The Devil's Touch

The Devil's Touch
#149



Aberto, Rhea dan Smith sampai di Negara X pukul lima pagi tadi. Sekarang mereka berada di hotel untuk sarapan setelah itu mereka jalan-jalan keluar.


Aberto, Rhea dan Smith kompak memakai topi bundar, kacamata dan masker untuk menutupi identitas mereka.


Mereka hanya jalan-jalan keluar untuk melihat suasana jalanan di Negara X.


"Sebenarnya kita ini mau kemana?" tanya Rhea kesal.


"Sebelum bertindak, kita harus menguasai keadaan di Negara ini dulu. Jangan gegabah," sahut Aberto.


Rhea hanya mencebikkan bibirnya kesal. Aberto melihat seorang penjual koran yang hendak menyebrang, bukan koran nya yang ia lihat tapi pergelangan tangan pria itu ada tatto bola api merah.


Mata Aberto menyipit menatap penuh selidik, bukan kah tatto itu lambang dari Antraxs.


Rhea menoleh ke arah Aberto yang mematung di tempat lalu mengikuti arah pandang suaminya. Begitupula dengan Smith.


"Kau lihat apa?" tanya Rhea.


"Sepertinya ada yang aneh," sahut Aberto.


"Tuan, biar aku tunjukan sesuatu kepadamu," ucap Smith.


"Apa?" tanya Aberto.


"Ikuti aku Tuan ..." Smith menunduk sopan lalu berjalan lebih dulu di ikuti Aberto dan Rhea.


Smith membawa mereka ke sebuah taman, banyak sekali orang yang sedang bersenang-senang di taman tersebut, ada yang mampir setelah olahraga pagi, ada yang berkumpul bersama keluarga atau teman mereka.


Mata Aberto dan Rhea menatap sekeliling taman, menurut mereka tidak ada yang aneh di taman itu.


Smith berjalan ke penjual bubur di taman, di ikuti Aberto dan Rhea.


"Pesan tiga bubur nya, makan di sini," ucap Smith kepada si penjual bubur.


"Baik, tunggu sebentar."


Aberto dan Rhea mengerutkan dahi nya bingung. Kenapa Smith malah pesan bubur.


Rhea mencubit lengan Smith lalu berbisik. "Jangan membuatku marah, Smith! kau pikir ini lelucon yang lucu!!"


Smith menghela nafas, tidak mau menanggapi ucapan Rhea. Pria itu berjalan mendekati Aberto yang berada di samping kiri Rhea, lalu Smith berbisik.


"Perhatikan leher belakangnya Tuan ..."


Mata Aberto pun perlahan tertuju ke arah leher pria penjual bubur itu, begitupula dengan Rhea yang mengikuti arah pandang suaminya.


Ketika si pria itu menunduk untuk memberi kecap di bubur yang di buatnya, Aberto justru mendapati lambang sayap burung garuda di sana. Mata Aberto melebar seketika.


"Bisa kau antar bubur itu ke kursi yang ada di sana ..." Smit berbicara kepada si penjual bubur dengan menunjuk salah satu kursi panjang di ujung taman.


Smith mengangguk lalu menoleh ke arah Aberto dan berjalan ke kursi panjang di ujung taman di ikuti Aberto dan juga Rhea.


Mereka bertiga duduk di sana. Tapi Rhea yang terlihat tidak suka dengan keramaian di taman memilih pergi.


"Aku mau membeli minum dulu," ucap Rhea pergi meninggalkan Aberto dan Smith.


Aberto acuh dengan kepergian istrinya dan memilih berbincang dengan Smith.


"Bukan kah tatto itu tidak bisa di miliki oleh orang sembarangan?" tanya Aberto.


"Ya, Tuan. Anda benar. Penjual koran dan penjual bubur di sana itu bagian dari Yakuza dan Antraxs ..."


"Apa maksudmu?" Aberto terlihat sedikit terkejut.


Aberto tidak pernah mencari tahu soal Yakuza dan Antraxs, bagaimana strategi mereka mengatur ratusan anak buahnya.


"Tuan, mereka pintar memanipulasi keadaan. Mereka pintar menyamar, dulu ketika masa kepimpinan Javier De Willson mereka di serang di sebuah hotel dan anak buahnya berubah menjadi satpam, ibu hamil, tukang bubur, OB dan masih banyak lagi ... Mereka berseteru dengan mudork dan mudork habis di tangan mereka ..."


Aberto tertawa kecut. "Lucu sekali, mudork mati di tangan ibu hamil ..."


"Ibu hamil itu laki-laki Tuan ..."


Aberto berdecak. "Ya, aku tau!"


"Jadi apa satu Negara ini isinya Yakuza dan Antraxs semua? tukang bubur itu Yakuza, penjual koran itu Antraxs ..." Aberto menunjuk pria yang menyapu di taman.


"Itu ... apa itu Yakuza juga? cih!"


Smith mengangguk. "Bisa jadi Tuan ..."


Aberto menghela nafas panjang, benar-benar tak habis pikir ada kelompok mafia yang mengubah anak buahnya menjadi tukang bubur.


Pria penjual bubur itu pun berjalan dengan membawa nampan berisi tiga mangkuk bubur untuk di antar ke ujung taman. Tapi ia berhenti kala melihat kursi panjang di ujung taman itu kosong. Pria itu celengak-celinguk mencari tiga pelanggan nya tadi.


*


Aberto, Rhea dan Smith kembali ke hotel. Smith masuk ke kamarnya yang berada di depan kamar Aberto.


Aberto duduk di ranjang sementara Rhea sedang kesulitan sendiri melepas heels yang ia kenakan.


"Nanti malam kita bertemu dengan Felix di bawah," ucap Rhea setelah berhasil melepas kedua heels nya lalu berjalan ke sofa dan duduk menyenderkan tubuhnya.


Aberto hanya berdehem sebagai jawaban lalu mengeluarkan ponsel untuk menanyakan kabar Magma kepada para pelayan.


Bersambung