The Devil's Touch

The Devil's Touch
#38



Hari berlalu begitu saja selama dua minggu Milan bersama Maxime, banyak larangan Maxime yang membuat Milan kesulitan menemui teman-teman nya, bahkan tugas kerja kelompok yang harusnya gadis itu kerjakan bersama geng ikan lele harus ia kerjakan sendirian, ah tidak lebih tepatnya di kerjakan bersama Maxime.


Mereka lebih sering menghabiskan waktu berdua di kebun teh, terkadang Maxime membawa bekal yang bisa mereka berdua nikmati di gubuk kecil di kawasan kebun teh.


Pagi dan sore hari adalah waktu yang tepat bagi mereka menikmati sejuknya udara di kawasan kebun teh, apalagi jika di temani rintikan hujan yang berjatuhan dan embun pagi yang menyejukkan pernafasan.


Milan banyak menuruti apa yang di katakan Maxime. Ya, dia memang nakal tapi ketika berhadapan dengan Maxime, Milan berubah menjadi kucing kecil penurut. Tidak terlalu banyak membantah. Mungkin karena gadis itu merasa tidak enak karena dirinya menumpang hidup di petshop Maxime.


Mereka tidak lagi terlalu canggung, Maxime mengatakan akan memberikan waktu untuk Milan agar gadis itu bisa menerima, cintanya. Sekaligus waktu untuk Milan bisa mencintainya.


Selain itu, selama dua minggu terakhir ini para uncle nya tak berhenti memalak Maxime, padahal black card sudah di tangan mereka. Tapi dengan tidak tahu dirinya mereka minta di belikan mobil untuk menjaga rahasia Maxime dan Milan agar tidak sampai ke telinga Javier.


Mau tidak mau, Maxime menuruti permintaan mereka.


Dan si penerror itu pun tidak muncul lagi setelah memberikan surat terakhirnya kepada Arsen.


Dan pagi ini Maxime sedang menyetrika baju Milan di ruangan khusus menyimpan baju mereka. Ya, petshop Maxime di renovasi agar lebih luas walaupun tidak menjadi petshop besar. Awalnya dia ingin dua kamar, tapi setelah di pikir-pikir satu kamar dengan Milan di ranjang yang sempit menyenangkan juga.


Milan menghampiri Maxime dengan memakai kaos dan celana jeans, di kepalanya ada lilitan handuk basah karena gadis itu baru saja keramas.


Maxime memberikan baju sekolah Milan. "Ini, sebentar rok nya belum," ucap Maxime lalu kembali menggosok rok sekolah Milan.


"Aku sudah bilang, biarkan aku saja yang menyetrika seragamku," sahut Milan.


"Tidak perlu, pergi sarapan di meja. Aku menyusul nanti." Maxime berkata dengan mata fokus menyetrika rok sekolah Milan.


Milan menghela nafas seraya menggeleng. Di petshop tidak ada pelayan jadi wajar saja mereka berdua saling membantu untuk membersihkan petshop dan mengurusi baju masing-masing. Mereka benar-benar hidup sederhana.


Gadis itu berjalan menghampiri meja kasir lalu duduk menyantap sandwich di meja sampai akhirnya sebuah pesan masuk dari Alvin.


Milan kau tahu, jadwal masuk sekolah di ubah menjadi jam tujuh. Ini sudah jam 06.30 kau masih dimana?


Mata Milan membulat dengan sandwich memenuhi mulutnya. Ada apa ini baru saja hendak masuk sekolah lagi, tiba-tiba jam masuk berubah seperti ini. Apa Mr Rian sedang bercanda, kenapa tidak memberitahu nya dari kemarin.


Milan melempar sandwich ke piring dan berlari mengambil rok yang sedang di setrika Maxime.


"Milan itu masih panas!" Maxime setengah berteriak sambil melongo mellihat Milan tiba-tiba menyambar rok di meja setrika.


Maxime mendengus seraya menggeleng kecil. Pria itu pun duduk di meja untuk sarapan dan menunggu Milan keluar dari kamarnya.


Ketika keluar lutut gadis itu bergerak-gerak, Maxime menahan tawa nya. "Aku sudah bilang itu masih panas." Maxime berkata dengan satu tangan memegang sandwich.


"Seharusnya setrika nya jangan terlalu panas bagaimana kalau rok ku gosong," sahut Milan dengan menekuk wajahnya.


"Maaf, aku pikir akan lebih cepat selesai kalau lebih panas."


Gadis itu pun berjalan mengambil tas di kursi depan Maxime.


"Aku harus berangkat sekarang, jadwal masuk di ubah menjadi jam tujuh, biasanya jam delapan."


"Berani sekali dia mengubahnya," gumam Maxime membuat Milan mengerutkan dahinya.


