The Devil's Touch

The Devil's Touch
#141



Alvin, Aken, Faiz dan Tino berdiri seraya menundukkan kepalanya dengan Aken yang memakai sarung karena celananya basah.


Yang lain duduk di sofa seraya menahan senyumnya. Kemudian Maxime menuruni anak tangga bersama Arsen dan Oris yang membawa kantung coklat di tangan nya.


Maxime mendekati Alvin dan yang lain menatap mereka dari atas sampai bawah.


"Kenapa kau pakai sarung?" tanya Maxime kepada Aken.


"Ce-celanaku ... celanaku basah Tuan ..."


Maxime mengangguk-ngangguk mengerti apa maksud perkataan Aken.


"Tidak ada yang terluka?" tanya nya. Alvin dan yang lain menggelengkan kepala.


Maxime menoleh ke arah semua uncle gila nya itu lalu berdecak kesal.


Ia kembali menatap Alvin. "Tunggakan sekolah kalian lunas, tidak ada yang perlu di bayar lagi."


Sontak Alvin dan yang lain mendongak tak percaya.


"Lulus sekolah nanti katakan saja dimana kalian mau kuliah saya akan mengurusnya."


Maxime mengambil kantung coklat di tangan Arsen dan Oris lalu memberikan nya kepada Alvin.


"Pulang dan anggap saja kejadian kalian di ganggu orang gila tadi hanya mimpi," ucap Maxime membuat Athes and the geng, Keenan dan Philip melebarkan mata.


"Kita di sebut orang gila, kurang ajar!!" kesal Keenan.


"Memang benar," sambung Thomas.


Keenan memutar bola matanya mendengar perkataan Thomas.


"Terimakasih Tuan ..." Mereka membungkukan badan lalu berjalan keluar dari mansion.


Keenan, Philip dan Athes and the geng tak henti menatap mereka dengan tatapan tak bersahabat.


Ada mobil di depan yang akan mengantar mereka pulang ke rumah masing-masing.


Maxime kemudian mendengus kasar melihat isi mansion yang berantakan.


"Mansion ku bukan taman bermain untuk kakek-kakek seperti kalian ini!" ucapnya dengan memercak pinggang.


"Kami belum jadi kakek-kakek," sahut Aiden.


Javier hanya menggelengkan kepala mendengar mereka semua.


"Bereskan mansion ku atau kalian semua tidak bisa keluar dari sini!" titah Maxime kepada Keenan dan yang lain.


"Gunanya anak buah di mansion ini apa?!" teriak Jonathan melihat kepergian Maxime dan Arsen.


Teriakan nya di acuhkan oleh pria itu. Javier, Sekretaris Han dan Thomas beranjak dari duduknya meninggalkan Keenan dan yang lain.


Maxime masuk ke kamarnya dan Arsen masuk ke kamar Miwa. Terlihat Milan sedang duduk di meja rias seraya menyisir rambutnya.


"Sayang mau pakai make up?" tanya Maxime berdiri memegang pundak Milan di belakang.


"Aku tidak bisa pakai make up," Sahut Milan.


"Aku suruh Miwa mendandani mu saja bagaimana?"


"Dia mungkin sedang sibuk merias wajahnya sendiri Maxime ..."


Maxime melihat jam di pergelangan tangan nya. "Masih ada waktu sebelum kalian berangkat sayang ..."


Milan menyimpan sisirnya lalu berdiri menghadap Maxime.


"Maxime apa baju ini tidak berlebihan?"


Maxime menyunggingkan senyumnya. "Bagus sayang ... kau terlihat feminim sekarang."


Keduanya menoleh kearah pintu ketika mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mereka.


"Siapa?" tanya Milan.


"Sebentar ..." Maxime berjalan membuka pintu dan ia sedikit terkejut melihat Tessa berdiri di depan kamarnya seraya tersenyum.


"Hai Kak ..."


Maxime tersenyum.


"Aku ke sini untuk mendandani Milan, aku tau dia sedikit tomboy jadi aku mau membantunya. Boleh kan?" tanya Tessa.


Maxime sempat menoleh ke arah Milan lalu kembali menoleh kepada Tessa.


"Tadinya kakak mau menyuruh Miwa ..."


"Kak Maxi kan tau Miwa kalau merias wajahnya sendiri bisa sampai satu jam lebih, belum lagi nanti merias wajah Milan. Itu memakan waktu banyak kak, nanti kita telat ..."


"Sayang, Tessa mau mendandani mu ..."


Milan tersenyum tipis lalu mengangguk ragu. "Yasudah, Tessa saja ..."


