The Devil's Touch

The Devil's Touch
#89



Maxime memeluk erat Milan di dalam mobil, mobil melaju di bawa oleh salah satu anak buah nya di balik kemudi.


Sementara Maxime dan Milan duduk di kursi belakang dengan Milan yang terus berusaha memberontak dari pelukan Maxime.


"Lepaskan aku!!" ia setengah berteriak. "Pembunuh!!" ucapnya.


Maxime menghela nafas kasar, ia pikir hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Mengingat beberapa hari yang lalu Milan tampak seperti dulu, baik dan penurut.


"Diam!" ucap Maxime dingin.


"Kenapa kau membunuh Daffa?!!" teriak Milan dengan nafas terengah-engah dan mata berkaca-kaca ia menatap bola mata Maxime menunggu jawaban.


"Dia yang menyuruh orang untuk memperk*sa mu sayang ..." sahut Maxime.


Mata Milan melebar sesaat, seakan tak menyangka Daffa menyuruh orang melakukan perbuatan keji itu.


"Sekarang kau mengerti kenapa aku membun*hnya bukan?" Maxime mengelus rambut yang menghalangi wajah Milan.


"Tapi bukan dengan cara itu kau menghukumnya!!"


Maxime memalingkan wajah, sementara anak buahnya diam-diam menoleh ke spion depan melihat pertengkaran mereka di belakang.


"Aku tidak punya pilihan, dia akan terus menyuruh orang lain untuk menyakitimu!!"


"Pikiranmu sangat negatif terhadap orang lain Maxime!!"


Maxime menoleh tajam kepada Milan. "Aku ..." Lalu ia mengelus pipi Milan. "Atau kau yang mempunyai pikiran negatif hm?" ucapnya penuh penekanan.


"Aku membunuhnya karena dia mau memperk*sa mu!! tapi kau berpikir aku lah yang jahat di sini!!"


Mobil pun terparkir di depan petshop. Maxime segera menarik tangan Milan untuk keluar dari mobil dan membawa gadis itu ke dalam petshop.


Milan terus memberontak minta di lepaskan, tangan nya sedikit sakit karena di cengkram kuat oleh Maxime. Ia terus memukul-mukul tangan Maxime minta di lepaskan.


Maxime membawa Milan ke kamar, mendorong gadis itu ke ranjang lalu mengunci pintu. Ketika berbalik Milan sedikit takut melihat tubuh Maxime yang terbakar api kemarahan.


Rahangnya yang tegas itu kini mengeluarkan urat-urat kekesalan, tatapan nya tajam dan dingin.


"A-aku ... aku akan kembali kepada orang tua ku," lirih Milan dengan nyali menciut takut.


Maxime menarik ujung bibirnya tersenyum. "Mereka tidak akan menerima mu lagi, sayang ... aku sudah membelimu kepada mereka!!"


Milan mengerutkan dahi nya. "Apa maksudmu?"


Maxime mengeluarkan ponsel di saku nya dan membuka galeri foto lalu melempar nya ke ranjang.


Tangan Milan terulur mengambil ponsel tersebut dengan gemetar. Ketika ia melihatnya mata nya membulat sempurna.


Ada sepenggal video di sana dimana Maxime memberikan uang banyak kepada orang tua nya.


Maxime tidak sendiri, ia bersama Arsen di sana.


Tangan Sani gemetar mengambil uang di atas meja, belum pernah ia melihat uang sebanyak itu.


"I-ini beneran untuk kami?" tanya Sani memastikan.


Maxime mengangguk samar. "Kalau kau menerima uangnya, jangan pernah cari Milan lagi!!"


Sani dan Rio saling menoleh, sampai akhirnya keduanya mengangguk dengan cepat.


Maxime datang ke rumah orang tua nya tanpa sepengetahuan Milan, awalnya ia hanya ingin menghukum Sani dan Rio karena berani melaporkan dirinya ke polisi. Tapi ide licik nya muncul, ia lakukan hal ini agar Milan tidak bisa pergi dari hidupnya.


Tak apa belum mencintainya, asalkan Milan ada di sampingnya itu sudah cukup untuk Maxime. Perihal perasaan Maxime akan selalu menunggu Milan.


Tapi sekarang, gadis itu kembali membuat ulah untuk kabur lagi. Menyebalkan.


"Aku akan mengembalikan semua uangmu!!" Milan segera beranjak tapi dengan cepat Maxime mendorong gadis itu sampai kembali jatuh ke ranjang.


"Aku tidak butuh uangku kembali," ucap Maxime. "Aku hanya ingin kau di sini sayang ..."


Maxime pun mendekat dan Milan semakin beringsut menjauh.


Pria itu naik ke ranjang. "Maxime ..." suara Milan bergetar ketakutan, hal yang membuat Milan takut pria itu pernah hampir menidurinya juga.


Maxime berkata dengan suara berat, seakan sedang menggoda Milan. "Kau hampir di perk*sa orang tapi kau menyalahkan ku!! sekalian saja aku yang memperk*sa mu bagaimana?!!"


Tangan nya terulur membelai rambut Milan. Tubuh Milan seakan berdesir dengan belaian itu sampai akhirnya.


BUGH


Gadis itu menendang aset berharga Maxime. Maxime meringis kesakitan dan hal itu Milan gunakan untuk kabur dari kamar.


"Mi-Milan ..." suara Maxime tercekat.


Menendang aset berharga adalah ajaran Maxime ketika Milan bertengkar dengan Daffa di sekolah. Tapi apa yang ia ajarkan malah dirinya juga yang kena.


Milan berlari keluar dari petshop, celengak-celinguk dengan nafas memburu berharap ada satu mobil saja yang lewat.


"Milan ..." suara Maxime masih tercekat tapi ia juga berusaha untuk berjalan walaupun tertatih seraya memegang aset berharga nya.


Milan menoleh ke belakang, melihat Maxime yang berusaha berjalan ke arahnya membuat Milan berlari pergi dari petshop.


"MILANNN!!!" teriak Maxime keras.


Bersambung