
Di saat semua siswa kembali masuk ke kelas karena jam istirahat sudah selesai, Maxime membawa Milan kembali ke petshop nya. Bahkan Daffa juga di suruh pulang oleh Jack dan meminta si gendut itu melupakan pembicaraan Jack dan Maxime tadi yang membahas soal membunuh ketika mereka masih sekolah.
Sebenarnya Daffa tidak terlalu jelas mendengar obrolan mereka.
Sesampai nya di petshop Milan keluar dari mobilnya dan ia duduk dengan kesal di meja. Maxime membawakan segelas air untuk Milan.
"Minum dulu." Ia menyimpan air itu di meja seraya menahan senyum nya. Melihat Milan seperti itu mengingatkan nya pada masa-masa Maxime sekolah dan suka bertengkar.
Setelah itu Maxime mengambil air dingin dan handuk kecil untuk mengompres bengkak di pipi Milan.
Ia duduk di samping Milan. "Kemari." Maxime menarik wajah Milan agar menatapnya lalu mengompres perlahan pipi Milan.
"Aku sebenarnya ingin kasihan denganmu, tapi setelah melihat lelaki itu, lukanya jauh lebih parah," ucap Maxime seraya terus mengompres pipi Milan.
Sesekali Milan mendesis kala Maxime tak sengaja menekan pipi bengkak nya. "Dia yang mulai duluan," sahut Milan.
Maxime tersenyum. "Ya, aku tau."
Setelah mengompres pipi Milan, Maxime membereskan dapur yang tadi pagi belum sempat di bereskan, setelah itu ia membuka petshop nya, walaupun jadi satpam ia tetap bisa membuka petshop nya dari siang sampai malam.
Ponselnya bergetar, Arsen mengirim foto dimana dirinya sedang meeting bersama klaen di negara S, bahkan Miwa terlihat duduk di samping Arsen.
"Video call sekarang," balas Maxime dan tak lama kemudian Arsen kembali membalas.
"Lima menit lagi."
Maxime mendengus lalu memberi makan Blacky dan lima menit kemudian panggilan video call masuk dari Arsen.
Maxime duduk di kursi kasir mengangkat video call tersebut.
"Dimana Miwa?" tanya Maxime.
"Sedang mandi," sahut Arsen.
"Kau tidak bilang meeting di luar negeri bersama dia."
"Dia ada kepentingan mendadak di sini, jadi dari pada meeting di undur lebih baik aku datang ke sini."
"Mereka yang membutuhkan kita, bukan kita yang membutuhkan mereka," sahut Maxime. "Kalau meeting di undur batalkan kerja sama!" lanjutnya.
Sebenarnya Maxime sedikit curiga kalau mereka tidak benar-benar berniat meeting di luar negeri seperti ini.
Dan Arsen sendiri menutupi fakta dirinya lah yang meminta rekan bisnis nya datang ke negara S, karena kesalahan Miwa yang berbohong soal pekerjaan kepada Maxime.
"Sudahlah tidak perlu bahas itu lagi," ucap Arsen.
Maxime berdehem sebagai jawaban dan Arsen mengalihkan pembicaraan mereka.
"Bagaimana dengan pekerjaan mu sebagai satpam?"
"Semuanya baik. Hanya saja Milan sudah tahu identitasku."
Arsen melebarkan matanya. "Benarkah? kenapa bisa?"
"Si penerror itu yang memberitahu dan dia melihat pergelangan tanganku."
"Lalu?" tanya Arsen.
"Aku yakin dia tidak sepenuhnya ingin kabur, hanya kecewa karena kau tidak jujur dari awal," tutur Arsen.
"Ya, dia masih gadis SMA yang labil. Dia ingin pergi tapi di sisi lain dia mengingat kebaikan ku, bukan?"
Arsen mengangguk setuju. "Kau merawatnya selama di petshop, aku yakin dia sedang kebingungan sekarang. Antara pergi atau tetap bersamamu. Gadis SMA memang plin-plan, pantas saja Jack lebih suka tidur dengan pelac*r dewasa."
"Kakak ..." tiba-tiba Miwa datang melambaikan tangan ke arah Maxime seraya tersenyum dengan bathrobe dan handuk di kepala nya.
Miwa langsung duduk di samping Arsen.
"Miwa ..." panggil Maxime.
"Ya?"
"Jangan terlihat murahan!!" lanjut Maxime lalu mematkan panggilan video call nya membuat Arsen dan Miwa saling menoleh heran. Apa Maxime sudah tahu kalau Miwa akan mengejar cinta Arsen.
Maxime mematikan panggilan nya lalu masuk ke dalam kamar, terlihat Milan yang sedang sibuk main game di ponselnya, memeluk bantal seraya duduk bersila di atas ranjang.
"Mau makan hm?" tanya Maxime mengelus kepala Milan.
Milan menggeleng. "Belum lapar," sahutnya tetap fokus dengan ponsel nya.
Maxime ikut duduk di samping Milan menonton gadis itu memainkan game cacing besar
Milan terus mengendalikan cacing nya agar makan makanan lebih banyak dari lawan.
"Jangan terlalu agresif, Milan. Kau bisa menabrak cacing lawanmu," ucap Maxime terus fokus dengan cacing Milan di ponsel yang semakin besar.
"Aku tau, ini sudah pelan," sahut Milan.
"Makan burger yang itu Milan." Maxime menunjuk burger di dekat cacing Milan. Dan Milan pun menurut mengarahkan cacing itu ke burger di dekatnya.
"Makan pizza yang itu," tunjuk Maxime lagi.
"Sekarang makan buah-buahan, biar dia sehat," lanjut Maxime.
"Tidak ada sudah habis," sahut Milan.
"Itu ada anggur." tunjuk Maxime.
"Tidak bisa, kejauhan. Ekor ku kepanjangan," sahut Milan.
Dua jempolnya terus mengendalikan cacingnya, agar bisa makan banyak dan jadi lebih besar dari musuhnya.
"Coba kau belokan ke sini." Maxime menunjuk jalan kosong untuk si cacing.
"Cacingku semakin lambat, karena kegendutan sekarang. Dia sangat mirip dengan Daffa," lanjut Milan dengan kesal menyebut nama Daffa.
Maxime terkekeh pelan tapi tiba tiba. "Milan awas!!" Maxime setengah berteriak. Dan akhirnya cacing Milan mati menabrak cacing musuh dan berubah menjadi makanan panjang yang di makan lawan nya.
Milan mendengus kesal menatap Maxime. "Kenapa kau berteriak aku jadi kaget! lihat, kalah kan!!"
Maxime malah tertawa lalu merebut ponsel Milan. "Biar aku saja yang main, aku lebih hebat!"
Bersambung