The Devil's Touch

The Devil's Touch
#58



Jack, Mr Rian duduk di sofa sementara Maxime berdiri di samping Jack.


Milan dan Daffa berdiri di depan mereka semua.


"Pak Muklis, bisa keluar sebentar," ucap Mr Rian kepada Maxime karena merasa masalah dua siswa ini urusan guru dan kepala sekolah saja, bukan satpam.


Maxime mengangguk pura-pura hendak pergi tapi Jack menahan nya.


"Tidak perlu Pak Muklis, duduk saja."


Maxime pun duduk di samping Jack.


"Tuan Jack, satpam tidak perlu ikut campur," ucap Mr Rian berbisik.


"Mr Rian bisa keluar, biar masalah ini saya yang urus. Dan biarkan Pak Muklis di sini karena setelah ini saya ada urusan dengan beliau," ucap Jack seraya tersenyum kepada Mr Rian.


"Tapi tuan Jack, saya kesiswaan di sini."


"Tidak apa, Mr Rian. Saya ingin menjadi kepala sekolah yang bertanggung jawab terhadap murid-murid saya, jadi biarkan saya yang mengurus mereka."


Mr Rian tersenyum. "Tuan Jack memang dermawan."


Jack tersenyum tipis lalu Mr Rian pun beranjak dari duduknya.


PLAK


PLAK


Sebelum keluar Mr Rian memukul bahu Daffa dan Milan. "Awas kalian kalau kaya gini terus!!" ucap nya dengan mata melotot ke arah mereka berdua. Mereka hanya menunduk menekuk wajahnya.


Mr Rian pun keluar seraya menutup pintu ruang guru meninggalkan Maxime, Jack, Daffa dan Milan di ruangan.


Maxime dan Jack duduk santai kini menatap kedua siswa yang berbuat ulah di depan nya.


"Ada apa ini?" tanya Maxime.


"Dia mulai duluan Pak Muklis," sahut Daffa menunjuk Milan.


Milan mendelik. "Cctv sebagai bukti, kau yang melempar penghapus ke kepalaku, gendut!!"


"Kenapa kau melempar penghapus ke kepala Milan?" tanya Jack kepada Daffa.


"Aku hanya tidak suka Milan," sahut Daffa enteng.


"Kau pikir aku suka denganmu?!!" sentak Milan.


Maxime menekan keningnya seraya menggeleng, ia tidak mungkin marah berlebihan kepada Daffa karena melihat wajah Daffa yang babak belur oleh Milan saja ia sudah tidak tahu harus bilang apa.


"Milan, kenapa kau memukul lelaki ini?" tanya Maxime menoleh ke arah Daffa.


"Namaku Daffa, Pak Muklis," ucap Daffa.


"Aku tidak perduli namamu!" sahut Maxime.


"Sudah ku bilang dia melempar penghapus ke kepalaku," sahut Milan dengan kesal.


"Tapi tidak perlu sampai bertengkar bukan?" ucap Jack.


"Lalu harus bagaimana, aku harus diam saja?" sahut Milan.


"Tidak, melawan lebih baik," sambung Maxime membuat Jack di samping nya mendelik kesal.


"Aku lebih suka dia melawan ketika di ganggu," sahut Maxime.


"Ini lingkungan sekolah sial*n, bersikaplah bijak di sini," balas Jack pelan.


"Milan ..." panggil Maxime. Milan menoleh ke arah pria itu.


"Kalau di ganggu yang harus kau tendang itunya dia." Maxime menunjuk aset berharga milik Daffa.


Sontak Daffa menutupi aset berharga nya itu dengan tangan. "Hei, pak Muklis. Kenapa Pak Muklis jadi ikut membela Milan!!" Kesal Daffa.


"Jangan, tidak baik bertengkar seperti ini," sambung Jack berusaha menjadi kepala sekolah yang baik meleraikan dua siswa yang bertengkar ini.


"Kau dulu bertengkar lebih parah dari ini Jack," bisik Maxime kepada Jack.


"Tapi setidaknya saat sekolah aku tidak sampai membunuh teman kelasku sendiri," sahut Jack menyindir Maxime.


Maxime berdecak. "Kau ikut membuang mayatnya bersamaku, sama saja kau ikut membunuh!"


"Tidak sial*n!! kau yang membunuh!!"


"Kau juga!!" sambung Maxime.


"Kau dan Arsen!!" ucap Jack.


"Kau dan peter yang membuang mayat!!"


"Kau yang menusuk perutnya!!" balas Jack.


Daffa dan Milan hanya bisa menatap heran dua pria di depan nya, kenapa jadi mereka yang bertengkar sekarang.


"Tapi kau juga ikut membantuku, sama saja!!"


"Pak ... Pak Muklis ... Tuan Jack ..." panggil Daffa.


"Kenapa kau seakan-akan menyalahkanku, Max?!"


"Memang benar kau juga salah!" sahut Maxime.


"Pak Muklis ... Tuan Jack ..." panggil Daffa lagi yang tidak di gubris oleh Jack dan Maxime.


Milan menghela nafas dengan malas, melihat dua pria ini bertengkar.


"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan, mereka bilang mayat dan membunuh, apa maksudnya?" gumam Daffa yang mendengar perdebatan Maxime dan Jack walaupun mereka sudah berbicara pelan.


"Kau kalau manusia biasa sudah masuk penjara Maxime!" ucap Jack.


"Beruntungnya aku tidak jadi manusia biasa!" sahut Maxime merasa beruntung menjadi mafia sampai polisi saja tak berani menangkap nya.


Daffa mendesis kesal. "Pak Muklis astaga ..."


Milan mendengus lalu memilih keluar dari ruang guru, untuk apa masalah di selesaikan oleh Maxime dan Jack. Bukan selesai malah jadi menggila mendengar keributan Jack dan Maxime.


"Milan ..." teriak Maxime lalu bergegas menyusul Milan.


Dan sekarang tersisa Jack yang sedang mendelik ke arah Daffa. Daffa hanya bisa menekuk wajahnya, Milan malah kabur meninggalkan dirinya yang akan di interogasi oleh Jack sekarang.


Bersambung