
Elena dibawa paksa untuk memasuki rumah kediaman Jhonson. Begitu tiba di depan Maximilian, wanita itu sengaja di dorong sehingga terjatuh tepat di bawah kaki pria itu.
"Brengsek." Elena mengumpat saat lututnya membentur lantai dengan keras.
"Wanita bodoh. Sayang sekali kau sudah tertangkap sebelum menyelesaikan misimu." Maximilian tersenyum sinis. Tikus kecil sudah masuk ke dalam perangkap, sekarang apa yang akan dia lalukan untuk memberi hukuman pada tikus nakal itu.
Elena mengepalkan kedua tangannya saat mendengarkan ucapan Maximilian yang mengejek.
"Kau! Berani sekali kau menculikku." Elena berucap dengan marah. Ditatapnya netra kehitam-hitaman milik Maximilian dengan tajam.
"Kau lupa kejadian malam itu Nona Meyer?" Maximilian melipat kedua tangannya, pria itu bersandar pada meja kerjanya. Sepertinya wanita itu telah melupakannya. Dia tidak akan membiarkan Elena begitu saja, wanita itu telah lancang mencari masalah dengannya.
Ingatannya berputar pada kejadiaan malam itu. Tepatnya pada malam di mana dia hendak menculik Maximiliano di bar New York. Dan sialnya dia melakukan kesalahan, sehingga rencananya itu tidak berhasil.
"Tidak. Aku tidak akan pernah melupakan wajahmu s*alan." Elene melotot. Ingin sekali dia memukul Maximilian yang sialnya berwajah tampan.
"Kau tahu kenapa aku menculikmu?" tanya Maximilian.
Elena berdecak. "Jika aku tahu, kau tidak akan bisa menculikku bodoh."
Maximilian menggeram tertahan. Wanita itu benar-benar pandai membalas ucapannya.
"Dom!" Maximilian memberikan kode pada Dominic yang langsung di angguki oleh pria itu.
"Kau hanya perlu menanda tanganinya, Nona." Dominic menyerahkan sebuah map pada Elena.
Elena mendelik. Namun, dia tetap menerimanya. Map dibuka, bola matanya memincing saat membaca isi map.
"Che cosa?"
Apa-apaan ini. Beraninya Maximilian menjadikannya seorang budak. Di dalam map tertulis, pihak dua Elena Meyer bersedia terikat kontrak kerja sama dengan Maximilian Jhonson selama dua tahun. Pihak dua harus mematuhi setiap perintah pihak satu tanpa terkecuali. Jika melanggar, pihak dua dikenakan denda sebesar 100 juta Euro.
Jika begini dia yang dirugikan sebagai pihak dua.
"Aku tidak mau." Elena melemparkan map ke atas meja dengan kasar. Enak saja, dia tidak akan mau menandatangani kontrak yang diberikan oleh Maximilian. Apalagi kontrak itu tidak menguntungkan sama sekali.
"Apa kau tuli? Cepat tanda tangani." sentak Maximilian marah. Pria itu mendorong bahu Elena kasar, sehingga tubuh wanita itu terbentur dinding.
"Sudah kubilang jika aku tidak mau." ucap Elena ketus. Wanita itu tetap pada pendiriannya dan sikap keras kepalanya menurun dari sang ayah.
"Sepertinya kau tidak ingin melihatnya lagi Nona Meyer. Benar begitu Dom?" Maximilian menyunggingkan senyum miringnya saat melihat wajah pucat Elena. Tidak sulit, ternyata menjadikan pria itu sebagai umpan berhasil membuatnya menurut.
"Tunggu dulu, aku membutuhkan bukti. Kalian semua bisa saja menipuku." Elena berusaha untuk terlihat tenang. Meski dia sangat khawatir dengan kondisi Jonathan, teman sekaligus rekannya.
