The Devil's Touch

The Devil's Touch
#144



"Dulu ketika ada pertemuan antar para petinggi perusahaan walaupun kami tidak di ajak, Kak Maxi selalu memperkenalkan kami kepada rekan-rekan kerjanya. Dia selalu bilang kalau dia punya dua adik perempuan, yang satu seorang desainer perancang gaun pengantin dan yang satunya lagi seorang pelukis. Dia sangat bangga memperkenalkan kami ..."


"Milan kau adalah kekasihnya, kau bukan hanya di kenalkan kepada teman-teman nya, tapi kau pasti akan di ajak datang jika ada pertemuan itu lagi. Menurutmu bagaimana Kak Maxi memperkenalkan mu kepada teman-teman nya? kepada teman Kak Maxi yang mempunyai kekasih seorang model, pramugari, penyanyi terkenal, artis, dokter. Teman-teman Kak Maxi pasti memperkenalkan kekasihnya dengan bakat yang mereka punya. Aku hanya ingin kau mencari bakatmu agar tidak mempermalukan Kak Maxi di depan teman-teman nya ..." Tessa tersenyum lalu menepuk pundak Milan.


"Menikah nanti pakailah gaun pengantin yang di rancang oleh Miwa ..." lanjut Tessa lalu beranjak meninggalkan Milan yang mematung sendiri di tempat duduk.


Milan menghela nafas setelah kepergian Tessa, memijit pelipisnya.


"Tessa kau bicara apa lagi dengan Milan?" tanya Miwa dengan memegang jam tangan.


"Aku tidak bicara apapun," sahut Tessa.


"Berhenti berbicara menyebalkan Tessa!"


"Loh, aku hanya mengatakan dia harus punya bakat agar tidak mempermalukan Kak Maxi ... apa itu salah?"


"Salah, ibumu dan Ibuku dulu juga hanya pelayan cafe, tapi daddy kita tidak mempermasalahkan hal itu. Kak Maxi juga tidak akan mempermasalahkan Milan yang hanya gadis sekolah," kesal Miwa.


"Kau menyebalkan, kenapa terus membela dia?"


Miwa menghela nafas kasar. "Tessa apa kau masih menyukai Kak Maxi?"


"Tidak!" sahut Tessa cepat. "Aku tidak menyukainya lagi, aku sudah melepaskan Kak Maxi bersama Milan. Sekalipun mereka mau menikah besok, aku sudah tidak perduli. Silahkan saja menikah ..." Tessa mengangkat kedua bahu nya lalu pergi ke kasir untuk membayar jam tangan yang ia pilih tadi.


Miwa hanya bisa menggeleng dengan perkataan Tessa.


*


Mereka kembali ke mansion sekitar pukul sebelas malam, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di mall. Belanja baju, tas, Jam tangan, perhiasan dan Tessa yang membeli alat-alat melukis.


Sementara Milan hanya mengekor di belakang. Tidak niat membeli apapun, ia malu jika harus memakai uang Maxime di depan Tessa.


Maxime menuruni anak tangga menyambut kepulangan Milan dengan tersenyum. Tessa berjalan lebih cepat menghampiri Maxime.


"Kak Maxi ..."


Miwa dan Milan menghentikan langkahnya melihat Tessa mendekati Maxime.


"Ini aku belikan jam tangan ..." Tessa memberikan kantung coklat di tangan nya.


Dengan ragu-ragu Maxime mengambil kantung coklat tersebut. "Tessa, seharusnya kau tidak perlu membelikan Kakak ini ..."


Tessa tersenyum. "Hadiah ulang tahun ..."


"Hah? hadiah ulang tahun?" tanya Miwa.


Tessa menoleh ke belakang lalu mengangguk.


"Ulang tahunku dan kak Maxi itu dua minggu lagi Tessa, kenapa kau membelikan hadiahnya sekarang ..."


"Memangnya kenapa? aku ingin menjadi orang pertama yang memberikan hadiah ..."


Tessa berdecak. "Aku akan memberimu hadiah nanti. Sudah lah ..."


Tessa berjalan menaiki anak tangga di ikuti Miwa yang terlihat geram. Maxime menatap Milan, begitupula sebaliknya dengan gadis itu. Kemudian Milan menunduk seraya menggosok hidungnya.


Maxime berjalan mendekat. "Kau baik-baik saja?" tanya nya.


Milan mendongak kemudian mengangguk pelan. "Ya, aku baik-baik saja ..."


Maxime tersenyum tipis, menggenggam tangan Milan membawanya ke kamar. Di kamar Maxime menyimpan hadiah dari Tessa itu di meja sementara Milan duduk di sisi ranjang.


"Sayang aku sudah menyiapkan air hangat untukmu ..." Maxime mengelus kepala Milan. "Mau mandi sekarang hm?"


Milan mengangguk samar beranjak dari duduknya lalu masuk ke kamar mandi membuat Maxime mematung heran dengan sikap Milan.


*


Beberapa menit kemudian Milan keluar dari kamar mandi dengan bathrobe melekat di tubuhnya. Maxime yang sedang duduk di sofa beranjak menghampiri Milan yang duduk di meja rias.


"Tidak perlu Maxime, aku bisa sendiri," sahut Milan melarang Maxime membantu nya mengeringkan rambut.


Maxime memegang kedua pundak Milan. "Ada apa hm?"


Milan menggeleng dengan tangan menggosok rambutnya menggunakan handuk. "Kau belum tidur, ini sudah malam ..."


"Aku menunggu mu pulang ..."


Selama beberapa menit suasana hening, Milan fokus mengeringkan rambutnya dan Maxime hanya diam menatap Milan di cermin.


Setelah selesai Milan naik ke ranjangnya, tidur membelakangi Maxime. Maxime menghela nafas kasar, ikur berbaring di belakang Milan lalu menarik pinggang gadis itu.


"Sayang kau kenapa? ada masalah dengan Tessa atau Miwa?"


Milan menggeleng sebagai jawaban lalu menutup mata untuk tidur.


Maxime mengambil ponsel di meja mengirim pesan kepada Arsen untuk mencari tahu kemana saja Tessa, Miwa dan Milan pergi sekaligus menyuruh Arsen mengambil cctv di setiap tempat yang mereka datangi.


Sebelum kembali menyimpan ponselnya ada pesan masuk dari Peter.


Maxime kau tau siapa itu Recobra?


Maxime membalas.


Mereka mafia di Negara XX. Kenapa?


Peter kembali membalas.


Felix berteman baik dengan mereka. Aku baru saja menemukan foto Felix dengan seorang pria yang mempunyai tatto ular di pergelangan tangan nya. Dan tertulis Recobra di bawah tatto itu ...


#Bersambung