
Milan menunggu Maxime di depan gerbang sekolah, pria itu mengatakan akan menjemput Milan pulang sekolah hari ini.
Gadis itu memegang balon di tangan nya, seraya celengak-celinguk menunggu kedatangan Maxime, pasalnya sudah hampir dua puluh menit Milan menunggu Maxime tak kunjung datang.
Kring ... kring ...
Milan mendengar suara bel sepeda, ia celengak-celinguk karena bel sepeda kembali berbunyi.
Sampai akhirnya dari kejauhan Milan melihat Maxime tersenyum seraya menggayuh sepeda mendekat ke arahnya.
"Maxime ..." gumam Milan.
Maxime menghentikan sepedahnya di depan Milan. "Ayo sayang ..."
"Kenapa pakai sepeda?"
"Aku sedang malas bawa mobil ... kenapa kau bawa balon?"
"Oh, ini ada yang menjual balon tadi. Aku membelinya karena kasihan penjualnya sudah tua ..."
Maxime mengacak-ngacak gemas rambut Milan. "Baik sekali sayang aku ... yasudah ayo naik."
Milan tersenyum seraya mengangguk lalu duduk menyamping di belakang dengan memegang balon warna warni di tangan nya.
Maxime mulai mengayuh sepeda dengan semangat, berdua dengan Milan membelah jalanan kota di siang hari yang sangat ramai.
Mereka mengobrol dan tertawa sepanjang perjalanan.
"Sayang apa aku seperti Ayah yang menjemput anaknya pulang sekolah?" tanya Maxime seraya tertawa.
"Tidak Maxime, kau mirip om-om kaya raya yang menculik anak sekolah." Keduanya tergelak, tertawa bersama di atas sepeda.
"Pegangan yang kuat sayang ..." Milan langsung memeluk pinggang Maxime dengan satu tangan nya karena satu tangan yang lain memegang balon.
Maxime menambah kecepatan sepedah nya, mengayuh lebih kuat lagi. Tangan Milan terulur ke atas lalu perlahan melepas semua balon di tangan nya.
Semua balon warna-warni itu terbang dan melukiskan senyum di wajah Milan ketika melihat balon-balon itu terbang tinggi.
Maxime mendongak menatap semua balon yang di lepaskan Milan lalu tersenyum.
"Kita pergi kemana sayang?" tanya Maxime setengah berteriak karena suaranya tenggelam oleh mobil motor yang melintas.
"Danau saja bagaimana?" Milan ikut berteriak.
Maxime mengangguk. "Oke ..."
Maxime dan Milan tak henti-hentinya tertawa sepanjang jalan menuju danau, membahas Milan yang pernah jatuh dari sepedah ke Solokan saat kecil, Maxime yang menjadikan sepeda kendaraan untuk kabur bersama Arsen saat kecil karena tidak mau di suruh tidur siang.
*
Mereka sampai di danau yang biasa di jadikan tempat wisata, terlihat beberapa orang sedang main bebek-bebekan di danau, ada yang naik dengan keluarganya, teman nya dan kekasihnya.
Milan dan Maxime duduk di pinggir danau, ada kursi panjang tapi mereka memilih duduk di atas rerumputan seraya menekuk lututnya.
Maxime menoleh ke arah penjual ice cream. "Sayang mau ice cream?" tanya nya.
Milan menoleh lalu mengangguk. "Sebentar ..." Maxime mengelus kepala Milan lalu beranjak dari duduknya.
Tak lama kemudian Maxime datang dengan dua ice cream di tangan nya.
"Maxime ..."
"Ya sayang?" sahut Maxime seraya memakan ice cream di tangan nya.
"Itu ... bukan penjual ice cream kan?" tanya Milan menatap penjual ice cream yang Maxime hampiri tadi.
Maxime perlahan mengembangkan senyumnya. "Bukan sayang ... itu anak buahku ..."
"Benar kan, apa yang aku pikirkan huhh ..."
Maxime tertawa. "Kenapa kau tau?"
"Karena aku melihatmu tidak membayar ice cream nya ..."
Maxime kembali tertawa di ikuti dengan Milan, keduanya menghabiskan waktu duduk di pinggir danau bercerita seraya memakan ice cream. Setelah selesai Maxime menawari Milan naik bebek-bebekan.
"Mau naik itu tidak sayang?" tunjuk Maxime.
"Ayo," sahut Milan semangat lalu berdiri dan menepuk-nepuk rok nya yang terasa kotor.
