
Maxime kembali menghampiri Milan selepas berbicara dengan Arsen, pria itu langsung mengenggam tangan Milan dan membawa nya masuk ke mall.
"Maafkan aku, mungkin hanya sepatu paling murah yang ada di sini yang bisa aku belikan untukmu," ucap Maxime kepada Milan.
"Aku tidak membutuhkan nya sepatuku masih bagus," sahut Milan menunduk melihat sepatu nya.
Maxime hanya tersenyum dan mereka pun menaiki lift untuk masuk ke lantai dua tempat peralatan sekolah.
Ketika lift terbuka ternyata mall hari ini begitu padat, orang-orang banyak yang berbelanja untuk keperluan sekolah anak-anaknya.
Maxime dan Milan keluar dari lift pria itu masih mengenggam tangan Milan dengan pandangan menerawang.
Ia mendengus lalu menoleh ke arah Milan dan berbisik. "Aku ingin ke kamar mandi sebentar. Tunggu di sini."
Milan mengangguk dan Maxime pun bergegas ke kamar mandi setelah mengelus puncak kepala gadis itu.
Selama Maxime ke kamar mandi Milan hanya berjalan melihat-lihat harga tas, sepatu dan peralatan sekolah lain nya.
Tiba-tiba ada suara keras yang menyuruh semua para pengunjung untuk pergi dari mall.
"Perhatian kepada para pengunjung mall XX kami meminta maaf atas berita yang tidak menyenangkan ini ... tapi mall XX hari ini akan tutup di karenakan ada kepentingan lain dari direktur Mall, kami harap dalam waktu lima belas menit semua pengunjung bisa pergi dari Mall. Sekali lagi kami memohon maaf dan meminta pengertian nya."
Semua pengunjung pun bersorak tidak terima, karena sebagian dari mereka ada yang baru sampai dan belum membeli peralatan apapun.
Milan pun celengak-celinguk mencari keberadaan Maxime kala beberapa pengunjung sudah masuk ke dalam lift untuk keluar dari Mall.
Dan tak lama kemudian Maxime menghampiri Milan.
"Kita harus pergi, mall nya akan segera tutup."
Maxime mengangguk dan ketika mereka berbalik, seorang pria dengan beberapa anak buah nya datang menghampiri Maxime.
"Maxime ..."
Maxime menoleh ke arah suara. "Tuan Peter ..." sapa Maxime dengan senyuma tipis.
"Apa kabar?" tanya nya seraya mengulurkan tangan.
"Baik," sahut Maxime berjabat tangan dengan peter.
"Kau masih membuka petshop di desa X Maxime?"
"Tentu saja, hanya petshop itu penghasilanku."
Peter mengangguk sementara Milan hanya menatap bergantian kedua pria itu.
"Oh iya, Miska sudah sembuh sekarang."
"Mi-miska? siapa Miska?"
Peter berdehem. "Kucingku ... Miska kau lupa," sahut Peter seraya menatap tajam Maxime.
Maxime pun terkekeh pelan. "Oh iya, saya senang mendengarnya kalau Miska sudah sembuh Tuan peter."
"Kepar*t kenapa tidak memberitahu nama kucingnya di telpon tadi!!" batin Maxime.
"Si bod*h yang menyuruhku berakting tapi dia sendiri yang lemot!!" batin peter.
"Eummm ... begini Tuan, eh maksudku Maxime ... aku ingin sedikit memberimu hadiah karena obat dari petshopmu sangat bagus untuk Miska, kucingku."
"Tidak perlu Tuan ..."
"Jangan menolak pemberian dari orang kaya sepertiku!!" sahut Peter seraya terkekeh pelan lalu menoleh ke arah Milan.
"Oh jadi ini ..." Peter memandang Milan dari atas sampai bawah, Milan yang tidak mengerti menoleh ke arah Maxime.
"Jadi gadis ini yang membuat Maxime meminta seluruh pengunjung keluar hanya untuk mencari sepatu!!" batin Peter.
"Jangan melihatnya seperti itu Tuan Peter!!" ucap Maxime datar tapi penuh penekanan.
Peter langsung mengerjapkan matanya yang terlalu fokus dengan Milan lalu kembali menoleh ke arah Maxime. "Ah maafkan aku ... aku tidak sadar tadi."
"Aku ..." Milan hendak mengambil uluran tangan Peter tapi di dahului oleh Maxime. Alhasil Maxime yang berjabat tangan lagi dengan Peter.
"Dia Milan siswa di SMA Ganesha."
Milan menaikkan satu alisnya kala melihat Maxime yang malah berjabat tangan kembali dengan Peter. Sementara Peter hanya menghela nafas dengan menggeleng kecil lalu melepaskan jabatan tangan nya, sikap posesif Maxime tidak ada duanya. Dan Maxime, masih menatap tajam Peter seakan tidak terima pria itu mengajak Milan berkenalan.
