
Dengan wajah lesu Peter berjalan masuk ke mansion menghampiri mereka semua di ruang keluarga.
"Huuuffttt lelahnya ..." Peter pun duduk di samping Javier membuat Maxime mengernyit.
Peter terlambat datang ke mansion karena harus melewati jalanan yang macet akibat orang-orang demo masal tentang Yakuza.
"Kenapa kau di sini?" tanya nya.
"Aku kan di suruh datang ke sini," sahur Peter. "Katanya ada hal darurat tapi sepertinya semuanya baik-baik saja, tidak jadi menghukum Maxime?" tanya Peter kini menoleh Javier di sampingnya.
"Dimana Milan?" tanya Maxime tidak mau basa-basi lagi.
"Ada, bersama Jack."
Sontak mata Maxime dan Arsen melebar sempurna, mereka yang curiga dengan Jack sangat membatasi hubungan antara Milan dan pria itu.
"Kau kepar*t kenapa Milan bersama Jack?!" tanya Maxime dengan kesal.
"K-kau kenapa?" tanya Peter bingung melihat Maxime terlihat marah. "Jack bilang aku di suruh datang ke mansion. Jadi Milan bersama Jack."
Maxime mendesis kesal lalu beranjak dari duduknya meninggalkan mereka yang kebingungan. Pria itu pun segera keluar dari mansion dan masuk ke mobilnya dengan amarah menguasai tubuhnya.
"Ini ada apa? Ar?" Peter menoleh kepada Arsen dengan heran. Begitu pula dengan yang lain yang tidak tahu apa-apa hanya bisa saling menoleh satu sama lain.
"Aku dan Max curiga Jack pengkhianat!!" Ucap Arsen lalu berjalan cepat menyusul Maxime.
"Kalian tidak boleh pergi," teriak Xander yang di hiraukan Arsen.
Pasalnya jalanan masih padat dengan mereka yang melakukan demo masal terkait yakuza. Sebelum Peter datang mereka sedang membahas bagaimana cara menenangkan orang-orang tapi pembahasan itu berakhir ketika Peter datang tanpa Milan.
Sky terlihat panik begitupula dengan yang lain. "Kau mau diam saja anakmu dalam bahaya?!" sentaknya kepada Javier.
Keenan, Athes and the geng dan Philip pun menyusul Maxime dan Arsen dengan mobil yang lain.
Dan Javier segera menelpon salah satu anak buahnya untuk mengirimkan helicopter ke jalanan, setidaknya mereka bisa menembak dari atas kalau ada hal darurat terjadi kepada Maxime dan Arsen.
Arsen mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, di sampingnya Maxime terus memperhatikan sinyal merah berkedip di ponselnya.
"Hotel X," ucap Maxime memberitahu Arsen Milan ada di Hotel X, hotel yang menara nya sangat tinggi di kota itu.
Arsen mengangguk, mobil melesat dengan batas maksimum kala Arsen menginjak pedal gas dengan kuat.
Tapi sayang mobil harus melambat ketika di depan orang-orang yang sedang demo menghalangi jalanan.
Arsen memukul stir seraya berdecak. "Si*l!!"
"Aku akan keluar." Maxime hendak membuka pintu tapi bahu nya di tahan oleh Arsen.
"Bahaya, banyak yang sedang mengincarmu!! apalagi musuh perusahaan kita!!"
"Tapi Milan bagaimana Ar?!!" tanya nya dengan frustasi.
Maxime kembali melihat ponselnya sinyal merah itu masih berkedip di hotel X tapi tiba-tiba ia mendapat pesan dari Jack.
Yang di hotel itu hanya ponselnya, Milan bersamaku. Aku pinjam sebentar.
Orang-orang yang demo terus berteriak meminta Maxime di hukum, mereka tidak tahu kalau salah satu mobil di jalan itu ada Maxime dan Arsen di dalamnya.
Bukan Maxime tidak berani keluar, sehebat apapun dia kalau melawan ratusan orang dengan membawa lemparan batu dan tongkat bisbol tetap akan mati kalau di kroyok.
Ia harus menyusun strategi dulu.
Maxime dengan kesal memukul dashboar mobilnya dengan wajah merah padam karena amarah.
BRAKH
Tubuh mereka terhentak ke depan kala seseorang menabrak mobilnya dari belakang. Dan itu Keenan yang tidak sengaja.
"Mamp*s aku!!" umpatnya mematung menatap bagian belakang mobil Arsen hancur.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena khawatir dengan Maxime, malah menabrak mobil pria itu.
Suara helicopter menggema di udara mereka semua mendongak dan seorang perempuan mengeluarkan kepalanya di balik jendela.
Bukan hanya satu helicopter saja, tapi ada empat helicopter yang di dalamnya ada Javier, Sky, Xander, Thomas dan Sekretaris Han. Kara, Liana dan Rania memilih menunggu kabar di mansion saja.
Dan hanya satu yang tak henti berteriak di atas helicopter sekarang. Miwa.
"Hei kampr*t!!" teriak Miwa.
"Kalian semua bod*h, b*bi ngepet, anj*ng pulang kalian!! jangan berkumpul terus!!" lanjut Miwa kembali berteriak dengan menyempilkan rambut yang tertiup angin ke belakang telinga.
"Pergi atau jantung kalian aku keluarkan satu-persatu!!"
Miwa malah mendapat sorakan tidak suka dari orang-orang. Miwa membulatkan mata sempurna, berani sekali mereka meneriaki nya.
Miwa pun mengeluarkan pistol dan menembak salah satu pohon di sana membuat mereka menjerit karena suara tembakan tersebut.
Arsen menarik ujung bibirnya tersenyum seraya mendongak menatap Miwa di atas helicopter. "Hebat juga dia," gumam nya.
Maxime mencoba terus menelpon Jack beberapa kali, awalnya tidak di angkat sampai akhirnya Jack mengangkat panggilan tersebut.
"Jangan macam-macam denganku!!" ucap Maxime penuh penekanan.
Jack di seberang sana hanya tertawa. "Waktumu hanya limat menit ..."
Maxime terkekeh meremehkan dan hal itu membuat Jack heran. Kenapa Maxime malah tertawa.
"Lihat foto yang aku kirimkan," ucap Maxime menatap foto yang di kirimkan salah satu anak buahnya ke ponsel Arsen.
Maxime pun mematikan panggilan nya dan mengirimkan foto tersebut. Foto dimana Zivania diikat di kursi dengan anak buah Maxime menodongkan pistol ke kepala Zivania.
Selama Maxime ada di mansion, beberapa anak buah nya tinggal di pethshop, niatnya hanya untuk menyuruh mereka rajin memberi makan Bunny dan si kucing putih saja.
Tapi karena Jack menyekap Milan, di perjalanan tadi Maxime menelpon anak buahnya di petshop untuk datang ke rumah Zivania. Jarak petshop dan rumah Zivania tidak memakan waktu banyak dan hal itu memudahkan mereka menangkap Zivania.
Jack terbelalak dengan foto tersebut, dia benar-benar tidak tahu kalau ada anak buah Maxime di perdesaan.
Bersambung