Milan melotot. "Maxime ..."
Maxime tertawa melihat muka Milan yang kaget karena barusan ia menampar bok*ng gadis itu. "Maaf sayang ... rok belakangmu kotor."
Milan berdecak. "Alasan kau ini ..."
Gadis itu pun berjalan menghampiri bebek-bebek kan di ikuti Maxime di belakangnya yang tak henti tertawa melihat muka cemberut Milan.
Maxime menghembuskan nafas. "Apa tidak ada bebek warna hitam?" tanya Maxime melihat kebanyakan bebek-bebek kan itu warna pink.
"Adanya warna kuning." Milan menunjuk bebek warna kuning di paling ujung.
"Ah, itu saja sayang. Ayo ..." Maxime mengenggam tangan Milan mengajaknya naik bebek berwarna kuning. Itu lebih baik dari pada Maxime menaiki yang warna pink.
Mereka pun mulai mengayuh bebek kuning itu berkeliling danau dan dengan sengaja Maxime menabrak-nabrakan bebek milik nya ke bebek milik orang lain.
Yang lain mau marah karena kesal tapi ketika mereka sadar bebek kuning itu di isi oleh pemimpin Yakuza alhasil mereka hanya bisa menghela nafas untuk sabar.
"Maxime jangan seperti itu ..." Milan menepuk tangan Maxime.
Maxime tertawa. "Ini seru sayang, ayo kita dekati bebek hijau itu ..." Maxime menunjuk bebek hijau yang sepertinya di isi oleh pasangan kekasih.
Mereka terlihat mengobrol dengan wajah yang saling berdekatan. Maxime tahu, mereka pasti mau berci*man.
Perlahan wajah mereka mendekat dan mendekat sampai akhirnya.
BRUKH
Bebek Maxime menabraknya dari belakang membuat pasangan kekasih itu tak jadi bercium*n malah tubuh mereka tersungkur ke depan.
Pria di bebek hijau itu menoleh ke belakang dengan amarah. "HEI KAU---"
Bibirnya tiba-tiba tertutup rapat kala melihat Maxime melambaikan tangan dengan menarik ujung bibirnya tersenyum.
Pria itu pun tak jadi marah, malah kembali mengayuh bebek hijau nya menjauh dari bebek Maxime dan Milan.
"Dia kan Tuan Maxime itu kan?" bisik perempuan di bebek hijau itu kepada kekasihnya.
"Iya, sudah kita pergi sajalah!" sahut pria tersebut.
Milan menghembuskan nafas. "Maxime kasihan sekali mereka ... pasti malu karena tidak jadi bercium*n."
"Biarkan saja," sahut Maxime terkekeh pelan.
"Huh, kalau ada yang menganggu kita berci*man di sini pasti kau marah ..."
Maxime menoleh. "Kau mau berci*man di sini?"
"Hah?" Milan lalu menggeleng. "Tidak ..."
Maxime tersenyum menggoda. "Jangan bohong ..."
"Tidak Maxime ..." Milan memundurkan wajahnya kala Maxime mendekatinya.
"Maxime di sini banyak orang!" Milan melebarkan matanya dengan menutup mulut Maxime menggunakan tangan nya.
Maxime menepis pelan tangan Milan dengan menyunggingkan senyumnya lalu menarik ceruk leher Milan dan menc*um nya di atas bebek-bebek kan warna kuning.
BRUKH
BRUKH
Maxime melepas cium*n nya kala bebek nya di tabrak dua kali oleh bebek orang lain dari belakang.
Maxime menggeram kesal menoleh ke belakang.
"Hai kak ..." Miwa melambaikan tangan dengan tersenyum bersama Arsen yang duduk di sampingnya. Pria itu pun menyunggingkan senyumnya melihat Maxime.
"Miwa ..." tatapan Maxime perlahan melunak tak jadi marah melihat orang yang menabraknya adalah Miwa dan Arsen.
Milan ikut menoleh mendengar suara Miwa. "Kenapa kalian di sini? kau juga, harus nya di kantor kenapa di sini?!" tanya Maxime kepada Arsen.
"Aku juga mau naik bebek warna kuning," sahut Arsen dengan nada meledek karena ini kali pertama melihat Maxime mau naik bebek-bebek kan.
Berbeda dengan Arsen yang pernah naik bebek-bebek kan saat remaja bersama Miwa dan Tessa. Milan dan Miwa hanya tersenyum.
Bersambung