The Devil's Touch

The Devil's Touch
#192



Malam hari di sebuah gedung, acara persiapan sudah di lakukan, para anak buah Javier dan Maxime saling bergotong royong membantu. Termasuk Keenan dan para ekornya.


Keenan sedang menyusun bunga untuk di letakan di meja tamu besok, Philip sedang menggotong kursi bersama Sergio, Aiden dan Jonathan.


Sementara Nicholas, Athes dan Samuel sedang mengelap meja. Sebenarnya semua kursi dan meja sudah bersih, tapi Liana tadi datang dan meminta semua meja di lap kembali agar tidak ada noda sedikitpun di pernikahan putri semata wayangnya.


Nicholas berdecak seraya melempar kain lap nya. "Menyebalkan, aku dulu pemanah yang hebat. Kenapa sekarang malah mengelap meja seperti ini!!"


Jonathan yang sedang menggotong kursi di pundaknya berhenti di dekat Nicholas. "Aku juga dulu penembak yang handal. Tapi malah menggotong kursi seperti ini sekarang!!"


Jonathan kembali berjalan untuk menyimpan kursinya. Kemudian ia kembali menghampiri Nicholas bersama Philip.


"Sudah lama tidak ada senam jantung," ucap Philip lalu duduk di salah satu kursi dekat Nicholas.


"Senam jantung apa maksudmu?" tanya Athes seraya terus mengelap meja.


"Ya senam jantung, tidak ada peperangan, tidak ada bertengkar lagi. Kita benar-benar hidup damai sekarang, tapi anehnya aku tidak suka," sahut Philip.


"Ya, aku juga suka ketika kita melawan mudork. Perang besar sampai mudork mati, tapi masalahnya sekarang kita tidak bisa seperti dulu lagi. Kita sudah tua, jantung kita pasti mati sebelum menyerang musuh," ucap Aiden seraya terkekeh.


"Ahhh ... waktu berlalu begitu cepat." Sergio datang menghampiri mereka lalu duduk di dekat Philip.


"Aku juga merindukan masa-masa dulu," ucap Samuel. "Pistol, mainan kita saat itu. Tidak seperti sekarang, yang ada di tanganku malah kain lap. Tuh lihat mantan Sekretaris Sky, dia malah sibuk merangkai bunga." Samuel menunjuk Keenan dengan dagu nya yang asik sendirian merangkai bunga.


"Dia pasti tidak merindukan peperangan seperti kita, karna dari dulu dia tidak bisa apa-apa," ucap Philip.


"Dia hanya menjadi buntut Sky saja dari dulu," sambung Jonathan.


"Menurut kalian, apa pernikahan Maxime dan Milan tidak akan ada yang menganggu?" tanya Sergio kepada yang lain.


"Yang menganggu sudah pasti ada, tapi Maxime tidak membutuhkan kita untuk membantu dia," sahut Jonathan.


"Ya karena kita sudah tua, mungkin anak itu berpikir kita sudah tidak bisa apa-apa lagi," sambung Samuel.


Kemudian Keenan datang menghampiri mereka setelah selesai merangkai beberapa bunga. Ia menarik kursi dan bergabung bersama yang lain.


"Ahhh ... melelahkan sekali," keluhnya lalu menempelkan punggungnya di sandaran kursi.


"Hei kau, tukang bunga. Hanya duduk menyusun bunga saja kau mengeluh!" ucap Samuel.


"Ya, yang lain sudah pernah menggotong meja dan kursi. Kau dari awal pernikahan Maxime sampai pernikahan Tessa, terus saja menyusun bunga!!" Pekik Jonathan.


"Yang penting kerja," sahut Keenan santai dengan tersenyum.


"Aku akan meminta Maxime menurunkan gaji mu, karena ini tidak adil!!"


"Bukan iri, hanya ingin semuanya terlihat adil saja ."


"Ya itu namanya iri!!"


Yang lain hanya menatap bergantian Keenan dan Athes yang tak henti-hentinya adu mulut.


"Kau lemah, saat muda hanya menjadi sekretaris saja. Tidak bisa melawan musuh, sudah tua malah sibuk merangkai bunga!!"


"Apa maksudmu berbicara seperti itu Athes!!"


"Aku curiga kalau kau mati, bunga nya di rangkai sendiri!!" ucap Athes seraya menahan tawa nya membuat emosi Keenan memuncak.


"Kau!!" Keenan beranjak dari duduknya hendak menghampiri Athes tapi tiba-tiba suara Javier menghentikan langkah Keenan.


"Jangan bertengkar di sini!"


Semua orang menoleh ke arah Javier. Ada Sekretaris Han dan juga Thomas di samping kiri dan kanan Javier.


"Hadeh ... trio macan ini mau apa datang ke sini," gumam Philip.


Pasalnya selain Keenan yang selalu bersama-sama dengan para buntutnya. Ada Javier, Thomas dan Sekretaris Han yang selalu bertiga kemanapun mereka pergi. Sampai tak jarang Philip dan yang lain menyindir Javier dengan sebutan trio macan.


"Kalian ini ya ... sudah tau kan tugas kalian apa? malah duduk di sini!! bantu yang lain!!" ucap Javier seraya memercak pinggang.


"Kita ini hanya istirahat sebentar," sahut Jonathan.


"Pernikahan putriku besok pagi, tidak ada waktu lagi!" ucap Thomas.


"Percayakan saja kepada kami, apa susahnya. Pernikahan Maxime dan Miwa saja tidak ada yang gagal," ucap Aiden.


"Kalian juga untuk apa datang ke sini, tidak seperti biasanya," ucap Keenan.


"Memangnya kenapa kalau kita ke sini kakak ipar?" Sekretaris Han tersenyum.


"Hentikan senyum mu itu, Han. Kau di depanku saja baik, di belakang suka sekali menjelek-jelekanku!!"


Sekretaris Han pun memudarkan senyumnya lalu berdecak dan berjalan untuk melihat gedung yang sedang di hias. Hampir selesai.


"Kembali bekerja atau gajih sepuluh kali lipat dari Maxime hilang!!" ucap Javier membua mereka segera beranjak dari duduknya dan kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Thomas hanya menggelengkan kepalanya melihat mereka selalu grasak-grusuk tidak jelas kalau sudah di ancam dengan uang.


Bersambung