The Devil's Touch

The Devil's Touch
#182



Sekeras apapun Javier mengusir Keenan dan para ekornya, tetap saja mereka enggan keluar. Mereka penasaran tentang kejadian yang membuat Miwa dan Milan di culik.


Mereka hanya disuruh mengumpulkan rokok mereka ke kantung plastik yang dibawa Aliandra. Satu persatu mereka memasukan bungkus rokok ke plastik hitam tersebut.


"Hei, kau. Mana rokokmu?" tanya Aliandra kepada Nicholas.


"Tidak ada, sudah habis!" sahut Nicholas.


Aliandra berdecak lalu bergeser menghampiri Jonathan seraya mengulurkan kantung plastik di tangannya. "Masukan cepat! kalian ini, sudah tua masih saja merokok! pikirkan kesehatan! orang merokok cepat mati!" gerutu Aliandra.


"Kata siapa? Dokter di sini saja minggu kemarin mati karena depresi bukan karena rokok!" pekik Philip membahas gosip Dokter muda yang bunuh diri karena depresi.


"Mati itu takdir," kata Athes seraya memasukan bungkus rokoknya ke plastik.


"Tapi mati itu ada penyebabnya! jangan sampai rokok jadi penyebab kalian mati!" sahut Aliandra.


"Mati itu karena jantungnya berhenti berdetak, nyawanya hilang. Bukan karena rokok!" Keenan berkata seraya memasukan rokoknya.


Aliandra kemudian berdecak. "Terserah kalianlah anj*ng pusing aku!!"


Aliandra kemudian berbalik, Maxime dan yang lain menatapnya datar.


"Cepatlah, kau ini dokter. Malah sibuk menyita rokok!" Pekik Thomas.


"Harusnya mereka tidak ikut ke sini, Rumah Sakit ini hawa nya seperti Rumah Sakit Jiwa kalau ada mereka." gerutu Aliandra seraya melengos meninggalkan kamar tersebut.


"Kalau bukan adiknya Sky, sudah aku bunuh dia. Berani sekali menyita rokok ku!" kesal Jonathan.


"Sudah, yang lain diam." Javier kemudian berjalan menghampiri Maxime dan Arsen yang duduk di sofa. Javier berdiri di depan mereka dengan tangan bersedekap dada, menatap mereka datar.


"Sekarang, jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Javier.


"Hanya masalah kecil Dad," sahut Maxime.


"Masalah kecil sampai membuat istri dan adikmu di culik! kalian bahkan tidak memberitahu kami atau meminta bantuan kepada kami!! kalian ini seperti tidak punya keluarga saja!!"


"Daddy Jav--"


Javier memotong perkataan Arsen yang hendak menjelaskan. "Kalau hanya kalian saja yang mempunyai masalah Dad tidak perduli, tapi kalau sudah melibatkan perempuan, bisakah kalian memberitahu Daddy? apalagi Miwa pasti membunuh lagi kan? Dad tidak suka Miwa membunuh seseorang!!"


"Mau bagaimana lagi, dia anakmu. Tentu saja sikapnya sama denganmu!" sahut Maxime pelan membuat Javier berdecak.


"Setidaknya adikmu itu mirip Ibumu saja dari pada aku, Ibumu tidak suka menembak kepala orang!!"


"Karena gen Daddy Javier lebih kuat dari Mommy Sky. Itu alasannya Miwa lebih mirip denganmu Daddy Javier," sambung Arsen.


"Sekarang jelaskan siapa yang menculik Miwa dan Milan?"


"Felix," sahut Maxime.


"Felix?" Javier mengerutkan dahinya.


Semua orang saling menoleh dan bertanya Felix mana yang di maksud Maxime. Mereka seakan tak pernah mendengar nama itu.


"Heh, Felix siapa? dari organisasi mafia mana?" tanya Jonathan kepada Keenan dan yang lain.


