
Setelah perdebatan dengan kawanan banci itu, akhirnya para banci itu mengantar Maxime ke rumah Tuan Gulnaro.
Sebelumnya mereka berdebat karena para banci yang meminta foto bersama dengan Maxime tapi Maxime menolak.
Dan sebagai senjatanya, para banci itu mengatakan jika mereka tidak akan memberitahu rumah Tuan Gulnaro. Akhirnya Maxime pun luluh.
Satu motor scoopy merah di isi oleh tiga banci, motor Maxime mengikutinya dari belakang. Dan ternyata rumah Tuan Gulnaro berada di ujung kampung tersebut. Mereka semua turun dari motornya.
"Kalian yakin ini rumahnya?" tanya Daniel menatap gubuk kecil di depannya, di dekat pintu ada api kecil sebagai lampu.
Rumah Tuan Gulnaro berbeda dengan yang lain, atapnya hanya memakai jerami, dindingnya memakai kayu. Rumahnya terlihat seperti gubuk yang hampir runtuh.
"Biar eyke yang ketuk pintu," ucap banci bernama Miranda yang memakai kaos dan rok pink, rambutnya memakai wig berwarna abu, lengkap dengan polesan make up di wajahnya.
Tok Tok Tok
Tidak ada yang membukakan pintu, Miranda kembali mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Tuan Gulnaro yuhuuuu ..." teriaknya dengan suara melengking.
Tok tok tok
"Tuan Gulnaro ..."
"Biar aku saja," ucap Maxime. Ketika tangannya hendak mengetuk pintu tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam.
Terlihat pria tua dengan tubuh yang gemuk, janggut panjang berwarna putih, tubuhnya sedikit bungkuk dengan tangan memegang tongkat. Dan lagi warna kulitnya sangat putih, putih pucat seperti mayit membuat Daniel menoleh ke arah Arsen karena Tuan Gulnaro tidak mirip manusia. Apalagi pandangannya yang kosong dan tajam.
Maxime sempat menoleh ke arah para banci hanya untuk memastikan apa mereka tidak salah alamat.
"Tuan Gulnaro memang seperti itu," ucap banci berambut pendek bernama Susi.
Maxime berdehem sesaat. "Apa kau Tuan Gulnaro."
Tuan Gulnaro mengangguk perlahan.
"Begini, saya dan teman saya." Maxime menatap Arsen dan Daniel kemudian kembali menatap Tuan Gulnaro.
"Kami kesini untuk membeli beberapa buah strawberry yang langsung dari kebun anda."
Tuan Gulnaro menganggukan kepala lagi lalu berjalan masuk ke rumahnya, ia berjalan perlahan dengan kaki gemetar karena usianya yang sudah tua.
Maxime masuk ke dalam di ikuti yang lain, ia duduk di salah satu kursi kayu di sana. Daniel dan Arsen pun ikut duduk, begitupula dengan para banci. Tuan Gulnaro sedang menyiapkan minum.
"Tidak bisakah kita pergi ke kebun sekarang," ucap Arsen.
"Sabar dulu dong," ucap Miranda dengan suara kemayu nya.
Tuan Gulnaro membawa nampan berisi teh hangat untuk mereka, si banci yang bernama Bella langsung membawa nampan itu dari tangan Tuan Gulnaro karena melihat tangannya yang gemetar.
"Minum ..." ucap Tuan Gulnaro kepada mereka.
Mereka pun menurut langsung mengambil gelas masing-masing.
Mereka berbincang beberapa menit, memperkenalkan diri satu sama lain. Tuan Gulnaro tidak tahu siapa Maxime karena tidak pernah mencari tahu tentang mafia di negaranya, setiap hari dirinya hanya di sibukan untuk mengurus kebun strawberry nya saja.
Maxime, Arsen, Daniel dan para banci itu turun ke bawah melewati beberapa anak tangga untuk ke kebun Tuan Gulnaro setelah meminta izin kepada Tuan Gulnaro.
Maxime terlihat sedang berbicara dengan Milan di telpon.
"Aku mau memetik strawberry nya sekarang sayang. Bilang kepada si kembar untuk sabar."
"Aku akan menunggu, tapi cepatlah sedikit hehe ..."
Maxime tersenyum. "Oke ... oke, aku langsung pulang setelah dapat strawberry yang paling besar, oke."
Mereka mulai memetik strawberry itu dengan senter yang melingkar di kepala mereka karena kebun yang gelap. Ada wadah kecil yang mereka pegang. Miranda, Susi dan Bella juga ikut memetik Strawberry.
"Tuan ... butuh istri kedua tidak heheheh," ucap Miranda menggoda.
Maxime tidak menanggapi, dia hanya diam dan fokus memetik strawberry nya.
"Uhhh ... semakin diam semakin tampan saja, Tuan brewokan ..." sambung Bella.
"Auwwww!!" Susi menjerit keras ketika ada katak yang meloncat ke kakinya.
Daniel mendengus kasar melihat Susi yang meloncat-loncat seraya menjerit-jerit dengan suara melengking nya.
"Mereka lebih menyeramkan dari ular berbisa sekalipun," gumam Daniel.
Setelah mendapatkan strawberry nya, mereka pun kembali ke rumah Tuan Gulnaro untuk mengambil kantung plastik.
"Sedihnyaaaa ... baru pertama kali bertemu harus berpisah lagi denganmu Tuan tampan ..." Miranda berkata seraya menekuk wajahnya.
Untuk kesekian kalinya Maxime mengacuhkan keberadaan Miranda, seakan tidak ada orang yang berbicara dengan dirinya.
Arsen memberikan beberapa gepok uang untuk Tuan Gulnaro.
"Pakai untuk memperbaiki rumahmu ini," ucap Arsen.
Tuan Gulnaro menatap tak percaya uang di tangannya, hasil mengirim buah-buahan ke pasar tidak sebanyak ini.
Setelah pembayaran selesai, mereka kembali menaiki motornya, begitupula dengan para banci itu.
"Tuan boleh aku minta nomor telponmu?" ucap Bella kepada Maxime.
"Tuan ..." rengek Bella.
"Ih eyke di cuekin."
"Aaaa Tuan ..." Bella merengek dengan memegang tangan Maxime yang sedang membelokan motornya.
Arsen dan Daniel yang duduk di belakang Maxime melebarkan matanya melihat sikap Bella.
Maxime mendengus kasar, ia merogoh sesuatu di dalam jaket yang ia kenakan. Sebuah pistol ia todongkan ke arah mereka.
"Aaaaaaaa ..." sontak mereka menjerit dengan suara melengking.