Elena tidak habis pikir. Dia kira Jonathan sedang disekap atau apapun, ternyata pria itu masih baik-baik saja. Menyebalkan.
"Anak buahku sudah memasang alat peledak disana, dan tombolnya ada padaku. Aku bisa menekannya kapan aku mau." ucapan Maximilian bagai batu besar yang menghantam kepala Elena. Wanita itu tercengang, ini jauh lebih berbahaya.
"Sekarang apa maumu?" Elena menghembuskan napas yang terasa berat. Benar-benar sial, seharusnya dia tidak mencari masalah dengan si brengsek Maximilian. Tapi nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa dirubah lagi semuanya sudah terlambat.
"Nona Elena harus bekerja selama dua tahun di bawah naungan Kartel Sianola. Menjadi seorang mata mata yang menyelinap di kediaman musuh dan menjaga anak buah saat melakukan transaksi." jelas Dominic saat Maximilian memberikan perintah. Pria itu cukup paham dengan lirikan bossnya.
"Kalian ingin memanfaatkanku?" ucap Elena sinis. Nyawanya sama sekali tidak berarti bagi mereka. Masuk ke dalam kandang musuh sama saja mengantarkan kematiannya. Dia tahu betul apa yang akan terjadi, kemungkinan selamat adalah lima belas persen dan sisanya dia akan mati.
"Kau pandai rupanya." Maximilian tersenyum mengejek.
"Sudahlah, aku tidak mau berdebat lagi. Berikan kontraknya akan aku tanda tangani." Elena memyerah. Kepalanya terasa pening, banyak sekali kejadian yang menimpanya hari ini. Dia tidak ingin berdebat lagi. Kontrak sudah ditanda tangani, wanita itu hendak melangkah keluar.
"Apa aku mengizinkanmu pergi?" suara Maximilian yang terdengar dingin membuat Elena menghentikan langkahnya.
"Urusan kita sudah selesai sampai disini, aku mau pulang. Sisanya kita bahas besok, aku lapar."
"Aku tidak memberimu izin untuk pergi. Aku tidak percaya padamu, kau bisa saja melarikan diri."
"Terserah kau saja. Apa kau ingin menampungku? Aku tidak keberatan asal kau memberiku makan lima kali dalam sehari."
Dominic menaikan sebelah alisnnya saat mendengarkan ucapan absurd Elena. Tak ada yang seberani itu pada bossnya selain Elena, termasuk Celine sekalipun.
"Rakus." Maximilian melangkah pergi. Bicara dengan Elena tidak akan ada habisnya dan dia malas menanggapi.
"Apa kau bilang?" Elena berteriak. Dia tidak rakus, hanya saja perutnya tidak bisa di ajak bekerja sama di jam jam tertentu.
"Akan ada pelayan yang mengantar anda untuk beristirahat Nona. Saya permisi."
Elena mendengus. Kedua pria itu meninggalkannya sendirian. Menyebalkan sekali.
Seorang pelayan menghampirinya, Elena mengikuti kemana pelayan itu membawanya.
Dan disinilah dia berada, disebuah kamar berwarna putih yang berukuran luas. Dengan balkon yang mengarah ke depan.
"Nona anda bisa membersihkan diri, semua pakaian anda sudah disiapkan di dalam lemari. Aku akan memanggilmu untuk makan malam nanti." pelayan itu mengajak Elena untuk melihat lihat isi kamarnya. Seperti menunjukan kamar mandi, ruang ganti dll.
"Baiklah, terimakasih sudah membantuku." Elena merasa sungkan saat pelayan itu melayaninya dengan baik. Seperti seorang nyonya di dalam rumah itu. Padahal dia hanya seseorang yang diculik paksa untuk bekerja pada Maximilian.
"Itu sudah tugas kami sebagai pelayan Nona. Anda tidak perlu merasa sungkan." wanita paruh baya yang terlihat masih bugar itu membungkuk. Dia berpamitan untuk pergi.