"Baiklah, kalian berdua boleh membeli barang apapun yang kalian inginkan. Dan gratis," ucapnya dengan tersenyum tipis.
Milan sedikit membulatkan mata mendengar kata gratis dari direktur mall langsung.
"Milan cari sepatu yang kau inginkan, aku akan menyusul nanti. Aku ingin berbicara dulu dengan Tuan Peter," ucap Maxime pelan dan Milan pun hanya mengangguk lalu berjalan meninggalkan mereka.
Melihat Milan pergi Peter segera melangkah lebih dekat dan berbisik. "Max dia masih kecil dan tidak sexy!!"
"A-akkhh!!" Peter tiba-tiba meringis kesakitan memegang perut bagian kiri nya karena Maxime dengan sengaja menyetrum perut Peter dengan stun gun yang ia bawa karena berani mengajak Milan berkenalan dan mengatakan Milan tidak Sexy, apa perdulinya Maxime soal itu.
"M-Max ... kau ... gi-la!!"
"Ada apa?" Milan berlari kecil dengan panik menghampiri mereka dan Maxime segera memasukan kembali stun gun ke saku nya.
Peter menggeleng dengan masih memegang perutnya yang masih keram. "Ti-tidak, asam lambungku hanya kambuh Nona."
Maxime pun pura-pura baik dengan memegangi tubuh Peter.
"Kalian kenapa diam? asam lambung Tuan kalian kumat, bawalah ke rumah sakit!!" ucap Maxime.
Para anak buah pun seketika membantu Maxime memegangi Peter dan sebelum Peter di bawa pergi Maxime sempat berbisik. "Jaga perkataanmu atau aku keluarkan jantung di tubuhmu itu!!"
Peter pun berjalan dengan tertatih, pria itu berusaha untuk tegak tapi sedikit sulit karena perutnya masih keram. Ia hanya di bantu oleh beberapa anak buahnya, yang sebenarnya anak buah Maxime.
"Maxime dia ..."
"Sudah jangan di pikirkan, lebih baik kita cari sepatu untukmu."
Maxime pun membawa Milan memilah-milah sepatu yang bagus untuk gadis itu.
Peter adalah Sekretaris Maxime sama seperti Arsen. Beda nya Peter mengurus sesuatu yang di butuhkan di mansion Maxime dan Peter juga sahabat Maxime sama seperti Jack.
Terkadang Maxime hanya satu tahun sekali pulang ke mansion nya, pria itu lebih sering di petshop atau menginap di mansion Ayahnya.
Mungkin orang lain akan bertanya mengapa Maxime membuat mansion yang begitu luas tapi jarang di tempati, jawaban nya semua fasilitas mahal nya hanya bentuk apresiasi dari kerja keras nya sendiri.
Walaupun perusahaan De Willson group merupakan perusahaan turun-temurun tapi dari tangan Maxime lah perusahaan itu berkembang lebih cepat di banding berada di tangan Javier dulu.
Peter duduk di dalam mobilnya di garasi, ia menyenderkan punggungnya di kursi mobil seraya menghela nafas beberapa kali. Perutnya tidak terlalu sakit dan tidak keram lagi sekarang.
Pria itu pun menelpon Arsen.
"Jangan menganggu waktuku!!" ucap Arsen yang ada di kantor.
"Tunggu dulu sebentar ... aku ingin menanyakan sesuatu."
"Apa?"
"Apa gadis yang di bawa Max itu benar kekasihnya? maksudku kenapa selera nya seperti itu!!"
Arsen berdecak. "Hati-hati kalau bicara, atau aku akan keluarkan jantung dari tubuhmu itu!!"
Arsen pun mematikan panggilan nya membuat Peter termangu bingung menatap ponsel di tangan nya.
Dia lupa seharusnya kalau mau menggosipkan Maxime bersama Jack bukan Arsen. Arsen tidak ada bedanya dengan Maxime.
Dengar saja perkataan Arsen tadi, sama dengan apa yang di katakan Maxime. Sama-sama ingin mengeluarkan jantung Peter.
Anggap saja Maxime ginjal kanan dan Arsen lah ginjal kiri nya. Apapun yang terjadi Arsen pasti memihak kepada Maxime. Anggap saja Arsen adalah bayangan yang tidak akan meninggalkan Maxime. Sedikit aneh tapi memang itu kenyataan nya, dari kecil tumbuh dan nakal bersama membuat mereka saling memihak satu sama lain.
Terkadang Peter berpikir konyol kalau Maxime dan Arsen saudara kembar beda rahim.
Bersambung