
"Sayang ..." teriak Maxime membuka pintu kamarnya dengan membawa mangkuk berisi strawberry yang sudah di cuci.
Milan yang sedang duduk menyenderkan dirinya di kepala ranjang langsung menarik tubuhnya dengan tersenyum memandang kedatangan Maxime.
"Strawberry mu sudah datang ..." Maxime duduk di samping ranjang.
"Aku suapi ya ..."
Maxime memilih-milih strawberry yang paling besar untuk istrinya, sementara Milan malah memandang Maxime dengan tersenyum geli. Sesekali ia mengigit bibir bawahnya berusaha menahan senyumannya.
Tapi Maxime sadar akan hal itu. "Kau kenapa hm? kenapa terus tersenyum padaku?"
"Eum ... tidak hehe."
"Kau senang karena aku bawa strawberry kan ..."
Milan menganggukan kepala dengan menahan tawa nya.
"Sayang aku serius, kau kenapa?"
"Aku tidak apa-apa, mana strawberry nya." Milan hendak mengambil strawberry itu di mangkuk tapi Maxime langsung menjauhkan mangkuknya.
"Bilang dulu kau kenapa? aku tidak suka ya ada yang membuatmu tertawa selain aku."
"Ya, kau membuatku tertawa sayang," ucap Milan.
"Ya tapi aku kenapa?"
Pandangan Maxime turun ke ponsel yang sedang di genggam Milan, Maxime curiga di ponsel itu ada sesuatu yang membuat istrinya tertawa dan tersenyum sedari tadi, alhasil Maxime mengambil ponsel milik istrinya itu.
"Ehh ..." Milan kaget karena tiba-tiba Maxime mengambil ponselnya.
Mata Maxime membulat sempurna ketika ada artikel dengan judul, Presdir De Willson group bersama tiga banci di gang kecil.
Dan lagi, ada foto dirinya selfie dengan Miranda, Bella dan Susi. Tiga banci memonyongkan bibirnya sementara Maxime menatap camera datar tanpa ekspresi.
"Hahaha ..." Milan langsung tergelak melihat wajah kaget suaminya.
"I-ini ... kenapa ada di sini ..."
"Sepertinya salah satu dari mereka yang meng-upload nya," ucap Milan.
Maxime mendengus kasar lalu berdecak kesal. Milan yang melihat itu malah menggoda suaminya.
"Ciee ... ketemu Miranda. Wah, selingkuhnya hebat sekaligus tiga ya."
"Sayang!!"
"Cie ... cie ... ada yang namanya Bella juga."
"Sayang, dia yang menunjukan jalan ke rumah si Gulnaro itu, aku tidak berniat berfoto dengan pria tulang lunak itu," ucap Maxime.
"Menurutmu siapa yang paling cantik? Miranda, Bella atau Sus--"
Belum selesai bicara, Maxime langsung menc*um bibir istrinya itu agar bungkam seketika.
"Kau ..." ucap Maxime setelah melepas cium*n nya. "Kau yang paling cantik ..."
Milan terlihat masih shock dengan cium*n dadakan dari suaminya.
"A-aku mau strawberry." Milan yang salah tingkah langsung mengambil strawberry di mangkuk dengan mengunyahnya sambil menundukan kepala.
Maxime terkekeh pelan. "Cie ... ada yang salting." Maxime mencubit gemas pipi kanan Milan.
"Ih, apa sih!" Milan menepis tangan suaminya.
"Berapa jam kau tidak aku ci*m sampai salting seperti ini hm." Maxime kembali menggoda istrinya dengan menunduk dan tersenyum menatap Milan.
"Kalau mau ci*m bilang dulu," ucap Milan pelan.
"Kenapa harus bilang, kau punyaku."
"Tapi aku kaget tau." Milan memajukan bibirnya membuat Maxime terkekeh.
"Iya-iya . Maaf membuatmu kaget ya mommy si kembar," ucap Maxime dengan mengelus-ngelus kepala Milan yang sedang lahap memakan strawberry.
*
Keesokan paginya Maxime keluar dari kamar mandi dengan handuk menutupi bawah tubuhnya saja, handuk kecil di tangannya di pakai untuk mengeringkan rambut. Ia melihat Milan masih meringkuk di kasur. Biasanya pagi-pagi seperti ini Milan akan muntah, tapi sekarang gadis itu masih tertidur lelap.
