The Devil's Touch

The Devil's Touch
#54



Malam dimana Miwa mengatakan perasaan nya kepada Arsen sikap pria itu sedikit berubah, dingin dan sering mengabaikan Miwa.


Tapi putri semata wayang Javier De Willson itu tidak menyerah, ia terus berusaha mendapatkan hati Arsen.


Seperti kakaknya yang berjuang untuk Milan, adiknya juga harus berjuang untuk Arsen.


Arsen berjalan masuk ke mansion hendak membawa beberapa baju dari kamarnya, ia akan lebih sering tinggal di kantor mulai sekarang.


Miwa membuntuti pria itu dari belakang, Arsen segera mengunci pintu kamarnya tidak membiarkan Miwa ikut masuk.


"Kak ... Kak ..." Miwa menggedor pintu kamar itu. "Kak buka ... aku kan asisten kakak!"


"Tunggu di luar!" sahut Arsen berteriak.


Miwa mendengus lalu melangkah duduk di sofa depan kamar Arsen. Sepuluh menit kemudian Arsen keluar dengan menyeret satu koper penuh baju-baju nya.


"Loh Kak ..." Miwa beranjak dan mengikuti langkah Arsen kembali dengan heran, bukan kah kakak nya itu bilang kembali pulang untuk mengambil berkas yang tertinggal saja.


"Kak kenapa bawa koper, kak ... KAK ARSEN!!" teriak Miwa dan Arsen pun menghentikan langkahnya.


Arsen berbalik. "Kakak mau tidur di kantor!"


"Tapi kenapa?"


"Ada apa ini?" Suara Ara menyeruak keluar dari dalam kamar. Ia menatap heran koper di tangan Arsen.


"Arsen kenapa kau membawa koper? mau tinggal bersama Ayahmu?"


"Tidak Aunty," sahut Arsen. "Aku akan lebih banyak tinggal di kantor sepertinya."


"Tapi kenapa?" tanya Ara.


"Iya Kak, Kenapa?" sambung Miwa.


"Akhir-akhir ini banyak yang harus aku kerjakan, jadi lebih baik aku tinggal di kantor saja dulu."


Miwa dan Ara saling menoleh, ini bukan kali pertama Arsen menginap di kantornya. Tapi tidak sampai membawa baju-baju nya segala, seperti orang yang hendak pindah saja.


Miwa kembali menoleh kepada Arsen. "Yasudah, Kak. Aku ikut tinggal di kantor, aku kan asisten kakak. Sebentar, aku ambil bajuku dulu."


Miwa berbalik untuk ke kamarnya tapi suara Arsen menghentikan langkahnya.


"Jangan, Miwa!!"


Miwa berbalik kembali. "Kenapa?"


Arsen menghela nafas, niatnya tinggal di kantor untuk menjauhi Miwa tapi perempuan ini malah ingin ikut.


"Di sini saja, Daddy Javier akan marah kalau tau kau tinggal di kantor!"


"Tidak kak, tidak akan. Daddy sangat percaya denganmu," sahut Miwa.


"Miwa ---"


"Sudah, aku kemas bajuku dulu!" potong Miwa lalu berlari ke kamarnya membuat Ara heran dengan sikap perempuan itu dan membuat Arsen jengkel bukan main.


*


Sementara itu di sekolah Milan masih mengerjakan tugas fisika nya dengan Maxime yang mengamati jawaban yang di tulis Milan duduk di samping gadis itu.


"Butuh bantuanku tidak?" tanya Maxime.


Milan mendelik ke arah Maxime lalu berdecak. "Tidak!"


Ia kembali berusaha sendiri dengan otak minimalis nya. Maxime hanya menarik ujung bibirnya tersenyum, lihat saja seberapa jauh usaha Milan untuk tidak membutuhkan pertolongan nya.


"Nomor satu saja sudah salah," ledek Maxime seraya menggosok hidungnya menahan tawa.


"Biarkan saja, yang penting ini usahaku sendiri!" sahut Milan.


"Memang, tapi usahamu bisa memperburuk nilai mu sendiri!" balas Maxime.


"Kecuali kalau kau ingin mengulang satu tahun lagi di sekolah ini," lanjut Maxime.


"Belum pernah ada siswa di sekolah ini yang mengulang satu tahun lagi," sahut Milan menoleh ke arah Maxime dengan kesal.


"Siapa kepala sekolah nya sekarang?" Maxime menaikkan satu alisnya seraya menarik ujung bibirnya tersenyum.


"Kau pikir aku akan meluluskan siswa yang nilai nya di bawah rata-rata? kepala sekolah yang lama menambah nilai siswa buruk di sini, itu sebabnya mereka yang bodoh pun masih di luluskan," lanjut Maxime membuat Milan menghela nafas lalu dengan kesal ia mengeluarkan ponsel di saku nya.


"Kau mau apa?" tanya Maxime.


"Mencari kunci jawaban," sahut Milan seraya mengetik soal ulangan nya ke salah satu aplikasi kunci jawaban di ponsel nya.


Maxime pun dengan cepat mengambil ponsel tersebut.


"Aku menawarkan diri membantumu bukan memberi tau jawaban nya, Milan. Jadi jangan pikir ponsel mu ini bisa memberikan jawaban juga!"


"Kembalikan ponselku!!" Milan berusaha meraih ponsel nya tapi Maxime terus memainkan ponselnya di udara.


"Maxime ..."


"Aku akan memberi tau rumusnya bagaimana?"


Milan mendengus kesal tapi karena butuh ia pun kembali duduk dengan tenang membuat Maxime tersenyum.


"Kucing pintar!" Maxime mengelus puncak kepala Milan, gadis itu langsung menepis tangan Maxime.


"Aku tidak mau di sini, ikut aku." Maxime beranjak dari duduknya.


"Kau mau kemana?" teriak Milan.


"Ikut saja!" sahut Maxime.


Milan pun beranjak dari duduknya mengikuti langkah Maxime yang seperti membawa nya ke belakang sekolah.


Mereka berhenti di depan gudang tempat dimana biasanya Milan bersembunyi dari guru-guru dan tempat biasanya Milan bolos sekolah.


Maxime membuka pintu gudang tersebut dan sontak mata Milan melebar kala gudang yang berantakan dan kotor itu berubah menjadi kamar tidur minimalis dengan desain warna hitam dan putih.


Maxime langsung menarik tangan Milan masuk dengan cepat mengunci nya.


"Kenapa di kunci?" tanya Milan.


Maxime berbalik dan berakhir dengan menci*m gadis itu.


Bersambung