
Udara malam ini terasa sangat dingin. Angin berhembus dengan kencang sehingga mampu menusuk pori-pori kulit.
Sebuah mobil sedang memantau pergerakan Elena dari luar. Wanita itu sedang berada di toko roti. Bola matanya memperhatikan ke arah etalase yang berisi roti panggang.
"Kakak, bisakah kau membantuku memilih kue?" seorang anak kecil tiba tiba menarik narik jaket tebal yang sedang digunakan Elena.
"Astaga! Kau mengagetkanku. Siapa namamu bocah manis?" tanya Elena pada bocah laki laki yang masih menarik ujung jaketnya.
"Aku tidak manis, kakak. Namaku Edwin, maukah kakak membantuku?" matanya terlihat memelas.
"Baiklah, aku akan membantumu. Katakan padaku kue apa yang ingin kau beli?"
"Kue ulang tahun untuk adikku, Meyra suka kue warna pink kakak." tunjuknya pada etalase yang berisi jajaran kue ulang tahun.
"Kalau begitu ayo kita beli yang itu."
Bocah laki laki bernama Edwin itu terlihat murung.
"Kau kenapa?" Elena terlihat heran saat melihat wajah murung Edwin.
"Uangku tidak cukup untuk membeli kue yang itu, hanya cukup untuk membeli roti kering saja." ucapnya sedih.
Elene terlihat iba mendengarnya. Dia merasa tidak tega mendengar ucapan anak laki laki yang mampu membuat hatinya tersentil.
"Jangan sedih, aku akan membelikannya untukmu." Elena mengelus pelan surai hitam bocah itu.
"Benarkah? Apa kakak tidak merasa keberatan." Edwin merasa terkejut. Bocah laki laki itu merasa senang.
"Tidak. Bibi, tolong bungkus kue ulang tahunnya." Elena menunjuk pada etalase kue yang ditunjuk oleh Edwin tadi.
Setelah menyelesikan pembayaran Elena dan Edwin melangkah keluar dari toko.
"Ini untukmu." Elene menyerahkan sekotak kue yang dibelinya tadi pada Edwin.
"Terimakasih kakak, suatu hari nanti aku akan membalas kebaikanmu jika kita bertemu lagi." Edwin menerimanya dengan senang hati. Bocah kecil itu berlari pergi setelah mengucapkan terima kasih.
Elena tersenyum tipis melihatnya. Kakinya melangkah meninggalkan toko. Bola matanya terlihat menyipit saat melihat mobil hitam yang berada tidak jauh darinya. Mobil itu terlihat sedang mengawasi gerak-geriknya sedari tadi. Instingnya sebagai seorang pembunuh bayaran tidak bisa diragukan.
Elena berlari secepat kilat. Dia bernapas lega saat mobil itu tidak mengikutinya lagi. Namun rasa leganya tidak bertahan lama saat merasakan ada sebuah benda dingin yang menyentuh pinggangnya.
"Menurutlah, jika kau ingin pria itu selamat."
Elena mengepalkan tangannya. Brengsek, dia tertangkap. Apa yang dimaksud adalah Jonathan? Celaka, jika pria itu adalah Jonathan maka mereka berdua sedang dalam bahaya.
"Kau orang suruhan si brengsek Maximilian?" Elena berucap sinis. Dia bisa saja melawan pria itu dan menghabisnya, tapi Jonathan sedang dalam bahaya. Dia tidak bisa gegabah untuk saat ini, dan tidak ada pilihan lain selain menuruti ancaman musuh.
"Jaga mulutmu, Nona. Kau akan mati jika bossku mendengar ucapanmu."
Elena berdecih. Suka ataupun tidak suka dia tetap mengikuti pria itu memasuki mobil. Mobil berjalan melesat meninggalkan kota menuju kawasan khusus yang menjadi tempat tinggal pria berdarah Italia itu.
Elena terus menguap sedari tadi, mobil sudah berjalan dengan waktu yang lama tapi kenapa masih belum sampai juga.
"Apa masih lama? Sebenarnya dimana bossmu itu membuat rumah, kenapa aneh sekali jalanannya."
Pria berbaju hitam yang sedang duduk di samping Elena terlihat kesal. Elena terus mengoceh sedari tadi, wanita itu terus berkomentar dengan apa yang dilihatnya.
Jika saja bossnya tidak menyuruh membawa Elena dalam keadaan sadar, sudah pasti dia akan membius wanita cerewet itu sedari tadi.
"Diamlah, jangan berisik! Kau membuat telingaku sakit." ucapnya kesal.
Elena menatap sinis pria di sampingnya. "Tutup telingamu rapat-rapat jika tidak ingin mendengar. Lagipula aku berbicara dengan temanmu yang berada di depan."
Kedua pria yang sedang berada di depan tak bisa lagi menahan tawanya saat mendengarkan perdebatan Elena dan rekannya.
"Diamlah Dave, Nick. Jika boss Dom tidak menyuruh aku untuk membawanya, aku tidak akan mau. Dia sangat cerewet dan mengesalkan. Pembunuh bayaran macam apa yang seperti itu." Viors memijit pelipisnya.
Elena terlihat kesal. Memangnya harus seperti apa jika dia seorang pembunuh bayaran?
"Cih, memangnya kau pikir aku seperti apa? Orang yang kejam dan tak berperasaan?"
"Aku yakin kau tidak akan bisa melakukan misimu dengan baik jika seperti itu." Viors tertawa mengejek.
"Kau meremehkanku s*alan." Elena mengepalkan kedua tangannya bersiap untuk melayangkan tinjuannya.
"Sudahlah, kalian berdua jangan bertengkar. Sebentar lagi kita akan sampai." ucap Nick yang sedang mengemudikan mobil.