"Hah, apa?" tanya Milan.


"Tidak." Maxime menyimpan sandwich nya lalu beranjak mengambil sepatu yang ada di dekat kantung pasir.


"Duduklah." Maxime mendorong pelan bahu Milan untuk duduk di kursi setelah itu Maxime mengambil sandwich dan menyuapkan nya ke mulut Milan.


Milan langsung memegang sandwich di mulutnya dan Maxime segera berjongkok di depan Milan untuk membantu gadis itu memakaikan sepatu.


"Kau mau apa?" tanya Milan menunduk dengan mengunyah sandwich.


"Habiskan sarapanmu!"


"Selesai." Maxime kembali berdiri. "Taxi nya sudah ada, kau bisa pergi sekarang."


Milan mengangguk, beranjak dari duduknya tapi ketika baru saja sampai di dekat pintu Maxime kembali memanggilnya.


"Ya?" Milan berbalik.


Maxime berjalan seraya mengeluarkan dompet dari saku, mengambil beberapa lembar uang dan memasukan nya ke saku seragam Milan.


"Terimakasih," ucapnya dengan tersenyum, Maxime pun membalas senyuman Milan dengan mengelus gemas puncak kepala gadis itu.


Milan keluar dan masuk ke taxi yang sudah menunggu nya satu jam yang lalu.


Maxime akan memberikan kejutan kepada Milan, karena ia akan menjadi satpam di sekolah gadis itu. Pria itu pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menjadi satpam sekolah untuk pertama kali nya.


*


Ini hari senin, jam tujuh semua siswa-siswi berkumpul untuk melaksanakan upacara seperti biasa. Untung saja Milan hanya terlambat lima menit karena di jalan tadi ia meminta supir taxi untuk melajukan mobilnya lebih cepat.


Telat lima menit bukan berarti gadis itu taat peraturan untuk ikut upacara, lagi-lagi gadis itu malah diam di kantin bersama Alvin, Faiz, Tino dan Aken.


Mereka memesan makanan, bercerita tentang kegiatan nya selama libur sekolah. Tentu saja Milan tidak akan menceritakan dirinya dengan Maxime, gadis itu akan mengarang cerita liburan nya sendiri.


"Lapangan basket kita besar banget, kau sudah lihat kan, Mil?" tanya Aken.


"Ya, tapi aku lebih suka kolam renang nya," sahut Milan.


"Buku di perpus juga jadi lebih banyak," ucap Alvin seraya membuka cemilan di tangan nya.


"Percuma banyak tapi jarang baca buku!" sahut Tino.


Seorang gadis culun berjalan menghampiri mereka. Gadis yang memakai kaca mata itu terlihat pucat.


"Lihat, si Lina ngapain di sini?" tanya Aken menyikut Milan.


Milan menoleh ke arah Lina yang sedang membeli minum.


"Sakit kayanya dia, kok pucat kaya gitu," sambung Tino.


Milan pun berjalan menghampiri gadis itu dengan mengikat rambutnya. Tak apa, tidak ada Maxime di sini.


Bahu Lina meloncat kaget kala berbalik dan mendapati Milan berdiri di depan nya seraya menatapnya angkuh dengan tangan bersidekap dada.


"Engga upacara?" tanya Milan.


Lina menggeleng. "A-aku sakit."


Milan menempelkan punggung tangan nya di kening Lina. Lina seakan ngeri sendiri dengan sikap Milan sekarang.


"Ah, iya. Demam."


"Kalau begitu ..." Milan mengambil makanan dan minuman di tangan Lina. "Diam di UKS, jangan jajan sembarangan ..."


"Tapi itu ..." Lina hendak mengambil lagi makanan yang di rebut Milan tapi Milan segera menepisnya. Alvin dan yang lain tertawa di meja melihat Milan yang memalak makanan dari gadis itu.


Ah SMA Ganesha sudah mengenal sikap Milan selain suka bolos dan tukang di marahi Mr Rian dia juga suka memalak makanan dari yang lain. Milan menarik ujung bibirnya tersenyum.


"Pergilah ke UKS."


"Tapi Mil itu--"


"Ih di suruh pergi susah amat! sudah sana pergi!" Milan mendorong tubuh Lina dengan kesal. Lalu tersenyum melihat beberapa roti di tangan nya, Lina hendak membawa roti itu ke UKS tapi malah di ambil Milan.


Ketika Milan berbalik ia di kejutkan oleh sosok tinggi yang berdiri di belakang tubuhnya. Dia memakai seragam satpam, perlahan ia mendongak dan mata nya membulat kala melihat Maxime menatapnya datar.


"Apa uang jajan yang aku berikan itu kurang, little cat?"


Bersambung