
Setelah dari gubuk kecil itu mereka kembali pulang ke petshop, tapi bukan dengan Mobil butut Maxime melainkan berjalan kaki menyusuri jalanan kawasan kebun teh yang sejuk.
Mereka tidak jalan berdampingan, Milan berjalan di depan Maxime sementara pria yang kini sedang menenteng banyak kantung belanjaan berjalan santai di belakang Milan.
Milan sudah menawari bantuan untuk menenteng sebagian kantung belanjaan mereka tetapi Maxime menolak.
Gadis itu sesekali menendang kerikil kecil di aspal hitam yang menghalangi langkahnya, ia tidak berani menoleh ke belakang ke pria yang menci*m nya tadi.
Ada rasa malu dan kesal karena pria itu tiba-tiba menci*m nya. Sementara di belakang tubuh gadis itu Maxime tengah tersenyum menatap punggung Milan, walapun tidak bisa melihat wajahnya ia sudah bisa menebak kalau Milan sedang mengerucutkan bibirnya kesal. Dan itu membuat Maxime gemas sendiri sampai ingin menci*m lagi bibir Milan.
Terlihat Milan menghela nafas, helaan nafas itu membuat Maxime salah paham. Ia pikir Milan kelelahan karena harus berjalan untuk sampai ke petshop nya, alhasil pria itu pun berjalan sedikit cepat melewati Milan lalu berjongkok membelakangi tubuh Milan di depan sana.
Milan mengernyit. "Sedang apa?"
"Naiklah, aku akan menggendongmu," sahut Maxime menoleh ke belakang.
"Tidak ... tidak perlu. Aku berjalan saja."
"Kau pasti kelelahan."
"Tidak, aku tidak kelelahan."
"Cepat naik saja, aku tidak akan berdiri sampai kau naik ke punggungku," sahut Maxime menatap wajah Milan di belakang tubuhnya.
"Bangunlah, jangan seperti itu."
Milan pun berjalan melewati Maxime begitu saja. Sudah tujuh langkah gadis itu berjalan di depan Maxime dan ketika menoleh sesaat ke belakang ia mendengus kala melihat Maxime masih dalam posisi jongkok.
"Aku sudah bilang, aku tidak akan berdiri. Jadi cepatlah kemari."
Dengan langkah kesal gadis itu berjalan menghampiri Maxime dan terpaksa naik ke punggung pria itu, Maxime hanya tersenyum simpul.
Pria itu pun perlahan berdiri dengan Milan di gendongan nya.
"Apa kau tidak kesulitan dengan barang-barang itu?" tanya Milan seraya menunduk melihat Maxime mencantelkan kantung belanjaan di jari-jemari nya.
"Tidak."
"Kemari, biar aku yang pegang." Tangan Milan yang semula ada di leher Maxime pun terulur ke bawah untuk mengambil sebagian kantung belanjaan itu tapi Maxime segera mencegahnya.
"Jangan melakukan apapun. Diam saja."
Perkataan Maxime datar tapi seperti perintah yang tegas agar Milan diam di gendongan nya.
Milan pun kembali menarik tangan nya yang terulur dan kembali melingkarkan nya di leher Maxime.
"Maafkan aku dan Oyo. Karena kau harus kelelahan karena Oyo mati."
"Hah? Oyo? siapa Oyo?"
"Mobil bututku," sahut Maxime.
Milan menahan senyum nya. "Kau memberikan mobil itu nama."
"Tentu saja, awalnya nama dia Mobil butut tapi aku menggantinya menjadi Oyo."
Milan terkekeh pelan dan Maxime tersenyum kala mendengar tawa Milan.
"Nama yang aneh," tutur Milan.
"Dari kecil aku suka menamai binatang dan barang-barang berharga milikku. Seperti aku menamaimu ... little cat."
Memberi tempat tinggal, memberi pekerjaan, uang saku sampai membayar tunggakan sekolahnya. Kalau pun keluar dari petshop Maxime dimana ia harus tinggal nanti.
Mereka pun sampai di petshop, Maxime menurunkan Milan di depan petshop nya lalu membuka kunci pintu.
