The Devil's Touch

The Devil's Touch
#122



Maxime hendak pergi ke kamarnya setelah berbicara dengan Miwa tapi ia melihat Tessa baru saja masuk ke mansion.


"Tessa ..." panggil Maxime.


Tessa mendongak dan mendapati Maxime di lantai atas sedang menatapnya. Tessa pun buru-buru menghampiri Maxime.


"Kakak ..." sapa nya dengan tersenyum berdiri di depan Maxime.


"Bagaimana kabar Mommy dan yang lain?" tanya Maxime.


"Mereka baik kak, tadi aku masak bareng mommy Sky di mansion Daddy Javier."


"Oh iya?"


Tessa mengangguk.


"Masak apa?" tanya Maxime.


"Banyak sih, ada beberapa resep baru yang di ajarkan Mommy Sky."


"Kau pasti senang, kau kan hobby memasak," ucap Maxime seraya mengelus kepala Tessa.


Hatinya seakan menghangat dengan sentuhan itu, sebatas mengusap kepala membuat Tessa nyaman dengan pria di depan nya ini.


"Oh iya kak, bisa bantu aku gak?" tanya Tessa.


"Bantu apa?" tanya Maxime menaikkan satu alisnya.


"Aku mau melukis pantai, tapi aku engga bisa bikin pohon kelapa. Kakak tau kan gambar pohon kelapa itu sulit." Tessa mencebikkan bibirnya.


Sebenarnya ia hanya mencari kesempatan untuk berdua dengan Maxime.


"Yasudah, buat pantai tanpa pohon kelapa saja," sahut Maxime seraya terkekeh pelan.


"Ihhh Kakak ... ga indah dong kalau begitu." Tessa merengek dengan menggoyang-goyangkan lengan Maxime.


"Plisss ... sekali aja ... ya ... ya ..."


Maxime terlihat pura-pura berpikir, Tessa menatapnya penuh harap seraya mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Hmm oke deh," sahut Maxime membuat bibir Tessa tersenyum senang.


"Beneran kak? yaudah ayo ..." Tessa mengenggam tangan Maxime masuk ke kamarnya, Maxime hanya tertawa melihat rengekan dari Tessa.


Ini bukan kali pertama, Tessa memang seperti ini dari kecil kepadanya maupun kepada Arsen.


Milan sedang memainkan ponselnya di kamar seraya tiduran di sofa, sesekali ia menatap pintu kamarnya, tidak ada langkah kaki menuju kamarnya, kemana Maxime.


Ia masih berpikir positif jika Maxime masih mengobrol dengan Miwa. Sampai Milan memilih melanjutkan bermain game cacing di ponselnya.


Sementara itu Tessa membawa easel atau penyangga kanvas ke balkon dan Maxime membawa kanvas ukuran sedang lalu mendudukan nya di easel tersebut.


Tessa kembali masuk mengambil kursi untuk Maxime.


"Ini kak ..."


"Makasih," sahut Maxime.


Maxime duduk di kursi seraya memperhatikan pantai yang di gambar Tessa di kanvas, hanya kurang pohon kelapa.


"Akhir-akhir ini kau suka pantai?" tanya Maxime.


Tessa menyeret kursi lain dan duduk di samping Maxime.


Maxime terkekeh pelan. "Ya, kakak ingat. Kau pipis di dalam air waktu itu kan."


"Ihhh kakak ..." Tessa memukul pundak Maxime. "Jangan bahas itu aku malu ...!!"


Maxime terus tertawa membuat Tessa memukul-mukul lengan nya beberapa kali.


Pria itu pura-pura meringis kesakitan membuat Tessa berhenti memukulinya.


"Sakit kak? maaf ..." Tessa memegang lengan Maxime dengan tatapan penyesalan.


"Hahaha tapi boong ..." sahut Maxime yang membuat Tessa kembali memukulnya.


"Sudah-sudah ... kakak gambar dulu pohon kelapa nya."


Pria itu pun mulai menggambar pohon kelapa yang di minta Tessa. Tessa memperhatikan tangan Maxime seraya sesekali menatap wajah pria itu dari dekat.


"Buah kelapa nya mau berapa?" tanya Maxime.


"Dua aja," sahut Tessa.


"Dikit banget, pohon kelapa nya lagi sakit cuman dua buah aja?"


Tessa berdecak. "Kalau kebanyakan kasian pohon kelapa nya keberatan."


Maxime kembali terkekeh tanpa mengalihkan pandangan nya dari kanvas yang sedang ia gambar.


Tessa menggulum senyum di wajahnya, ini adalah moment yang ia suka tanpa sepengetahuan dari Maxime. Tessa suka saat dimana dirinya melukis di bantu Maxime, dari dulu Maxime sering membantunya.


Tapi semenjak pindah ke petshop, jarang sekali ada waktu untuk melukis berdua seperti ini.


Milan keluar dari kamar berjalan menuruni anak tangga dan menghampiri Miwa di dapur yang sedang memotong-motong wortel untuk di buat Jus.


"Miwa ..." panggil Milan.


"Ya?"


"Maxime kemana?" tanya Milan lalu duduk di minibar.


"Bukan nya dia ke kamarmu?"


Milan menggeleng. "Tidak ada."


"Benarkah?" Miwa mengerutkan dahi nya yang di jawab anggukan dari Milan.


"Mungkin ... pergi ke perusahaan. Eh tapi mobilnya ada di depan," sahut Miwa lalu mencoba untuk berpikir kemana kemungkinan kakaknya pergi.


"Kak Maxi mungkin di kamar Tessa," ucap Miwa.


"Tessa? memangnya dia sering ke kamar Tessa?" tanya Milan.


Miwa mengangguk. "Dia sering ke kamarku, ke kamar Tessa juga. Bukan cuman Kak Maxi, Kak Arsen juga kaya gitu. Kau tidak perlu cemburu Milan, Tessa sudah di anggap adik oleh kami bertiga."


Miwa pun memasukan wortel yang sudah di potong itu ke blender lalu menambahkan sedikit air dan menyalakan blendernya.


Seraya menunggu ia berjalan ke mini bar menghampiri Milan.


"Aku jarang bertemu dengan Tessa. Dia sepertinya pendiam ya?" tanya Milan.


"Cih, pendiam darimana. Dia cerewet, akhir-akhir ini saja dia suka diam di kamarnya, tidak tau kenapa," sahut Miwa.


Bersambung.