The Devil's Touch

The Devil's Touch
#60



Miwa beranjak dari duduknya menghampiri Arsen yang baru keluar dari kamar mandi. "Kak, kenapa tidak seminggu saja di sini?" rengek Miwa kepada Arsen yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan kaos hitam dan celana jeans. Ia menggeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Arsen berjalan ke meja rias, melempar handuk kecil ke ranjang lalu menyisir rambutnya.


"Kak aku mau jalan-jalan dulu di sini," rengek Miwa lagi.


"Tidak, kita pulang malam ini."


"Loh, kita datang ke sini hanya numpang mandi dan makan saja? yang benar saja!" Miwa bersedekap dada tidak terima.


"Ini salahmu, karena bilang ke sini untuk pekerjaan, Miwa. Jadinya seperti ini, sudah kita pulang saja!"


Arsen berjalan keluar dari kamar.


"Kak ..." panggil Miwa.


"Kemari, kita makan," sahut Arsen.


Miwa mendengus kesal menghampiri Arsen di meja makan.


*


"Aku butuh obat cacing untuk kucingku," ucap seorang perempuan dengan dress di atas lutut seraya celengak-celinguk seakan sedang mencari seseorang.


"Itu saja?" tanya Milan duduk di kursi kasir melayani pembeli tersebut dengan menulis pesanan si pembeli.


"Ada vitamin bulu kucing tidak?" tanya nya lagi seraya menatap dapur kecil tak jauh dari tempat nya berdiri.


"Ada, mau berapa?" tanya Milan.


"Satu saja," sahut perempuan itu seraya gelisah takut tidak bertemu dengan seseorang yang ia cari.


"Itu saja?" tanya Milan lagi.


"Obat untuk kucing mencret?"


"Mencret nya sudah berapa hari? kalau lebih dari tiga hari bawa saja ke dokter hewan."


"Eummm satu minggu."


"Apa?!"


Sontak perempuan itu menatap Milan karena tidak terlalu fokus dengan pertanyaan gadis itu.


"Ma-maksudku, baru satu hari."


Milan menghela nafas, menyenderkan punggung nya di kursi seraya tangan bersedekap dada.


"Kau datang ke sini untuk membeli vitamin atau mencari penjaga petshop ini?" tanya Milan.


"Sebenarnya, aku mencari dia. Dimana dia?" tanya nya seraya tersenyum ke arah Milan.


Milan awal nya berdecak, tapi kemudian dia mempunyai ide untuk menjaili si perempuan di depan nya ini.


"Kau mau bertemu dengan nya?" tanya Milan.


Perempuan itu mengangguk dengan semangat.


"Caranya gampang."


"Bagaimana?" tanya nya tak sabar.


"Beli lebih dari dua puluh produk di sini dan kau akan bertemu dengan dia," ucap Milan seraya menarik ujung bibirnya tersenyum.


"Kenapa seperti itu?" tanya si perempuan heran.


"Mau atau tidak? itu syaratnya!" balas Milan.


Si perempuan itu hening beberapa saat sampai akhirnya ia mengangguk. "Oke, aku setuju. Tapi kau harus menepati janji mu agar aku bisa bertemu dengan dia!"


"Tenang saja, kau bahkan bisa mengobrol dengan nya," sahut Milan.


"Benarkah?" mata perempuan itu berbinar senang.


Milan mengangguk. "Sudah ..." Milan melihat ja di pergelangan tangan nya. "Waktu mu 10 detik dari sekarang, mulai!!"


Milan mulai berhitung. "Satu ... kalau kurang dari dua puluh barang, kau gagal bertemu dengan nya!!"


"Si*l!! kau tidak bilang waktu nya hanya sepuluh detik!!" si perempuan itu terus mengambil apa saja yang ada di petshop ia masukan ke keranjang sementara Milan terus berhitung.


"Enam ... tujuh ..."


"Tunggu ... tunggu ..." teriak si perempuan.


"Delapan ... sembilan ... se ... pu ... luh ... STOP!!" teriak Milan dan tubuh perempuan itu seakan mematung seketika.


"Kemari," ucap Milan menggerakan tangan nya meminta si perempuan menyimpan keranjang nya di atas meja.


Perempuan itu pun mendengus membalikkan badan menghampiri Milan dan menyimpan keranjang nya di atas meja.


Milan mulai menghitung semua produk yang di bawa perempuan itu.


"Ada sembilan belas, kurang satu!"


"Loh, hanya satu?!"


Milan mengangguk. "Kau gagal!"


"Yasudah, kalau begitu aku tidak mau bayar saja!" sahut si perempuan dengan kesal.


"Sudah di masukan ke keranjang wajib di bayar, kau tidak bisa seperti itu!!"


"Tidak aku tidak mau!!"


"Yasudah terserah." Milan berjalan ke kandang Blacky.


Ia berdehem dengan wajah angkuh ke arah si perempuan itu. "Kau lihat, ini kucing hitam." Milan berdiri di samping kandang Blacky.


"Kucing ini galak dan mengigit!! kalau kau tidak membayar semua barang di keranjang, aku akan mengeluarkan Blacky dari kandang."


Milan menyiku kandang Blacky membuat kucing hitam itu kaget dan menggeram ke arah si perempuan.


Sontak perempuan itu melebarkan mata kaget seraya mundur perlahan.


"Bagaimana?" tanya Milan lagi.


Perempuan itu menghela nafas. "Yasudah aku bayar." Perempuan itu akhirnya mengalah dari pada kucing galak itu mengigit atau menyakar tubuhnya.


Milan tersenyum menang dan kembali ke meja kasir.


Sementara itu Maxime berada di belakang petshop, membantu Aron mencari empat anak kelinci nya yang terlepas.


"Paman paman itu ..." Aron menunjuk semak-semak tempat dimana anak kelinci itu bersembunyi.


"Tangkaplah, bukan berteriak!" sahut Maxime.


"Tidak bisa, Paman. Dia kabur terus."


Maxime mendengus. "Yasudah, tunggu di sini."


Maxime berjalan mengendap-ngendap tapi suara ponsel nya membuat anak kelinci itu kembali meloncat menjauhi Maxime.


"Yaahhhh kabur lagi ..." Aron menghembuskan nafas kecewa.


Maxime mengangkat panggilan dari Jack.


"Ada apa?" tanya Maxime.


"Ada hal penting soal Oris," sahut Jack.


"Apa?" tanya Maxime.


"Datang saja nanti malam ke sekolah."


"Kenapa kau jadi tinggal di sekolah?" tanya Maxime.


"Ternyata nyaman juga di sini," sahut Jack terkekeh pelan. Maxime berdecak lalu mematikan panggilan nya.


Bersambung