
Milan berniat pergi ke kantor Maxime tapi Maxime selalu melarangnya, alhasil sampai siang gadis itu hanya diam di kamar, ia sempat turun sebentar tadi pagi untuk sarapan bersama Ara dan Oris. Tessa kembali ke Negara M sementara Miwa entah pergi kemana.
Makan siang kali ini ia berencana untuk menunggu Maxime, tapi Maxime belum pulang dari kantornya.
Milan memutuskan keluar dari kamar, menuruni anak tangga dan bertanya kepada Oris yang sedang menyimpan beberapa hidangan untuk makan siang.
"Oris ..."
Oris membalik. "Selamat siang Nyonya besar," sapa nya dengan ramah.
Milan tersenyum. "Panggil aku Milan seperti biasa, kenapa Nyonya besar."
"Kan sudah menikah dengan Tuan Maxime hehe."
Milan menarik kursi dan duduk di meja makan. "Panggil aku Milan saja Oris, aku ini tidak pantas dipanggil Nyonya besar. Oh iya, Maxime belum pulang juga?"
"Tuan Maxime?"
Milan mengangguk.
"Loh, satu jam yang lalu sudah pulang, tadi naik ke atas."
"Benarkah? tapi tidak masuk kamar," sahut Milan.
"Mungkin ..." Oris terlihat berpikir. "Mungkin di ruang kerjanya yang dekat kamar Miwa."
"Ruang kerja? memang ada ruang kerja di sini?" tanya Milan. Karena seingatnya selama tinggal disini, Maxime tidak pernah menunjukan ruang kerjanya di mansion ini karena pria itu selalu berada di kamar dengan dirinya.
"Ada, dekat kamar Nona Miwa. Coba saja cari."
Milan pun mengangguk dan segera menaiki anak tangga untuk mencari Maxime. Ia mencari-cari kamar Miwa dan ternyata disamping kamar Miwa ada sebuah ruangan, Milan tidak pernah penasaran dengan setiap ruangan di mansion Maxime karena terlalu banyak ruangannya.
Milan membuka pintu perlahan, lalu mengintip sedikit. Benar, Maxime ada di dalam sedang berkutit dengan laptopnya.
"Maxime ..." panggil Milan.
Maxime menoleh ke pintu dan mendapati kepala Milan yang sedang mengintip di balik pintu yang terbuka sedikit.
"Masuk," titah Maxime.
Milan pun masuk dan menutup pintu dengan pelan lalu duduk di depan Maxime.
"Ada apa?" tanya Maxime.
"Hah?" Milan mengerutkan dahinya, keberadaan dirinya didekat Maxime tidak pernah ditanya 'ada apa'.
Biasanya Maxime akan senang dengan kehadirinya dirinya, lalu meminta Milan duduk dipangkuannya.
"Ada apa?" ulang Maxime.
"Ti-tidak ... aku tidak tau kalau kau sudah pulang."
Hening, Maxime tidak berkata apapun lagi. Hanya terdengar suara ketikan dari keyboard laptop saja.
"Eummm ... kau sudah makan siang?" tanya Milan memecah keheningan di antara mereka.
"Belum."
"Mau makan sekarang?"
"Nanti saja."
"Bagaimana kalau aku ambilkan makanan nya ke sini?" tanya Milan.
"Tidak perlu."
Milan menghela nafas, sedari tadi jawaban Maxime begitu datar. Bahkan matanya tidak menatap dirinya sama sekali, selama beberapa menit suasana kembali hening.
Maxime sibuk dengan laptopnya dan Milan hanya duduk di depan Maxime seraya memainkan kakinya yang tergantung.
"Maxime ..."
"Hmm?"
"Eumm ... kau baik-baik saja?"
"Iya," sahut Maxime singkat.
"Tidak perlu dibahas, pergi makan di bawah. Aku akan menyusul nanti ..."
Milan terpaksa mengangguk apalagi mendengar ucapan Maxime barusan yang terdengar begitu dingin.
Milan perlahan beranjak dari duduknya tapi kemudian Maxime kembali berbicara.
"Aku sudah mendaftarkanmu les piano, besok kau bisa belajar main piano lagi."
"Kau yang mengantarkan ku kan?" tanya Milan.
"Pergi bersama Peter saja," sahut Maxime.
"O-oh ..."
Milan pun berjalan keluar dari ruang kerja itu, sesekali ia menoleh kebelakang hanya untuk melihat sikap Maxime yang berbeda sekarang. Milan sakit hati melihat sikap Maxime yang dingin seperti itu.
*
Milan makan siang bersama Ara, sedangkan Oris sudah lebih dulu makan tadi. Milan terus melihat ke arah tangga, lalu ia menghela nafas. Tidak ada tanda-tanda Maxime turun.
"Milan kau kenapa?" tanya Ara.
Milan menoleh. "Eh, aku baik-baik saja Aunty," sahut Milan dengan tersenyum samar.
Milan kemudian kembali menatap anak tangga, Ara mengikuti arah pandang Milan, ia bingung kenapa Milan terus menatap tangga.
Karena Ara selesai lebih dulu, ia pun membawa piringnya ke wastafel. Heran dengan sikap Milan tapi Ara tidak mau banyak bertanya apalagi urusan rumah tangga gadis itu bersama Maxime.
Tak lama kemudian Maxime menuruni anak tangga membuat senyuman di wajah Milan merekah seketika.
Pria itu duduk di depan Milan, Maxime hendak menyendok nasi tapi Milan mendahuluinya.
"Biar aku saja," ucap Milan lalu menyendok nasi ke piring Maxime. Milan mengisi piring Maxime dengan beberapa lauk yang tersedia di meja.
"Ini, makanlah ..."
Maxime mengangguk. "Terimakasih ..."
Kini Maxime sibuk dengan makanannya sementara Milan hanya memainkan sendok dan garpuh di piring nya dengan sesekali curi pandang ke arah Maxime.
Maxime masih tidak menatapnya sama sekali membuat Milan menekuk wajahnya.
Tak terasa Maxime pun selesai dengan makanannya, ia meminum segelas air seraya menatap piring Milan yang masih penuh.
Setelah kembali menyimpan gelasnya di meja Maxime pun berkata.
"Aku harus pergi ke kantor lagi. Kau di sini bersama Aunty Ara dan Oris."
Maxime beranjak dari duduknya dan Milan buru-buru berlari dan menghalangi Maxime dari depan seraya melengangkan kedua tangan nya.
"Kenapa ke kantor lagi, biasanya lebih sering di sini."
"Aku sibuk."
"Kan ada Arsen."
"Aku harus membantu Arsen."
"Maxime apa kau marah?"
"Marah kenapa?" tanya Maxime.
"Soal ... soal semalam."
"Tidak."
"Tapi--"
"Aku ke kantor dulu," potong Maxime lalu melengos meninggalkan Milan.
Milan hanya berbalik menatap kepergian Maxime dengan perasaan hampa karena sikap dingin pria itu benar-benar menusuk hatinya.
Bersambung