
Mereka semua sedang sibuk dengan makanan nya masing-masing, duduk di meja bulat yang sudah di sediakan.
Maxime, Milan, Javier dan Miwa duduk bersama di meja bulat. Arsen, Sekretaris Han dan Kara duduk meja yang lain. Satu keluarga satu meja.
Xander duduk bersama Rania, Ara bersama Athes, Tessa bersama Thomas dan sisanya duduk lesehan bergerombol di taman.
Miwa makan dengan sesekali mencuri pandang ke arah Arsen.
"Mau Ikan?" tanya Maxime.
"Mau kak," sahut Miwa cepat.
"Aku berbicara dengan Milan," sahut Maxime membuat Miwa menekuk wajahnya.
Tapi tetap saja Maxime menaruh ikan di piring Miwa dan juga Milan.
Javier tiba-tiba berdehem dan berdiri dari duduknya mencuri perhatian yang lain untuk menoleh ke arahnya.
"Saya minta waktu nya sebentar ..." ucapnya seraya mata berkeliling menatap mereka satu-persatu dengan sungkan.
Ia harus melakukan ini demi berbaikan dengan Sky sebelum pulang ke mansion nya. Di depan semua orang, di depan putra nya.
"Saya Javier De Willson, pemimpin ketiga Yakuza meminta maaf kepada putra saya Maxime Louis De Willson ... karena saya hampir menghukum dia. Amarah saya hampir membuat putra saya satu-satu nya ini mati, saya juga berterimakasih kepada kalian yang telah melindungi Maxime dari amarah saya. Karena kalau tidak ada yang menahan amarah saya tadi, mungkin saya sudah membunuh Maxime secara tidak sadar. Sekali lagi terimakasih dan maaf."
Javier membungkukan bada nya kepada Maxime, Sky dan juga yang lain.
"Di maafkan tidak?" teriak Philip.
"TIDAK!!" jawab mereka semua serempak. Kecuali Maxime yang hanya bisa menggeleng dan tersenyum.
Javier kembali berdiri tegak. "Anj*ng kalian semua!!" kesalnya. "Aku ini sudah meminta maaf!!"
"Max ..." Javier menatap Maxime penuh harap.
"JANGAN DI MAAFKAN!!" teriak Nicholas.
"ORANG TUA KOK GITU!!" sambung Aiden.
"AYAH MEMBUNUH ANAK MANA ADA!!" teriak Jonathan.
"JANGAN DI MAAFKAN MAX!!" teriak Keenan.
"HUKUM DULU AYAHMU ITU!!" teriak Thomas.
"BIARKAN SKY YANG MENGHUKUM NYA DENGAN TIDUR DI LUAR SELAMA SEBULAN!!" Sambung Sekretaris Han.
Javier mendengus menatap kesal mereka semua. "KELUAR KALIAN DARI MANSIONKU KALAU BEGITU!!"
Sergio mengacungkan ibu jari nya. "OKE, KITA PINDAH KE MANSION MAXIME SAJA."
"HAHAHAHA ..." Semua orang tertawa melihat Javier membulatkan mata nya kala Sergio memberi ide untuk pindah ke mansion Maxime kalau di usir oleh Javier.
Maxime menghela nafa lalu berdiri dan memeluk Ayahnya.
"Aku memaafkan mu Dad ..."
"Terimakasih Maxi ..." Javier menepuk-nepuk pundak Maxime dengan perasaan lega.
Miwa ikut memeluk Ayah dan kakaknya. "Aku memaafkan mu karena kak Maxi memaafkanmu, Dad."
"Kau bisa nya cuman ikut-ikutan saja!" sahut Javier seraya memeluk Miwa.
Sky pun tersenyum dan beranjak dari duduknya memeluk si kembar dan suaminya.
"Kau tidak jadi tidur di luar," ucap Sky seraya tersenyum.
Milan yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan ketika Maxime menatapnya sontak Milan menunduk.
"Milan ..." panggil Maxime.
Milan mendongak. "I-iya?"
Milan pun beranjak dan ikut memeluk keluarga De Willson. Ia belum pernah memeluk Ayah dan Ibunya karena nilai nya yang selalu jelek membuat kedua orang tua nya lebih sering memukul daripada memeluk.
Tapi sekarang, ia merasakan pelukan hangat satu keluarga walaupun bukan dari keluarganya.
Yang lain tersenyum melihat kebahagiaan keluarga Javier. Walaupun mereka suka sekali meledek, mereka sebenarnya ikut bahagia dengan apa yang membuat keluarga De Willson ini begitu bahagia seperti sekarang.
Di atas sana, di balik jendela diam-diam Tessa melihat Milan yang di sambut ramah oleh keluarga Javier, rasa iri dan cemburu pun muncul. Dengan mata berkaca-kaca ia menghela nafas panjang dan memilih menutup tirai jendela nya.
*
Setelah acara berakhir, Javier dan yang lain pulang ke mansion nya. Maxime masuk ke kamar bersama Milan.
Gadis itu keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Ia duduk di sofa dengan bathrobe melekat di tubuhnya dan handuk kecil menggulung di kepala. Sementara Maxime tiduran di ranjang seraya memainkan ponselnya.
Maxime beranjak dan duduk di samping Milan lalu memeluk gadis itu, ia bisa mencium aroma mawar dari sabun yang Milan pakai.
"Kau masih berpikir untuk kabur sayang?" tanya nya.
"A-aku ..."
"Kalau kabur juga aku masih bisa menangkapmu," potong Maxime.
"Keluargamu sangat ramah." Milan mengalihkan pembicaraan mereka.
"Karena mereka ramah jadi kau tidak berniat kabur lagi hm?"
Milan pun mengangguk pelan membuat Maxime melukiskan senyuman di wajahnya.
Ternyata keluarga yang menyebalkan menurut Maxime bisa membantu Milan luluh.
Maxime melepas pelukan nya dan berjalan mengambil hairdryer di laci lalu kembali ke sofa.
Ia membuka perlahan gulungan handuk di kepala Milan. Dan membantu gadis itu mengeringkan rambutnya.
Setelah selesai Milan mengganti bathrobe menggunakan piyama lalu segera naik ke ranjangnya. Ini sudah sekitar pukul tiga pagi, ia sangat ngantuk.
Maxime pun naik ke ranjang dan memeluk gadis itu dari belakang.
"Sayang ..." panggilnya.
Milan yang baru saja menutup mata kembali membuka mata nya.
"Hmm?"
"Maaf ..." lirih Maxime.
"Untuk apa?" tanya Milan.
"Hari itu, aku tidak sengaja menamparmu dan aku belum meminta maaf ..."
Milan menghela nafas. "Sudahlah, itu sudah berlalu."
"Kau memaafkan ku tidak?" tanya Maxime.
"Kalau tidak?" Milan bertanya balik.
"Kalau tidak ..." Maxime menggantung kalimatnya terlihat sedang berpikir.
"Kalau tidak aku akan memperk*sa mu lagi!"
"Maxime!!" suara Milan terdengar tidak suka dengan perkataan Maxime.
Maxime sendiri hanya tertawa. "Tidak sayang, aku bercanda. Itu juga aku seharusnya minta maaf, tapi Miwa yang menaruh obat perangs*ng. Ah jadi aku merasa tidak bersalah!!"
Maxime memeluk Milan semakin erat, mereka pun tidur bersama. Sebenarnya Milan ingin menanyakan banyak hal tentang Maxime dan keluarganya. Tapi rasa ngantuk benar-benar meminta nya untuk tidur saja.
Bersambung