The Devil's Touch

The Devil's Touch
#150



Tessa memasuki sebuah restaurant. Kemarin malam Daniel mengajaknya bertemu di salah satu restaurant ternama. Pria itu bilang, ia tertarik dengan beberapa lukisan Tessa.


Daniel menunggu Tessa sembari menyesap vape di tangan nya, kemudian Tessa datang dan duduk di depan Daniel.


Tessa terlihat tak bersemangat bertemu dengan pria itu, pasalnya jika hanya tertarik dengan lukisan yang ia buat tidak perlu repot-repot bertemu dengan dirinya, toh ada seseorang yang menjadi tangan kanan Tessa mengurus soal lukisan nya.


"Aku tidak mau basa-basi lagi, jika kau tertarik dengan salah satu lukisan ku, beritahu aku yang mana, setelah pembayaran aku akan mengirimnya ke rumahmu ..."


Daniel tersenyum kecut. "Hei, bersikap ramah lah denganku. Aku ini mau membeli bukan mencuri ..."


Terlihat Tessa mendengus kasar lalu menyenderkan punggungnya di kursi dan memilih membuang muka dari Daniel yang menatapnya.


Seorang pelayan restaurant datang menghampiri meja mereka.


"Kau mau pesan apa?" tanya Daniel.


Tessa menoleh seraya berdecak. "Aku kesini bukan untuk makan denganmu, untuk apa menawariku!"


"Kita bisa bicara sambil makan ..." Daniel menoleh ke arah pelayan yang berdiri di sampingnya.


"Bawakan apa saja yang enak di restaurant ini ..." titah Daniel.


"Baik Tuan ..." pelayan perempuan itu membungkukan badan hendak pergi.


"Aku ingin yang pedas, apa saja!" sambung Tessa membuat si pelayan tidak jadi pergi.


"Baik Nona ..." Pelayan perempuan itu pun kembali membungkukan badan ke arah Tessa lalu pergi meninggalkan meja.


Daniel menarik ujung bibirnya tersenyum kala melihat Tessa menekuk wajahnya cemberut seraya memalingkan wajahnya ke arah lain dengan kedua tangan di lipat di dada dan duduk bersilang kaki.


Daniel kemudian menyimpan sebuah Novel di atas meja, Tessa menoleh ke arah Novel itu. Dia suka membaca dan Novel itu Novel yang sangat dia inginkan.


Kemudian Tessa menoleh ke arah Daniel. "Dari mana kau mendapatkan nya? Novel itu masih dalam proses penerbitan."


"Novel itu kan yang kau mau? kau sangat menunggu novel ketiga dari series perjuangan ..."


Tessa mengangguk. "Kau juga suka membaca kisah Tuan D?"


Daniel mengangguk.


"Kenapa kau orang pertama yang mendapatkan novel itu? setau ku penulisnya bilang Novelnya masih dalam proses penerbitan. Kau sudah membaca novel ketiga ini?"


"Kehilangan ..." sahut Tessa.


"Ya, Tuan D merasakan kehilangan yang dalam tapi dia bisa mengikhlaskan Bubu bersama pria lain, walaupun Bubu sempat datang hanya untuk meminta bantuan agar bisa dekat dengan pria yang dia cintai ..." Daniel tersenyum getir menjelaskan isi novel yang ada di buku ketiga series perjuangan.


"Kenapa kau bisa menjelaskan sangat rinci tentang ketiga novel itu."


"Karena aku penulisnya," sahut Daniel santai lalu mengambil vape di meja membiarkan Tessa melebarkan matanya tak percaya.


"Jangan bohong!"


"Karena mencintai milik orang lain itu seperti menggenggam pisau, kau akan terluka jika tidak melepaskan nya ..." Daniel tersenyum.


"Kau baca bagian itu juga kan Tessa?"


Tessa hanya membisu tak percaya.


"Nama pena ku, O'Brien. Tidak kah kau sadar itu nama belakangku Tessa? Daniel O'Brien."


"Ta-tapi ..."


"Aku suka menulis dari kecil, kau ingat saat kau dan Miwa kecil, Miwa selalu mendapatkan surat berwarna merah dari seseorang. Maxime dan Arsen sampai marah karena Miwa selalu mendapatkan surat dari orang asing, padahal usia Miwa saat itu baru delapan tahun. Dan kau tau ... aku yang mengirimi Miwa surat itu."


"Apa ..." Mata Tessa melebar sempurna.


"Ya, kau baca novelku yang berjudul perjuangan bukan? Di sana di ceritakan Tuan D selalu mengirimi Bubu surat sejak kecil, berusaha mengajak Bubu bicara ketika Bubu ada di halaman mansion dan mengikuti Bubu diam-diam ketika Bubu kabur dari mansion untuk bermain dengan teman-teman nya, Tuan D hanya ingin memastikan Bubu baik-baik saja."


"Dan Tuan D yang di maksud adalah aku. Daniel ... dan Bubu adalah Miwa. Kau dan Miwa punya kucing kecil yang di beri nama Bubu, itulah kenapa di novel nama Miwa aku ubah menjadi Bubu."


"Novel kedua berjudul mengalah, Tuan D mengalah saat perjodohan antara dirinya dan Bubu gagal karena Bubu tidak menyukai Tuan D dan memilih pria lain, di sana juga di ceritakan bagaimana Tuan D mengalami masa-masa sulit ketika Bubu memutuskan memilih pria lain. Dan Tuan D sempat stress karena merasa jadi pria pecundang yang tidak berani mengungkapkan perasaan nya langsung kepada Bubu ..."


"Dan Novel ketiga ini soal kehilangan. Akhirnya Tuan D mulai berani melepaskan dan melupakan Bubu, walaupun rasa kehilangan itu benar-benar menganggu hidupnya. Ketika dia mulai pulih, Bubu malah datang meminta bantuan agar pria yang Bubu cintai bisa mengatakan perasaan nya kepada dia. Parahnya lagi Bubu datang bersama Kembaran nya, yaitu Maxime ..."


"Kau tau Tessa, aku sangat menyukai Miwa dari kecil tapi aku berani mengalah dan kehilangan ketika perjuangan ku gagal ..."


"Dan siapa pria yang di cintai Miwa?" tanya Tessa membuat Daniel hening seketika. Mata Tessa menatap Daniel menunggu jawaban.


"Arsen."


Bersambung