"Felix hanya rekan bisnis ku yang gagal. Dulu hampir menjalin kerjasama bisnis, tapi aku menolaknya dan berakhir dia menaruh dendam kepadaku."


"Jadi dia bukan dari organisasi mafia manapun?" tanya Sekretaris Han.


"Bukan," sahut Arsen.


"Dia hanya manusia gabut yang membuang-buang waktu melawanku, sampai akhirnya dia mati sekarang," pekik Maxime.


"Heh, kau kalau gabut biasanya melakukan apa?" tanya Jonathan kepada Sergio.


"Aku ... waktu muda main game. Kalau sekarang ..." Sergio menggantung kalimatnya ia terlihat sedang berpikir.


"Aku baru sadar, ketika gabut aku tidak melakukan apapun hahaha." Sergio tergelak bersama Jonathan dan yang lain.


"Kau masih mending, gabut tetap hidup. Si Felix itu gabut malah mati," timpal Keenan membuat mereka kembali tertawa.


Javier mendesis kesal lalu berbalik menatap Keenan dan yang lain. Sontak mereka semua mengehentikan tawa nya.


Sky, Liana dan Kara yang duduk di ranjang Milan dan Miwa hanya menghela nafas seraya menggelengkan kepala melihat sikap Keenan dan yang lain yang tidak pernah bisa serius.


"Tidak bisakah kalian diam?!" kesal Javier.


Keenan dan yang lain menganggukan kepala dengan wajah datar sebagai jawaban. Javier kemudian kembali berbicara dengan Maxime dan Arsen.


"Apa hanya Felix saja yang menyerang kalian?"


"Felix dibantu Recobra seharusnya. Tapi tadi pria itu hanya menyuruh anak buahnya saja. Tidak ada Recobra di sini." kata Maxime


"Recobra?" Javier menaikkan satu alisnya. "Kalian punya masalah apa dengan mereka?"


"Tidak tau, mereka yang memulai duluan," sahut Arsen.


"Awalnya mereka hanya ingin membantu Felix tapi Felix berjuang sendiri mengalahkan ku, mereka tidak membantu," sambung Maxime.


"Aneh, seharusnya kalau alasannya membantu Felix, mereka juga harus ada di sini," pekik Thomas.


Milan masih diam mendengarkan pembicaraan mereka yang membingungkan. Siapa Recobra, siapa Felix. Milan tidak tahu, Sky hanya mengelus-ngelus punggung tangan Milan seraya tersenyum untuk menenangkan gadis itu.


"Kau tidak perlu ikut campur urusan mereka ya," ucap Sky yang dijawab anggukan dari Milan.


"Iya, mommy Sky."


"Begini, kita lihat saja nanti. Apa ada yang menyerang kita lagi atau tidak. Kalau ada, itu artinya bukan Felix yang menjadi alasan utama mereka menganggu Yakuza!!" ucap Javier.


Dan sekarang Javier kembali menasehati Maxime dan Arsen, meminta mereka untuk selalu terbuka, selalu mengajak Javier dan yang lain ketika ada masalah besar. Sepanjang Javier menasehati, Maxime dan Arsen hanya mengangguk-nganggukan kepala dengan wajah datar. Ucapan Javier tidak terlalu di dengarkan oleh mereka.


Di luaran Maxime dan Arsen memang terlihat sebagai pria dewasa yang ditakuti banyak orang. Tapi kalau sudah bertemu dengan keluarganya, semua wejangan yang di ucapkan Javier dan yang lain hanya bisa di jawab anggukan saja oleh Maxime dan Arsen. Mereka seperti anak kecil yang sedang di nasehati orang tuanya sekarang.


Ketika wejangan yang diberikan Javier selesai, sekarang Arsen berpikir mungkin saat ini, saat yang tepat untuk melamar Miwa di depan keluarga besarnya. Seharusnya lamaran itu berlangsung nanti malam, tapi berhubung semuanya berkumpul Arsen akan melamar Miwa saat ini juga.


Bersambung