The Devil's Touch

The Devil's Touch
#45



"Miw ambilkan berkas di laci ke tiga," titah Arsen tanpa mengalihkan pandangan nya dari laptop, jari nya terus mengetik di atas keyboard.


"Miwa tolong ambilkan berkas di laci ke tiga," ulangnya lagi karena tidak ada jawaban dari Miwa.


Ketika ia menoleh, Arsen menghela nafas melihat Miwa tidur di sofa dengan sisa makanan yang berantakan di atas meja, ada laptop juga yang di pakai untuk Miwa menonton film, ada beberapa cat kuku berserakan.


Miwa selalu meminta pekerjaan kepada Arsen, ia bosan hanya duduk saja di kantor tapi Arsen terus saja menyuruh Miwa untuk menonton film dan makan saja sambil menunggu dirinya selesai.


Arsen beranjak dari duduknya menghampiri Miwa dan menggendong tubuh perempuan itu ke dalam kamar khusus di kantor yang biasa di pakai Arsen jika tidak pulang ke mansion.


Di baringkan tubuh Miwa di ranjang itu, Arsen melepas heels yang di pakai Miwa lalu menyelimuti tubuh gadis itu sampai ke perut, ketika hendak pergi dari kamar, Miwa tiba-tiba mengigau.


"Mau punya anak ..."


Arsen yang hendak pergi pun kembali berbalik dan duduk di samping Miwa. Ia menatap intens adiknya yang tampak terlelap lagi setelah mengingau menginginkan seorang anak.


Ada rasa kasihan di hati Arsen melihat Miwa yabg tak kunjung menikah hanya karena banyak peraturan dari Maxime untuk pria yang akan menikahi adiknya ini. Maxime yang keterlaluan posesif harus membuat Miwa kesepian seperti ini dan mungkin Tessa merasakan hal yang sama.


Rasa kagum pun muncul di hati Arsen melihat sikap Miwa yang tetap baik dan menurut kepada Maxime walaupun banyak kekangan dari pria itu. Miwa selalu menyayangi kakaknya walaupun terkadang bertengkar, tapi tidak lama mereka kembali baikan dan pasti selalu Miwa yang meminta maaf kepada Maxime.


"Kakakmu memang benar-benar sial*n Miw," ucap Arsen seraya mengelus rambut yang menghalangi wajah Miwa.


*


Setelah membiarkan Miwa tertidur Arsen melakukan meeting di ruangan lain bersama klaen baru dari perusahaan yang akan bekerja sama dengan De Willson group dan pastinya sudah dapat izin dari Maxime, ia tidak mau salah bekerja sama dengan seseorang lagi karena dulu sempat gagal bekerja sama dengan Felix karena Maxime menolaknya.


Ia berjalan di lorong setelah selesai meeting dan bertemu dengan beberapa pekerja yang membungkukan badan sopan kala melihatnya.


Ponselnya berdering dan itu telpon dari Javier. Arsen langsung mengangkat telpon nya seraya membuka knop pintu ruangan nya. Arsen duduk di sofa berbicara santai dengan Javier.


"Iya, Daddy Javier?"


"Bagaimana putriku, apa dia menyusahkanmu?"


"Tidak, Dad. Dia sedang tidur sekarang."


Javier meninggikan suara nya. "Apa?! kenapa dia malah tidur, dia merengek supaya bisa kerja di perusahaan tapi di sana dia malah tidur. Memang benar-benar anak itu ya!"


Arsen terkekeh kecil. "Tidak apa, Dad. Ini hari pertama nya bekerja jadi aku tidak mau dia kelelahan."


"Jangan memanjakan nya, Ar. Cobalah untuk tegas seperti Maxime, kau selalu bersikap lembut terhadap Miwa dan Tessa."


"Kalau aku sama seperti Maxi, Miwa dan Tessa mau lari kemana kalau di marahi Maxime, Dad. Dari kecil mereka selalu mengadu kepadaku ketika Maxime marah."


"Ah kau benar, Ar. Dua perempuan itu selalu mencari perlindungan kepadamu ketika Maxime marah, seharusnya mereka berlindung kepada Daddy, bukan. Tapi kalian dari kecil suka sekali menyelesaikan masalah berempat saja tanpa melibatkan kami."


Arsen tersenyum. "Itu karena kami tidak mau menyusahkan kalian."


"Baiklah kau lanjutkan saja pekerjaanmu, Daddy mau menelpon Maxime dulu. Oh iya, pastikan Tessa baik-baik saja di mansion ya, Ar."


