
Pagi ini setelah sarapan, Maxime mengantar Milan ke tempat les piano nya. Padahal Maxime sudah menyuruh Milan untuk berhenti belajar piano sementara waktu, apalagi melihat kondisi Milan yang suka tiba-tiba mual.
"Sayang, kau serius tidak mau istirahat saja di mansion?" tanya Maxime selepas memasang seatbealt nya.
Milan menggeleng. "Tidak, aku mau belajar piano. Aku malah semakin bersemangat hari ini, tidak tau kenapa."
"Yasudah, aku akan menunggu mu di luar nanti." Maxime mengelus kepala Milan, lalu menyalakan mesin mobilnya dan bergegas pergi ke tempat les piano istrinya itu.
Sesampainya di tempat les, Milan bergegas masuk. Sementara Maxime menunggu di luar, ia duduk di kursi seraya memainkan ponselnya. Kemudian Peter datang menghampiri.
"Wih, calon Ayah siap siaga," ledeknya lalu duduk di samping Maxime dan menyalakan rokoknya dengan pemantik api.
Maxime langsung menoyor kepala Peter ketika melihat pria itu, pasalnya saat Milan di culik Peter malah menjauh dari Maxime karena takut diberi hukuman.
"Masih berani bertemu denganku?!!"
"Sudahlah, baikan saja." Peter menyengir.
"Kau belum mendapatkan hukuman Peter!!"
"Kau mau menghukum aku soal apa? soal aku tidak mengikuti istrimu ke kamar mandi hari itu?"
Maxime mendesis kesal.
"Lihat, aku tidak salah kan, tidak mengikuti Milan ke kamar mandi."
"Ya tapi seharusnya lebih hati-hati untuk menjaga istriku!!"
"Ya ya maaf ... maaf ..."
"Eh, kau tau kabar Jack sekarang?"
Maxime menggeleng.
"Dia sudah menikah."
"Oh." Maxime fokus kembali ke ponselnya.
"Mau sampai kapan kau mengasingkan dia di desa itu?" tanya Peter.
Setelah pengkhianatan yang di lakukan Jack dan setelah Zivania mati, Maxime menyuruh orang untuk mengasingkan Jack dan jauh dari perkotaan tempatnya tinggal.
"Aku tidak tau, mungkin selamanya."
"Aku tau kau kesal, tapi sepertinya dia sudah berubah. Kau tau kan, dia itu playboy. Sekarang dia malah menikahi gadis polos di desa itu."
"Aku tidak perduli!" sahut Maxime.
"Ingat, dia juga teman kita!" ucap Peter lalu beranjak dari duduknya meninggalkan Maxime.
Maxime hanya menatap sesaat kepergian Peter lalu kembali membalas pesan dari Arsen untuk membahas soal pekerjaannya.
Siang hari, setelah selesai belajar piano. Milan keluar dan mendapati Maxime tengah menyusun beberapa makanan di meja yang tersedia di luar.
"Wahhh ... banyak sekali makanan." Milan begitu antusias lalu duduk bersama Maxime.
Maxime tersenyum. "Mau makan yang mana sayang?"
"Eummm ... sosis."
"Sushi mau?"
Milan mengangguk dengan mengunyah sosis di mulutnya.
Maxime pun mengambil tiga sushi ke piring kecil lalu meletakkannya di depan Milan.
"Kalau aku nanti muntah lagi bagaimana? sayang sekali semua makanan ini keluar lagi."
"Tidak apa-apa sayang, kau bisa isi lagi perutmu itu."
Milan tersenyum, kemudian melahap satu sushi di piring.
"Salmon mau?"
Milan menggeleng. "Kau saja, aku sedikit mual melihatnya."
"Yasudah, salad saja." Maxime memberikan salad buah kepada Milan.
Mereka makan berdua di depan tempat les Milan, bercanda dan tertawa satu sama lain. Sampai akhirnya ketika sore hari, Maxime membawa Milan ke sebuah desa.
"Ini kemana? jalan ke petshop tidak ke sini."
Milan menatap ke luar jendela, jalanan yang cukup asing. Rasanya baru pertama kali Milan melihat daerah ini.
"Kita jalan-jalan sebentar sayang."
Mobil berhenti di salah satu gerbang yang besar dan tinggi. Suasana di sana sangat sepi, bahkan terlihat tidak ada tanda-tanda kehidupan, selain banyaknya pepohonan di sepanjang jalan.
Milan mengedarkan pandangannya, ia hanya bisa melihat pohon yang menjulang tinggi saja.
"Ini dimana?"
"Ayo sayang ..." Maxime menggenggam tangan Milan.
Maxime menekan tombol merah di gerbang itu kemudian gerbang itu terbuka lebar. Dan ketika gerbang terbuka, Milan melihat beberapa rumah panggung dan ada beberapa anak kecil yang sedang bermain.
Pandangan anak kecil itu langsung tertuju ke arah Milan dan Maxime. Antara anak kecil dan Milan saling menatap penuh tanda tanya, karena ini kali pertama mereka bertemu.
"Ayo ..."
Maxime mengajak Milan masuk, berkeliling ke desa tersebut. Desa yang sangat jauh dari perkotaan dan desa yang di sembunyikan oleh Maxime.
Di balik gerbang yang besar dan tinggi ada banyak kehidupan yang disembunyikan, mereka yang mendapat hukuman dari pemimpin Yakuza dan Antraxs. Jika kesalahan mereka tidak terlalu besar, mereka tidak akan di bunuh, akan tetapi di asingkan di desa ini.
Pria dan wanita hidup bersama, mendapat hukuman entah sampai kapan, bahkan antara mereka semua ada yang sampai jatuh cinta dan melahirkan seorang anak.
Mereka terpenjara di desa kecil ini, walaupun tidak sampai kelaparan tapi mereka sudah lupa dengan kehidupan manusia normal yang tinggal di perkotaan.
Bukan lagi mall yang mereka lihat, tapi air terjun yang tersembunyi, bukan lagi bekerja sebagai anak buah yakuza yang mereka kerjakan sekarang, tetapi sebagai seorang petani yang membajak sawah, hasilnya mereka nikmati sama-sama.
Setiap hari hanya pergi ke sawah, memberi makan ayam, mengambil telur ayam, memeras susu sapi dan masih banyak lagi kegiatan di desa ini.
Terdengar hidup dengan layak, tapi hukumannya mereka tidak bisa berjalan melewati gerbang besar untuk kembali ke perkotaan tanpa izin Maxime.
Dan Maxime datang ke sini untuk menemui Jack dan Aron.
bersambung