
Sesampainya di petshop dengan tergesa-gesa Maxime memasuka kunci ke lubang pintu dan berlari ke kamar membereskan baju Milan lalu memasukan baju gadis itu ke dalam tas dan menyembunyikan tas nya di kolong kasur.
Ini belum jam pulang Milan tapi karena kedatangan Ayahnya alhasil Maxime harus kembali ke petshop lagi. Padahal ia sudah janji akan membawa Milan membeli sepatu baru.
Satu jam kemudian rombongan mobil kembali datang ke petshop Maxime. Lihat, Javier seakan punya rombongan sendiri, kemanapun pria itu pergi semua antek-anteknya selalu ikut. Sudah seperti ekor saja.
"Maxi ..." teriak Sky senang berlari kecil dengan melentangkan tangan nya.
Maxime yang sedang duduk beranjak memeluk Ibunya.
"Mommy ..."
"Bagaimana kabarmu?" tanya Sky melepaskan pelukan nya.
"Mom, berapa hari kita tidak bertemu? satu tahun? Mom selalu bertanya kabarku setiap hari."
Sky memukul pelan pundak putra nya. "Anak nakal! sulit sekali mengajakmu makan bersama!"
Maxime hanya terkekeh sebagai jawaban lalu memeluk kembali Ibunya sesaat kemudian memeluk Ayahnya.
"Apa kabar, Maxi?" tanya Javier seraya menepuk pundak Maxime di pelukan nya.
"Jangan tertular virus apa kabar dari Mom, Dad!" bisik Maxime.
"Virus dia mudah menyebar!" sahut Javier pelan.
Athes and the geng lebih memilih menoel-noel Blacky di kandangnya dan sesekali Blacky membuka mulutnya marah sampai hendak mengigit jari Athes and the geng. Tapi semua pria itu malah terkekeh.
Philip terlihat mencari-cari vitamin untuk ternak babi nya. Keenan berjalan ke kamar mandi.
Sisa nya hanya melihat-lihat petshop kecil Maxime.
"Maaf tidak ada kursi untuk kalian jadi duduk lesehan saja di bawah," ucap Maxime.
"Maxi, Mommy Li pakai dress," ucap Liana.
"Ya, Aku juga!" sahut Kara.
"Sudah tau mau ke petshop, masih saja dandan seperti itu!" tutur Thomas seraya menggeleng menatap Kara dan Liana.
"Sulit di atur!" timpal Sekretaris Han.
"Itulah akibatnya tidak mau mendengar ucapanku!" kata Sky yang memakai celana jeans.
"Hey, aku pikir petshop ini sudah di perbaiki jadi lebih besar lagi dan punya sofa yang banyak. Tapi ternyata tetap sama!" kesal Liana.
"Sudah-sudah jangan ribut, duduk yang anggun saja di bawah!" ucap Xander yang kemudian pria tua itu duduk bersila di lantai di ikuti Rania di sampingnya.
"Jangan menganggu kucingku!!" sentak Maxime kepada uncle Athes and the geng yang sedang tertawa menggoda induk kucing yang agresif beserta anaknya.
"Dasar posesif!" kesal Nicholas pelan.
Sementara itu Keenan sedang memilah-milah baju kotor di keranjang, mengambilnya dengan jari telunjuk dan Ibu jari saja, seakan jijik memegang baju-baju tersebut.
"Aku yakin gadis itu tinggal di sini, tapi kenapa tidak ada baju perempuan di sini. Padahal hari itu aku memfoto Maxime menggendong gadis itu di sini." gumam Keenan lalu melempar kembali baju-baju di tangan nya ke keranjang.
Semua orang duduk lesehan di lantai sekarang, Keenan keluar dari kamar mandi dan seketika semua orang menoleh ke arah Keenan.
"Kenapa?" tanya Keenan seraya menaikkan satu alisnya karena menjadi bahan tatapan orang-orang.
"Sedang apa kau di kamar mandi?" tanya Philip.
"Tidur!" sahut Keenan malas lalu bergabung dengan mereka duduk di samping Aiden.
Maxime menatap Keenan penuh arti, seakan curiga dengan sikap Keenan.
"Maxi ... Daddy datang kesini untuk meluruskan sesuatu."
"Apa?" tanya Maxime.
"Apa benar kau memelihara anak babi?"
Maxime menghela nafas mendengar pertanyaan itu. Apa ayahnya sedang bercanda, mengapa menanyakan hal tidak penting.
"Siapa yang bilang?" tanya Maxime dingin.
"Philip," sahut Sky.
Maxime langsung menoleh ke arah Philip yang tampak cengegesan.
Maxime kembali menoleh Ayahnya. "Apa wajahku cocok untuk memelihara anak babi, Daddy?" tanya Maxime dingin dan datar menatap sang Ayah.
Javier langsung mengangguk, melihat ekspresi dingin anaknya ia sudah tahu jawaban nya. "Iya, kau tidak mungkin seperti Philip."
