aku menyuruh pelayan itu mengantarnya langsung ke mansionku sayang," sahut Maxime dengan tersenyum.
"Baju bekasmu itu mau di buang kemana?" tanya Maxime.
"Jangan dibuang, ini masih bagus kita bisa kasih ke orang lain saja nanti."
Kemudian Milan mendapatkan telpon dari Aken, Aken memberitahu jika Milan harus ke sekolah besok karena ada pengumuman kelulusan di mading.
"Benarkah? besok?" Milan terkejut.
"Oke, Aken. Aku besok ke sekolah."
Bagaimana kalau aku tidak lulus.
"Kenapa sayang?"
"Besok aku ke sekolah."
"Kelulusan?" tanya Maxime yang di jawab anggukan dari Milan.
"Bagus. Kau pasti lulus."
"Kalau tidak?"
"Kalau tidak ya tidak apa-apa, aku tidak akan menceraikanmu karena kau tidak lulus sekolah. Kau sudah jadi nyonya sekarang." Maxime tersenyum.
"Tapi memalukan kalau tidak lulus." Milan mencebikkan bibirnya.
"Kalau nyonya Milan tidak lulus, bakar saja sekolahnya Tuan, seperti film Dilan hehe."
Maxime dan Milan spontan menoleh kearah suara, entah dari kapan Oris berada di kamar mereka. Oris masuk karena pintu kamar Maxime terbuka.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?" tanya Maxime datar.
"Tidak ada Tuan, aku hanya melihat Nyonya Milan sedang kerepotan sendiri. Jadi aku inisiatif untuk membantu hehe."
"Tidak ada yang membutuhkan bantuan mu, cepat keluar!!"
Oris mengangguk. "Baik Tuan. Permisi." Oris membungkukan badan lalu keluar dari kamar Maxime dan Milan. Milan hanya tersenyum melihat kepergian Oris.
*
Tessa berada di balkon bersama Daniel. Keduanya sama-sama duduk dengan kanvas di depan mereka, mereka memang sering melukis bersama. Lebih tepatnya Tessa mengajari Daniel, tema yang di lukis juga cukup mudah.
"Tuan Daniel, kau sedang menggambar buah d*da wanita ya?"
Daniel dan Tessa sontak menoleh ke belakang. Ada Oris di belakang mereka yang entah dari kapan memperhatikan Daniel dan Tessa.
"Kenapa kau di sini?" tanya Tessa. "Dan dari kapan?"
"Hehe, belum lama. Aku kagum melihat lukisan Tuan Daniel, buah d*da wanita, wuuuihhh baguss ..." Oris memberi jempol.
"Buah d*da darimana sial*n? ini gunung!!" pekik Daniel.
"Masa gunung begitu? ada pent*l nya."
"Ini matahari mau muncul bukan pent*l ya!! kau ini!!" Daniel melepas sendalnya hendak melempar wajah Oris dengan geram tapi Oris langsung melindungi wajahnya dengan tangan seraya berkata.
"Kalau matahari baru muncul itu ditengah-tengah gunung Tuan, bukan di atas gunungnya dan kenapa matahari bulat kecil seperti itu, sinarnya juga tidak ada."
"Aku baru mau menggambar sinar matahari nya Oris kepar*t!!"
Tessa yang penasaran pun melihat hasil lukisan Daniel.
"Matahari apa kecil seperti ini," ucap Tessa. "Bentuknya juga aneh."
"Tuh, benar kan, Nona Tessa. Dia itu menggambar buah d*da wanita. Yeeee ... tidak percaya sih."
"ORIS!!" Daniel semakin geram.
"Pergi sana!" usir Daniel.
"Iya ... iya ..." Oris membungkukan badan lalu pergi dari balkon.
Sekarang Daniel mendapat tatapan tajam dari Tessa yang menunggu penjelasan sebenarnya apa yang sedang di gambar Daniel. Daniel menelan salivanya susah payah.
Bersambung