
Apa yang di katakan Maxime dan Arsen memang benar adanya, Milan gadis yang masih plin-plan. Ia ingin pergi tapi terkadang masih ingat kebaikan Maxime.
Terbesit di pikiran Milan untuk mencoba kabur kembali tapi lagi-lagi kebaikan Maxime menghalangi Milan untuk melakukan niat nya tersebut. Dan juga, kemana ia harus tinggal jika keluar dari petshop ini, Milan sudah tidak mau bertemu dengan keluarga nya lagi, apalagi semenjak tinggal di petshop keluarga nya tidak pernah mencari Milan.
Ini sudah pukul satu malam, Milan masih duduk di dapur dengan segelas air di tangan nya, ia masih memikirkan soal identitas Maxime. Soal dirinya yang harus sampai kapan tinggal di petshop ini.
"Kenapa belum tidur?" tanya Maxime menghampiri Milan dan mengelus kepala gadis itu lalu duduk di samping Milan.
"Belum ngantuk," sahut Milan.
Sebenarnya malam ini Maxime harus bertemu dengan Jack di sekolah, niat nya ia akan pergi setelah Milan tidur dan akan meminta Keenan menjaga Milan selama ia pergi.
Tapi gadis itu sampai sekarang masih saja belum masuk ke kamar.
"Lapar tidak?" tanya Maxime yang berpikir mungkin Milan belum mau tidur karena perutnya keroncongan.
"Tidak," sahut Milan.
Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang meloncat ke kaki nya, Milan menjerit seraya beranjak dari duduknya menjauhi meja karena ia pikir itu tikus.
Maxime menunduk ke kolong meja lalu mengambil seekor kelinci di bawah meja.
"Maaf, ini kelinci dari Aron," ucap Maxime seraya mengelus anak kelinci di tangan nya.
Milan menghela nafas seraya mengusap dada nya, ia benar-benar phobia dengan tikus.
Maxime tersenyum. "Duduklah." Pria itu menyimpan kelinci nya di atas meja seraya terus mengelusnya.
"Kenapa dia memberikan kelinci nya?" tanya Milan.
"Dia punya empat anak kelinci, mungkin kebanyakan," sahut Maxime.
"Ohhh ..." Milan mengangguk-ngangguk lalu ikut mengelus kelinci itu.
"Siapa namanya?" tanya Milan.
"Kau boleh memberinya nama," sahut Maxime.
"Eummm ... bagaimana kalau, Bunny? Blacky, Blackbox dan Bunny ..." Milan menyebutkan nama induk kucing dan anaknya di kandang.
Maxime mengangguk. "Bagus."
Ponsel Maxime bergetar, ia membuka pesan dari Jack yang menyuruhnya cepat datang ke sekolah.
Maxime kembali menyimpan ponselnya di saku setelah membaca pesan dari Jack.
"Milan, aku harus pergi sebentar. Aku akan menyuruh uncle Keenan ke sini, oke?"
"Tidak, aku mau ikut," ucap Milan.
"Tapi ini sudah malam," sahut Maxime.
"Aku ingin membeli cemilan, memangnya kau mau kemana?" tanya Milan.
"Aku harus bertemu dengan Arsen, ini soal perusahaan ku." Maxime berbohong berharap Milan tidak mau ikut.
"Kalau begitu, aku ke supermarket saja selama kau berbicara dengan Arsen."
"Tapi ---"
*
Karena Milan yang memaksa akhirnya mereka pergi dari Petshop, Maxime memarkirkan mobilnya di depan supermarket yang jaraknya tak jauh dari sekolah Milan.
"Kenapa supermarket yang ini?ini dekat dengan sekolahku," ucap Milan.
"Jalan ini lebih dekat ke perusahaan ku," sahut Maxime.
"Ohhh ..."
"Beli apapun yang kau mau, aku akan menjemputmu nanti," ucap Maxime yang di jawab anggukan kepala dari Milan.
Milan keluar dari mobil dan masuk ke supermarket, sebenarnya ada seorang pria yang duduk di dekat pintu masuk. Dia salah satu anak buah Yakuza yang Maxime suruh untuk menjaga Milan selama dirinya berbicara dengan Jack.
Milan mengambil keranjang dan mulai mengambil beberapa cemilan dan minuman lalu berjalan ke freezer ice cream ia hendak mengambil ice cream rasa strawberry.
"Kau suka ice cream itu juga?" tanya seorang perempuan di sampingnya.
Milan menoleh ke perempuan yang berdiri di sampingnya. Cantik dan Elegan, hanya itu yang Milan lihat dari si perempuan di sampingnya.
"Aku juga suka ice cream strawberry," ucap perempuan itu. "Tapi kembaranku alergi strawberry," lanjutnya.
Milan menaikkan satu alisnya seakan heran kenapa perempuan ini tiba-tiba so akrab dengan dirinya.
"Oh." Milan menjawab singkat lalu berjalan kembali setelah mengambil ice cream.
"Tunggu ..." perempuan itu menahan tangan Milan.
"Bisa temani aku di sini? kakak ku ada di sekolah bersama teman nya."
Milan hendak menolak tapi ia juga harus menunggu Maxime menjemputnya, jadi ya sudah lah ia memilih berbincang dengan perempuan so akrab ini.
Mereka berjalan ke meja bulat yang di sediakan di dalam supermarket. Lalu duduk berhadapan dan membuka ice cream kesukaan mereka.
"Oh iya, siapa nama mu?"
"Milan."
Perempuan itu mengangguk-ngangguk lalu menyendok ice cream dan memakan nya.
"Kau?" tanya Milan.
"Aku Miw-- cantik, panggil aku cantik saja."
Milan menautkan kedua alisnya, menurutnya namanya aneh. "Cantik?"
Miwa mengangguk. "Ya, cantik. Nama panjangnya cantika."
Miwa tidak memberitahu nama aslinya untuk menutupi identitas aslinya sebagai putri keluarga De Willson atas perintah Ayah dan Kakak nya.
Sebenarnya nama belakang Miwa saja tidak memakai marga De Willson, jadi mustahil orang lain tahu.
Tapi tetap saja terkadang ia memakai nama samaran agar identitas nya lebih rahasia.
#Bersambung