Mereka semua memesan makanan dan makan bersama di petshop kecil milik Maxime. Walaupun duduk lesehan kebersamaan ini terasa hangat, hanya Tessa, Miwa dan Arsen yang tidak ikut bergabung.
"Sulit sekali untuk kumpul semuanya," ucap Sky seraya menyuapkan spageti ke mulutnya.
Maxime tampak gusar sendiri, ia terus melihat jam tangan di tangan nya, setengah jam lagi Milan akan pulang.
Gadis itu tidak boleh melihat keluarga besarnya. Milan akan curiga dengan identitas Maxime, pasalnya cara berpakaian keluarganya terkesan mewah untuk keluarga dari seorang pemilik petshop kecil.
"Kau kenapa, Maxi?" tanya Aiden.
"Kau terlihat gelisah," sambung Nicholas.
Semua orang pun sontak menatap Maxime. "Kau baik-baik saja?" tanya Javier.
Maxime mengangguk. "Iya, Dad."
"Tidak biasanya seorang Maxime yang dingin dan tenang tampak gelisah seperti ini," tutur Athes.
Athes and the geng dan Philip tidak lagi memikirkan soal gadis kecil yang pernah mereka temui, bodo amat soal itu. Berbeda dengan Keenan yang tampak penasaran soal gadis itu sekarang.
"Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan, Maxi ..." ucap Sky dengan menyipitkan matanya menatap Maxime.
"Itu tidak mungkin, Mom!" sahut Maxime.
"Eumm apa kalian tidak kegerahan?" Tanya Maxime.
Semua orang pun saling menoleh, terlihat keringat memenuhi wajah mereka. Wajar saja, petshop kecil tanpa AC tampak pengap dengan banyaknya orang di dalam.
"Kau tidak berniat memasang AC?" Tanya Sekretaris Han.
Maxime menggeleng. "Tidak perlu, biasanya tidak gerah seperti sekarang. Ini karena terlalu banyak orang."
"Iya, panas sekali!" Liana mengibas-ngibaskan tangan di wajahnya.
"Buatlah petshop mu lebih besar lagi, Maxi. Agar kami bisa sering berkunjung ke sini," ucap Javier.
"Untuk apa berkunjung ke petshop, seharusnya aku yang datang ke mansion mu, Dad."
"Kalau kau sadar seharusnya kau datang jangan menunggu kami yang datang ke sini," ucap Kara.
"Oke Mommy Kara ... aku akan sering berkunjung nanti. Aku janji, lebih baik kalian semua pulang sekarang."
"Huhh tukang ngusir!" gumam Philip pelan.
*
Milan sedang berada di dalam Taxi ia memandangi kebun teh yang luas selama perjalanan. Sampai akhirnya tiba-tiba Taxi itu berhenti.
"Ada apa, Pak?" tanya Milan.
"Sepertinya mobilnya mogok," sahut supir itu.
Milan menghembuskan nafas, jarak ke petshop Maxime masih cukup jauh. Supir itu pun keluar untuk memeriksa apa yang salah dengan mobilnya dan Milan pun ikut keluar berdiri di samping supir yang sedang mengutak-ngatik mesin di depan.
Mobil ferrari silver melaju melewati Milan dan supir Taxi itu, arah pandang Milan tertuju ke mobil itu.
"Kenapa ada mobil mewah di desa ini," gumam Milan.
Setelah itu di susul tiga mobil lagi dari belakang, Milan menautkan alisnya ke empat mobil yang melewati nya mobil mahal semua. Siapa mereka.
"Dia kan gadis itu ..." gumam Keenan yang berada di mobil terakhir.
Ia melihat Milan dari jendela, walaupun mobil melaju tapi kepala Keenan terus menoleh ke arah belakang, meneliti wajah gadis yang memakai seragam sekolah. Ya, Keenan yakin dia gadis yang ada di petshop Maxime.
Jonathan yang duduk di samping Keenan menepuk pundaknya.
"Kau kenapa?"
"Aku melihat gadis itu," sahut Keenan.
"Gadis mana?" tanya Nicholas yang duduk di samping Jonathan.
Athes yang duduk di depan pun menoleh ke belakang karena penasaran sementara Philip tetap fokus dengan jalanan di depan sembari menyetir.
"Gadis yang ada di petshop Maxime hari itu ... Oh iya lihat ini."
Keenan mengeluarkan ponselnya dan menunjukan sebuah foto di galeri.
Jonathan dan Nicholas membulatkan mata melihat Maxime menggendong Milan.
"Hei ada apa?" tanya Philip menatap mereka di spion depan.
Jonathan langsung mengambil ponsel Keenan dan memberikan nya kepada Athes. Athes melihat sesaat lalu memperlihatkan foto itu kepada Philip.
Reaksi mereka sama, terkejut dengan foto itu. Mereka pikir setelah mereka pergi dari petshop hari itu, gadis kecil itu juga ikut pergi.
Bersambung