Keduanya melenggang masuk ke dalam petshop, Milan masuk ke kamar mandi sementara Maxime menyimpan kantung belanjaan nya di atas ranjang nya yang sempit.
Ia mendengus seraya memercak pinggang menerawang kamarnya sendiri yang baru sadar kamarnya begitu sempit. Padahal dulu Maxime tidak mempermasalahkan soal kamar sempit ini karena hanya dirinya sendiri yang tingal di petshop.
Tapi ketika Milan datang, ia berpikir untuk memperluas petshop nya seperti yang keluarga nya minta. Tapi bukan karena menuruti keinginan keluarganya, pria itu berpikir bisa tidur berdua bersama Milan di kamar ini.
Ya, walaupun belum tentu Milan mau tidur berdua bersama nya.
*
Sementara itu di sebuah kantor polisi dua orang paruh baya sedang melaporkan seseorang dengan tuduhan penculikan dan penganiayaan.
Sani, Ibu kandung Milan mendorong ponselnya di meja kepada polisi pria di depan nya.
"Ini sebagian bukti kalau pria itu menampar saya di depan SMA Ganesha, Tuan."
Polisi itu pun dengan ragu mengambil ponsel Sani dan melihat video yang di ambil dari cctv di depan SMA Ganesha.
Sani dan Rio saling menatap berharap laporan nya terhadap pria yang membela Milan hari itu dapat di terima.
Di video itu terlihat Maxime menampar Sani, tapi hanya sampai di situ. Tidak ada video Maxime berjalan ke mobilnya lalu pergi meninggalkan Sani, Rio dan Milan hari itu.
Sudah jelas, Sani memotong sebagian video tersebut agar terlihat Maxime benar-benar menculik anaknya dan melakukan kekerasan kepada dirinya.
"Saya yakin Tuan, anak saya di sekap oleh pria itu. Kalau sampai anak saya ada di rumah pria itu, itu artinya anak saya benar-benar di culik. Karena sudah hampir seminggu anak saya belum pulang," ucap Sani dengan suara rendah dan tampang sendu menatap polisi di depan nya.
Rio mengusap pundak istrinya seolah-olah sedang menenangkan Sani padahal kenyataan nya mereka berdua sedang berakting saja dan hanya tidak terima dengan sikap kasar Maxime.
Dan video itu pun di dapat dari satpam di sekolah Milan.
"Apa kalian tau siapa namanya?" tanya polisi itu.
Sani dan Rio menggeleng. "Tidak, Tuan. Tapi polisi sepertimu saya yakin cukup pintar untuk menemukan wajah pria yang ada di video tersebut."
"Kami akan melakukan pencarian pria ini, tapi pria ini belum di tetapkan menjadi tersangka. Kita dengar kesaksian dari dia dulu nanti."
Sani dan Rio pun mengangguk setuju.
*
Milan keluar dari kamar mandi, menggeringkan rambutnya dengan handuk.
Maxime yang sedang menuangkan makanan untuk Blacky tak sengaja melihat tubuh Milan yang di baluti kaos polos putih dan celana jeans hitam. Masalahnya pakaian itu terlihat ketat di tubuh Milan membuat dada Milan membusung di balik baju.
Maxime menelan saliva nya susah payah, dada Milan sangat jauh dengan milik para pelac*r kelas kakap yang berada di klab malam, milik Milan terlihat kecil tapi sedikit menonjol saja. Wajar, mungkin karena Milan masih terbilang remaja.
Walau begitu, tubuh Milan berhasil membangunkan gair*h Maxime di bawah sana.
"Ada apa?" tanya Milan yang sadar dengan Maxime yang melihatnya tanpa berkedip dengan mulut terbuka sedikit.
Maxime pun langsung mengerjapkan matanya malu. "Tidak," sahut Maxime lalu kembali fokus ke mangkuk blacky yang ternyata makanan di mangkuk nya sudah sangat penuh sampai tumpah kemana-mana.
Maxime tidak sadar menuangkan makanan blacky terlalu banyak.
Bersambung