The Devil's Touch

The Devil's Touch
#169



Milan terbangun di pagi hari, ia menoleh ke samping dan ternyata Maxime tidak ada di kamarnya entah sejak kapan pria itu keluar.


Milan pun melihat tubuhnya di balik selimut lalu ia membulatkan mata karena ia masih telanj*ng bulat. Tapi anehnya ia tidak ingat apapun tentang kejadian semalam. Apa semalam dirinya dan Maxime benar-benar melakukan malam pertama atau tidak. Milan sedikit ragu.


"Kalau aku tidak melakukannya, aku tidak mungkin telanj*ng," gumam Milan.


"Tapi kemana Maxime, kenapa dia pergi begitu saja. Apa di kamar mandi ya ..."


Milan pun berteriak. "Maxime ..."


Bukan sekali ia memanggil Maxime tapi berkali-kali, tapi tidak ada yang keluar dari kamar mandi. Milan pun turun dari ranjang dengan selimut tebal masih menutupi tubuhnya. Ia sedikit kesulitan berjalan karena selimut tebal tersebut.


Milan membuka pintu kamar mandi dan ternyata kosong. Milan kembali berjalan mengambil ponselnya di laci untuk menelpon Maxime, tapi ternyata hal yang tidak pernah Maxime lakukan membuat Milan kebingungan, Maxime menolak panggilan dari Milan.


Milan menatap ponselnya dengan dahi mengkerut. "Kenapa malah di rijek ..."


Milan mencoba sekali lagi dan Maxime masih menolak panggilan dari Milan. Gadis itu pun buru-buru mengirim pesan kepada Maxime.



Milan tercengang karena balasan Maxime tidak seperti biasanya, singkat. Biasanya pria itu selalu membalas pesan Milan dengan panggilan sayang tapi kali ini tidak sama sekali.


Milan menghela nafas kasar lalu kembali menyimpan ponselnya di laci dan berjalan duduk di ranjang. Ia mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi semalam.


"Tengah malam kita pulang, terus Maxime pergi ke kantor pukul satu malam. Apa ..." Milan menggantung kalimatnya.


"Apa semalam, malam pertamanya gagal?"


*


Sementara itu di kantor Maxime meminum bir sendirian dari pukul satu malam sampai pagi. Beberapa botol minuman berantakan di atas meja, ia juga menghabiskan banyak rokok. Puntung rokok bertebaran di meja.


Rasa kesalnya bukan main dengan Milan, pasalnya malam pertamanya gagal karena Milan pingsan. Entah karena gadis itu terlalu tegang atau memang tidak mau melakukan malam pertama dengan dirinya.


Padahal selama ini Maxime begitu sabar untuk menahan diri agar tidak menerkam Milan di ranjang disaat mereka selalu tidur bersama. Berbulan-bulan menunggu dan menahan diri semuanya gagal begitu saja membuat mood Maxime berantakan seketika.


Bahkan ia sedang tidak mau berbicara dengan Milan sekarang, beberapa kali gadis itu menelpon tapi Maxime selalu merijeknya.


Arsen membuka pintu dan terlonjak kaget ketika menoleh ke arah sofa.


"Kenapa kau datang sepagi ini?" tanya Arsen lalu berjalan menghampiri Maxime. Ia mengedarkan pandangannya pada meja yang begitu berantakan dengan botol, kacang kulit dan puntung rokok.


Kemudian Arsen duduk di depan Maxime lalu bertanya. "Ada apa denganmu? bukan kah semalam, malam pertamamu?"


Maxime meneguk kembali bir di tangannya lalu menyimpan botol kosong tersebut di meja dengan kasar. Maxime hendak mengambil botol yang baru tapi Arsen segera mengambil botol bir tersebut.


"Mukamu sudah seperti gelandang*n kelaparan saja, sudah cukup jangan banyak minum!"


Maxime kembali duduk di sofa dengan menyenderkan punggung nya di sofa lalu memantik rokok yang kesekian kalinya. Entah berapa puluh rokok yang pria itu habiskan dari jam satu malam sampai sepagi ini, yang jelas puntung rokok berhamburan di lantai dan meja.


"Siapa?" tanya Arsen. "Milan maksudmu?"


Maxime mengangguk membuat Arsen mengerutkan dahi nya bingung.


"Apa masalah mu sebenarnya?" tanya Arsen.


"Dia tidak mau malam pertama, dia juga awalnya bohong dan bilang sedang datang bulan."


Maxime kemudian tertawa miris dengan wajah merah karena terlalu banyak minum. "Dia mungkin mau menikah denganku karena takut saja."


Arsen menghela nafas lalu membuka botol bir yang baru dan meneguknya. "Sulit memang mempunyai istri yang masih kecil, dia pasti ketakutan melihat ukuran milikmu yang terlalu besar. Coba saja kalau kau---Akkhh!!"


Maxime melempar wajah Arsen dengan bantal sofa.


"Beraninya kau membahas itu denganku!!" kesal Maxime.


Arsen berdecak seraya melempar kembali bantal tersebut ke sofa tempat Maxime duduk. "Itu benar sial*n, dia ketakutan!! bukan karena tidak mencintaimu ... coba kau menikah dengan perempuan seusia adikmu, mana mungkin takut dengan ukuran milikmu itu, yang ada malah senang ..."


"Miwa saja senang," lanjut Arsen pelan.


Maxime sontak melebarkan matanya. "Bilang sekali lagi!! Miwa senang apa?"


Arsen sontak menggelengkan kepala. "Ti-tidak."


Maxime segera beranjak dari duduknya menghampiri Arsen dan menarik kerah baju pria itu dengan amarah yang tertahan. "Jangan bilang Miwa sudah melihat punyamu Ar!!!"


Arsen menelan salivanya susah payah. "Selain cerewet dia cukup berani membuka ce-celanaku ..."


"Ar kau---BUGH!!"


Maxime memberi pukulan di wajah Arsen, tak mau kalah Arsen segera menendang perut Maxime sampai tersungkur ke belakang.


Arsen mengusap ujung bibirnya. "Sial*n kenapa malah memukulku!!"


"Kenapa kau membuka celanamu di depan Miwa kepar*t!! kalian belum menikah!!" teriak Maxime.


"Dia yang membuka celanaku ketika aku tidur!!" sahut Arsen berteriak pula.


"Kau dan Miwa sama saja, mentang-mentang kembar. Sama-sama tidak bisa menahan hawa n*fsu. Untung saja aku masih bisa menahannya!!"


"Aku dan Milan benar-benar korban n*fsu besar kalian berdua manusia kembar!!" lanjut Arsen lalu berjalan keluar dari ruangan meninggalkan Maxime yang berteriak.


"ARSEEENNN!!"


bersambung