Maxime tersenyum kemudian berjalan mendekati nakas samping ranjang ketika mendengar ponselnya berbunyi. Panggilan masuk dari Jack.
"Ya?"
"Max, hari ini aku pergi ke kota."
"Kau butuh tempat tinggal?" tanya Maxime.
"Aku sudah menyewa apartemen."
"Istriku, Aron dan Sabrina."
"Oh, baiklah. Kalau butuh apa-apa hubungi saja Peter."
"Oke, terimakasih."
"Hm."
Panggilan pun dimatikan, Maxime duduk di ranjang mengelus kepala Milan. Milan menggeliat, ia belum membuka mata nya tapi bisa mencium aroma mint dari tubuh suaminya.
"Mau mandi sayang?" tanya Maxime.
"Hmmm ..."
"Hmm apa? mau mandi tidak?"
"Sebentar lagi ya," sahut Milan dengan suara serak kamudian memeluk guling. Maxime menarik ujung bibirnya tersenyum lalu menarik selimut untuk istrinya.
Maxime membiarkan Milan tidur, sementara dirinya keluar dari kamar setelah memakai pakaian lengkap. Ia pergi ke dapur dan menyeduh segelas coffe.
Ara dan Oris sedang menata hidangan di meja makan untuk sarapan pagi ini. Yang lain juga belum keluar.
Ara menghampiri Maxime yang sedang mengaduk coffe nya.
"Max, ada daging asap di meja. Kemarin malam Milan meminta itu."
"Ya, Aunty ... terimakasih."
Ara mengangguk kemudian mengambil beberapa buah-buahan yang sudah di cuci untuk menyimpannya ke meja makan.
Maxime membawa coffe nya ke balkon. Setengah jam sebelum sarapan ia menghabiskan waktu di balkon untuk mengurus pekerjaan dengan laptop di atas paha dan secangkir coffe di meja.
Kemudian Milan datang menghampiri suaminya itu dan langsung memeluk Maxime dengan menyenderkan kepalanya di dada Maxime.
"Aku kira belum bangun sayang ..." Maxime memberi kecupan di kepala Milan.
"Kau kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Milan mendongak menatap suaminya itu.
"Aku sudah membangunkanmu, kau belum mau bangun tadi," ucapnya dengan mengelus pipi Milan.
"Tapi aku merasa tidak ada yang membangunkan ku ..."
"Ck. Dasar tukang tidur kau ini, padahal kau yang bilang bangun sebentar lagi tadi," ucap Maxime mengetuk pelan kening Milan.
"Sudah, kita sarapan dulu." Maxime menyimpan laptopnya di meja. Kemudian beranjak mengajak istrinya turun ke bawah untuk sarapan.
Terlihat sudah ada Arsen, Miwa, Daniel dan Tessa di meja makan.
Maxime menarik satu kursi mempersilahkan istrinya duduk lebih dulu. Kemudian ia duduk di samping Milan.
"Max, Jack kembali ke sini?" tanya Arsen sambil memotong steak miliknya.
"Iya, tau darimana?"
"Dia menelponku tadi," ucap Arsen.
"Jack bukannya sedang di hukum ya?" tanya Miwa.
"Hukumannya sudah selesai," sahut Maxime lalu mengambil susu untuk istrinya.
"Peter bilang dia sudah menikah, dia kembali dengan istrinya kalau begitu," ucap Tessa sambil mengaduk-ngaduk sop miliknya.
"Kapan dia menikah?" tanya Daniel.
"Dia menikah di desa, sekarang datang ke sini dengan istri dan adik iparnya."
"Adik ipar?" tanya Miwa dan Tessa bersamaan.
"Namanya Sabrina," ucap Milan.
"Ohh ..." Miwa mengangguk-ngangguk.
"Sayang, setelah ini aku ke kantor bersama Arsen," ucap Maxime kepada Milan.
"Bagaimana kalau kau libur saja," ucap Milan setengah berbisik karena takut terdengar oleh yang lain.
Entah kenapa Milan hari ini sangat ingin berada di dekat Maxime sampai tidak suka kalau Maxime harus pergi ke kantornya.
Maxime tersenyum. "Kenapa kau jadi seperti ini hm."
"Aku pikir libur sehari tidak apa-apa, kau kan bos nya."
"Yasudah, aku tidak pergi hari ini." Maxime mengacak-ngacak gemas kepala Milan membuat istrinya itu tersenyum senang kemudian mereka melanjutkan sarapannya.
Bersambung