The Devil's Touch

The Devil's Touch
#160



Suara bel membuyarkan lamunan Tessa yang sedang duduk di balkon apartemen nya. Perempuan itu beranjak untuk membuka pintu, ia berpikir pramusaji yang mengantar makanan ke apartemen nya. Karena tadi Tessa memesan makanan.


Tapi ketika pintu terbuka ia malah melihat kehadiran Daniel, berdiri di depan nya dengan tersenyum.


Tessa mendengus lalu hendak menutup pintu tapi Daniel menahan nya dengan kaki nya.


"Tunggu."


"Aku tidak menyuruhmu untuk mengikuti ku sampai ke sini ya!"


"Ya, aku tau. Aku tamu tak di undang, tapi bukankah kau seharusnya menyambut seorang tamu agar sikapmu terlihat lebih sopan Nona Tessa," ucap Daniel mengedipkan sebelah matanya.


"Cih, darimana sikap menyebalkanmu itu!" sahut Tessa.


"Darimu!" sahut Daniel menaikkan satu alisnya seraya tersenyum.


Tanpa menunggu jawaban Tessa lagi Daniel pun masuk ke apartemen Tessa begitu saja.


"Daniel aku tidak menyuruhmu masuk!" teriak Tessa.


"Tuan rumah tidak menyambut tamu dengan baik, jadi biarkan aku bersikap seperti seorang pencuri!" Daniel duduk di sofa.


Tessa akhirnya mengalah, dengan kesal ia menutup pintu apartement nya. Daniel menepuk-nepuk sofa di sampingnya meminta Tessa duduk tapi perempuan itu malah duduk di depan Daniel dengan menyilangkan kaki nya.


"Aku tidak mengizinkanmu untuk tinggal di sini ya!"


Daniel berdecih. "Cih, padahal aku tidak mengatakan akan menginap di sini. Sebaiknya, beri tamu mu ini minuman."


"Ambil sendiri, ada di kulkas." Tessa menoleh ke arah kulkas.


"Kalau tidak mau mengambilkan, aku akan menginap di sini saja!" Daniel tersenyum miring.


Tessa mendengus kasar lalu beranjak mengambil botol minuman beralcohol dan mengambil gelas di dapur. Ia kembali duduk lalu menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas dan menyimpan gelasnya di atas meja.


"Silahkan diminum, lalu keluar dari apart ku!!"


"Sinis sekali Tuan rumah ini." Daniel pun mengambil gelas di meja dan meneguk minuman tersebut lalu kembali menyimpan nya di meja dengan kasar sampai membuat Tessa terlonjak kaget.


Pria itu pun beranjak dari duduknya, Tessa sudah berpikir Daniel akan keluar dari apartemen nya tapi ternyata ia salah, Daniel malah masuk ke kamar mandi.


"DANIEL!!" teriak Tessa.


"AKU HANYA IKUT MANDI SEBENTAR!" sahut Daniel.


Tessa berdecak malas lalu memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan mengunci pintu saja.


Beberapa menit kemudian Daniel keluar dengan kaos putih dan celana jeans, itu pakaian yang ia pakai tadi karena ketika menyusul Tessa ke Negara M, Daniel tidak membawa baju-baju miliknya dan juga belum membeli pakaian setelah sampai di Negara M.


Daniel mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Tessa sampai akhirnya matanya berhenti di salah satu pintu kamar yang tertutup.


Ia pun mendekat dan mengetuk pintu kamar tersebut.


"Tessa." Daniel berteriak tapi tidak ada jawabans sama sekali.


Ada seorang pramusaji yang mengantarkan makanan yang di pesan Tessa.


"Nona Tessa?" tanya pramusaji tersebut untuk memastikan ia tidak salah menekan bel apartemen.


"Eumm saya ..." Daniel menggantung kalimatnya. "Saya tunangan nya." Daniel tersenyum.


"Tolong simpan makanan nya di meja ya," titah Daniel.


"Baik Tuan." Pramusaji itu mendorong troli makanan nya dan memindahkan semua makanan yang Tessa pesan dari troli ke meja. Setelah selesai pramusaji tersebut pun keluar dari apartemen Tessa.


"Permisi Tuan ..." Perempuan itu membungkukan badan nya sopan yang di balas anggukan kecil dari Daniel.


Daniel menutup pintu dan duduk di sofa seraya mengedarkan pandangan nya ke meja yang penuh dengan makanan pedas.


"TESSA MAKANANMU SUDAH DI SINI!!" teriak Daniel.


Akhirnya Tessa keluar dari kamar membuat Daniel menyunggingkan senyumnya.


"Kau tidak bisa menahan perutmu yang kelaparan ternyata."


Tessa mengacuhkan ucapan Daniel, ia memilih duduk di depan Daniel dan mengambil spageti di meja.


Daniel hanya diam memperhatikan Tessa makan sampai akhirnya perempuan itu menatap Daniel.


"Kau tidak makan?" tanya nya.


"Aku pikir kau tidak akan menawariku makan," sahut Daniel.


Tessa memutar bola matanya malas. "Makan saja, aku tidak mau kau mati kelaparan di sini dan merepotkan ku!"


Daniel tersenyum, menarik punggung nya dari sandaran kursi hanya untuk menatap makanan yang semuanya pedas. Tidak ada yang tidak pedas.


Kemudian pria itu menghela nafas karena sejujurnya Daniel tidak bisa makan makanan yang pedas.


"Kenapa? kau tidak suka?" tanya Tessa.


Daniel terpaksa mengangguk. "Suka." Kemudian pria itu mengambil daging di mangkuk, menyendok daging tersebut dan memasukan nya ke mulut dengan ragu-ragu.


Tapi karena Tessa memperhatikan dirinya, alhasil Daniel melahap daging tersebut mengunyahnya perlahan, rasa pedas perlahan menjalar di dalam mulutnya. Ia menghela nafas dengan wajah memerah, Tessa hanya menatap dengan menaikkan satu alisnya bingung. Dan akhirnya.


"Aaakkhhh!!" Daniel menjulurkan lidahnya yang terasa panas lalu menyambar segelas juice di atas meja dan meneguknya kasar sampai sebagian tumpah ke lehernya.


"Daniel kau--"


"Aku tidak suka pedas," potong Daniel.


Tessa pun buru-buru mengambilkan air putih di dapur dan memberikan nya kepada Daniel. Lagi, Daniel meneguknya dengan kasar.


Bersambung