Tessa tersenyum lebar lalu berjalan masuk ke kamar Milan.


"Kak Maxi tunggu saja di luar. Aku akan membuat Milan cantik malam ini ...'


"Bagaimana kalau Kakak tunggu di sini saja," sahut Maxime.


"Tidak bisa lah, kakak di luar saja."


"Di luar saja Maxime," sambung Milan.


Maxime pun akhirnya mengangguk dan keluar dari kamarnya meninggalkan dua perempuan itu di dalam.


Milan berjalan ke sofa diikuti Tessa. Perempuan itu membuka tempat make up nya di meja lalu mengambil bandana dan memakaikan nya ke kepala Milan agar rambutnya tidak menghalangi wajah Milan.


"Kau masih remaja, aku tidak akan merias mu berlebihan, harus tetap natural saja oke."


Milan hanya mengangguk, wajahnya kini menjadi mainan tangan Tessa.


"Oh iya Milan, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Tessa dengan tangan yang terus merias wajah Milan.


"Apa?" tanya Milan.


"Kau ... kau dan Kak Maxi bertemu dimana?"


Hening beberapa detik sampai akhirnya Milan buka suara.


"Maxime menyelamatkanku dari preman yang menganggu ku saat itu ..."


Tessa mematung sesaat seraya melebarkan matanya. "Oh iya? kau hampir di perk*sa?"


Milan mengangguk, Tessa kembali merias wajah Milan.


"Astaga Milan ... kau hampir di perk*sa preman malah berakhir di perk*sa oleh Kak Maxi ... tidak ada bedanya."


Milan sedikit terkejut dengan ucapan Tessa, tidak ada bedanya. Maksud perempuan itu apa.


"Itu karena obat, Maxime tidak akan melakukan itu kalau dia tidak di beri obat oleh Miwa," sahut Milan.


Tessa menyunggingkan senyumnya. Entahlah Milan hanya berusaha untuk berpikir positif dengan senyuman Tessa itu.


"Aku sudah berbicara dengan Kak Maxi ..."


"Berbicara apa?" tanya Milan.


"Kami membahas soal perasaanku ..."


Milan berusaha untuk tidak terkejut. Maxime belum mengatakan soal itu.


"Aku membahasnya sebelum Maxime masuk ke kamarmu Milan ... Kau pasti sudah tau aku menyukaikanya, bukan?"


Milan mengangguk.


"Maxime menolak ku, kau juga pasti tau itu. Aku juga tidak terlalu berharap sekarang, Kak Maxi milikmu ..." ucap Tessa dengan tersenyum.


Milan hanya tersenyum tipis.


"Aku akan tetap menjadi adiknya," lanjut Tessa. "Itu sudah lebih dari cukup untukku."


"Lagi pula kami hanya mengobrol sebentar tadi. Kau tidak cemburu kan?" tanya Tessa.


"Tidak, aku tidak cemburu," sahut Milan dengan tersenyum.


"Oh iya ... aku sedikit penasaran kenapa Kak Maxi bisa menyukai gadis yang masih sekolah sepertimu? itu sedikit aneh ..."


Pertanyaan Tessa sedikit membuat Milan tak nyaman, apa maksud perempuan itu. Apa Tessa benar-benar hanya penasaran atau berpikir Milan tidak cocok bersama Maxime.


"Ma-maksudmu?" tanya Milan.


"Ya aneh saja, kau tau Kak Maxi kan. Dia itu pemimpin perusahaan terkaya, pemimpin dua kelompok mafia. Bukan kah seharusnya perempuan dewasa yang bersamanya, perempuan yang bisa merawat dia, bukan perempuan yang sebaliknya malah di rawat oleh Kak Maxi ..."


"A-aku ..."


"Jangan tersinggung dengan ucapan ku ya Milan ..." Tessa tersenyum.


"Aku hanya berpikir mungkin orang-orang di luar sana memikirkan hal yang sama, selera Kak Maxi dalam hal apapun selalu tinggi. Entah itu cara dia berpakaian, barang-barang yang dia punya dengan harga mahal, teman-teman nya pun para pengusaha tinggi di negara ini ..."


"Apa dia berpikir selera Maxime menjadi rendah karena bersamaku sekarang ..." batin Milan.


Milan mengigit bibir bawahnya lalu menjawab. "Tapi kau lupa Maxime pernah jadi penjaga petshop, itu artinya selera nya tidak selalu tinggi dalam hal apapun dan selera nya bisa berubah kapan saja ..."


Bersambung