The Devil's Touch

The Devil's Touch
#219



"KATAKAN!!" sentak Maxime.


"Aku tidak pernah berpikir mencari masalah denganmu, Maxime," ucap Aberto dengan berusaha melepaskan tangan Maxime dari lehernya.


"Istriku berselingkuh dengan Felix, dia ingin aku membantu Felix melenyapkanmu ... tapi ternyata Felix malah mati dan membuat istriku depresi, dia terus memintaku balas dendam kepadamu sampai aku bertengkar dengannya dan tidak sengaja membunuhnya, seandainya saja aku menuruti keinginan istriku untuk balas dendam kepadamu, dia pasti masih hidup."


Aberto mencoba menjelaskan walaupun sebenarnya kenyataannya bukan seperti itu. Ia tidak mungkin mengatakan jika Recobra menyerang Yakuza karena alasan Magma yang ingin mewujudkan keinginan Ibunya.


Jujur saja Aberto sendiri tidak pernah berpikir mempunyai masalah dengan Yakuza dan Antraxs. Dari awal berniat membantu Felix hanya alibi belaka, Aberto berharap Felix mati tapi bukan di tangannya karena ia tidak mau Rhea membenci dirinya, matinya Felix sebuah kemenangan besar untuk Aberto, ia pikir setelah Felix tidak ada, ia bisa hidup bahagia bersama Rhea dan Magma. Tapi ternyata istrinya tetap memilih Felix.


Dan penyerangan Recobra kepada Yakuza atas perintah Magma yang ingin mewujudkan keinginan Ibunya yang di cintai anak itu, Aberto tidak bisa melarang karena Magma berpikir dirinya sudah mati. Dan lagi, Magma kelak akan menjadi pemimpin Recobra, anak itu harus belajar mengambil keputusan dari sekarang walaupun keputusannya sangat salah.


Smith sudah mati, tapi Aberto tahu Magma masih hidup. Karena Magma memakai jam tangan pendeteksi jantung, yang dimana jika jantung Magma berhenti berdetak maka jam tangan yang di pakai Aberto akan memberikan sinyal merah yang berkedip. Dan jam tangan itu tidak memberikan sinyal apapun.


"Recobra ada di urutan terakhir kelompok mafia di dunia. Apa kau tidak sadar, kelompok mafia yang kau dirikan itu sangat lemah, Aberto? semua hal yang kalian lakukan sangat ceroboh dan membawa malapetaka untuk anak buahmu sendiri ..."


Tapi aku yakin, kelak Magma akan merebut semuanya darimu Maxime ... batin Aberto.


"Aku tidak perduli, yang terpenting aku sudah berusaha untuk membalaskan dendam istriku!!"


"Sudah tau istrimu selingkuh kau masih membantunya ... cih, menyedihkan!!" Maxime mendorong tubuh Aberto.


Kemudian Maxime menodongkan pistol ke kepala Aberto.


"Karena ulah cerobohmu, kau kehilangan banyak anak buah dan tidak ada yang menjagamu Aberto. Ini sangat mudah untukku mengirimmu ke akhirat untuk menyusul istrimu itu ..."


"Lakukan saja, kau tidak akan selalu berjaya dalam hidupmu Maxime. Kau akan merasakan kehancuran suatu saat nanti ..."


Aberto menyeringai tajam, seringai yang di sertai ledekan di wajahnya dan hal itu membuat Maxime geram dan akhirnya menembak Aberto tepat di dada nya.


*


Tidak ada yang tahu kemana Magma pergi setelah masuk ke kamar Aberto. Sebenarnya ada ruangan lain yang ada di kamar Aberto. Di belakang lemari baju ada sebuah ruangan besar yang isinya seperti kamar, lengkap dengan dapur dan juga lemari makanan.


Tadi Magma masuk ke kamar Aberto, kemudian menekan tombol di jam tangannya dan dengan otomatis lemari pakaian itu bergeser ke kanan, Magma pun masuk bersembunyi di ruangan itu, secara otomatis lemari kembali tertutup.


Jam tangan itu selain pendeteksi jantung juga kunci ruangan tersembunyi di kamar Aberto. Yang Magma tahu jam tangan itu hanya kunci ruangan rahasia, ia tidak tahu jam tangan itu juga pendeteksi jantung.


Tit tit tit.


Jam tangan itu berbunyi dengan kedipan sinyal berwarna merah, tanda jantung Aberto berhenti berdetak. Tapi sayang Magma tidak mengetahui hal tersebut, ia hanya mengusap jam tangan itu dengan ibu jarinya.


Magma akan diam di ruangan itu selama beberapa hari, sampai kondisi aman dan Maxime tidak mencari dirinya lagi. Toh dia juga tidak akan kelaparan, banyak makanan di ruangan itu, juga buku-buku yang bisa ia baca untuk menghilangkan rasa bosan nya.


Sampai akhirnya tiga hari kemudian, ia mendengar suara perempuan memanggil-manggil dirinya.


"Tuan muda ..."


"Tuan muda ..."


"Tuan muda ... bisakah kita berbicara."


"Tuan muda, jangan takut, aku adik Smith ..."


Perempuan itu sempat mundur beberapa langkah kala melihat lemari pakaian bergerak sendiri ke kanan. Lalu ia melihat Magma berdiri di sana dengan datar.


"Tuan muda ..." gumamnya.


Magma berjalan menghampiri perempuan itu. "Siapa kau?" tanya nya.


Perempuan itu duduk dengan menumpu kedua lututnya untuk mensejajarkan tinggi nya dengan Magma.


"Tuan muda, perkenalkan, aku Lail ... aku adik Smith."


"Untuk apa kau kemari?"


"Aku datang sejak kematian kakakku Tuan muda, aku membantu mengurusi jenazahnya. Dan aku kesini untuk menggantikan kakakku mengurusi perusahaan dan juga mengurusi keperluanmu ..."


Magma tidak menjawab, ia berbalik untuk kembali ke ruangan tadi. Tapi Lail menahannya.


"Smith meninggalkan sesuatu untukmu Tuan muda ..."


Magma kembali berbalik. "Apa?"


"Ini ..." Lail memberikan buku kepada Magma. Magma mengambilnya, membolak-balikan buku itu di tangannya lalu kembali masuk ke ruangan.


Lail menghela nafas setelah melihat lemari itu tertutup kembali.


"Dingin sekali anak itu," gumamnya.


Lail, perempuan muda yang baru berusia dua puluh tahun. Dia adik satu-satunya Smith, ia juga kenal dengan Aberto dan Rhea. Lail banyak mengenal keluarga Aberto dan juga dia cukup pintar tentang bisnis, Smith selalu mengajari nya. Walaupun usianya masih sangat muda, otaknya cerdik.


Bersembunyi