"Siap, Daddy Javier!"


Panggilan pun terputus, Arsen melepas sepatu nya dan tiduran di sofa untuk menghilangkan penatnya sebentar.


Sementara itu Maxime sedang jalan-jalan di lorong sekolah, ia hendak pergi ke perpustakaan. Bukan untuk membaca, pria itu mau mengambilkan buku paket matematika untuk Milan, ia akan memberikan tugas tambahan di petshop nanti.


Suasana perpustakaan masih sepi karena memang semua murid sedang belajar, hanya ada satu pria yang menjadi penjaga perpus sedang duduk membaca novel.


Ketika masuk ponsel Maxime berdering dan terlihat nama Daddy di sana. Maxime pun segera duduk di pojokan untuk mengangkat telpon.


"Ya, Dad?"


"Maxi kau dimana? petshop?"


"Hmm."


"Ada hal penting yang ingin Daddy bicarakan denganmu dan Miwa."


"Bisakah kau datang ke sini?"


"Kau bisa bicara sekarang, Dad "


Javier berdecak. "Kau tidak merindukan mommy mu?! susah sekali menyuruhmu datang ke mansion Daddy!!"


"Aku akan datang nanti malam," sahut Maxime.


"Baguslah, bawa Tessa juga Dad merindukan nya."


Maxime hanya menjawab dengan deheman.


"MUKLIS!!" Teriak Pak Asep.


Maxime menoleh ke arah pintu.


"Astaga Muklis kenapa kau di sini!!" Pak Asep berjalan menghampiri Maxime.


"Maxime siapa itu?" tanya Javier mendengar teriakan seseorang.


"Eh Muklis ayo bantu angkut kursi ke kelas atas!"


"Hallo Maxi ... siapa itu? Max--"


Maxime segera mematikan telpon nya lalu mendelik ke arah Pak Asep.


"Tidak bisakah jangan mengangguku!" kesal Maxime lalu beranjak dan melengos begitu saja melewati Pak Asep.


Pak Asep hanya mengerutkan dahi bingung, apa yang salah meminta Maxime membantu dirinya mengangkut kursi murid ke kelas atas. Dia kan sama-sama bekerja di sini.


Maxime membuka cctv di ponsel untuk melihat kegiatan Milan di kelas, ia menautkan kedua alisnya kala melihat Milan yang terlihat melamun. Ada apa dengan gadis itu, pikirnya.


Sementara itu di kelas Milan tidak fokus dengan guru yang sedang menjelaskan di depan karena pikiran nya larut dengan dua kelompok mafia di negara nya. Yakuza dan Antraxs.


Milan tahu soal itu, tapi dari dulu Milan tidak terlalu perduli dengan urusan para mafia. Dia tidak pernah mencari tahu soal pemimpin Yakuza maupun Antraxs.


Tapi video pria yang bernama Javier dan memiliki seorang putra bernama Maxime cukup menganggu pikiran nya.


Apalagi soal si penerror yang mengatakan identitas Maxime ada di pergelangan tangan yang di halangi jam tangan membuat Milan semakin penasaran dan ingin melihat apa benar Maxime mempunyai lambang sayap burung garuda dan bola api merah.


Ia menghela nafas lalu menelungkupkan wajahnya di meja, pikiran nya cukup kalut sekarang.


Tapi tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kelas membuat Milan mendongak seketika. Mata nya melebar kala melihat Maxime di ambang pintu sedang berbicara dengan guru di kelasnya.


"Milan," panggil guru lelaki tersebut.


"Iya, Pak?"


"Pak Muklis bilang dia sempat melihatmu hampir pingsan di dekat kamar mandi. Apa kamu sakit?"


"Hah? sa-saya ..." Milan menoleh ke arah Maxime dan pria itu balik menatapnya.


"Kamu bisa ke UKS kalau kurang enak badan, Milan."


Alvin menyikut Tino di sebelahnya. "Milan kenapa? dia keliatan baik-baik aja."


Tino mengangkat kedua bahu nya dengan maksud dia juga tidak tahu.


"Bagaimana? mau di kelas atau UKS?" Tanya guru tersebut.


"UKS aja, Pak."


Milan pun beranjak dari duduknya, sebenarnya ia tidak niat pergi UKS tapi ada hal yang ingin ia pastikan. Soal tatto itu, semoga saja dia bisa melihat tatto di pergelangan tangan Maxime secepatnya.


Bersambung