
Milan duduk di depan Maxime yang duduk menyenderkan punggung nya ke kursi seraya tangan bersedekap dada.
Semua siswi perlahan bubar dari kantin setelah Milan beberapa kali berteriak untuk meminta mereka tidak berkerumun di satu tempat.
"Teriakan mu lumayan juga ketika marah," ucap Maxime seraya menarik ujung bibirnya tersenyum.
"Aku hanya lapar," sahut Milan lalu berteriak kepada Bi Ina penjaga kantin. "Bakso satu, bi!"
"Siap, Non!" sahut Bi Ina seraya mengacungkan jempolnya.
Maxime menoleh ke arah Bi Inah lalu kembali menoleh kepada Milan, sepertinya antara penjaga kantin dan Milan sudah saling dekat satu sama lain.
Tanpa sadar di beberapa meja yang lain para siswi yang di usir Milan tadi sedang membicarakan mereka.
"Liat-liat, si gatel Milan lagi caper," ucap Shalma menyikut teman di sampingnya.
"Kok bisa dia duduk di situ ya, kaya orang yang udah kenal deket," sahut Tasya, teman nya.
"Ya nama nya juga perempuan penggoda, pasti berani lah duduk sama orang yang belum di kenal juga!" sahut Shalma.
"Pak Muklis ganteng tapi selera nya kok Milan sih," sambung Nia yang duduk di depan Shalma.
"Aku bener-bener engga terima!" Shalma menggeplak meja beranjak dari duduknya menghampiri Milan dengan raut wajah kesal. Karena Shalma menyukai Maxime tanpa sepengetahuan orang-orang.
Maxime yang sedang mengobrol bersama Milan pun segera beranjak menangkap tangan Shalma yang hendak menjambak rambut Milan dari belakang.
Milan segera berdiri menoleh ke belakang, ia membulatkan mata melihat Maxime memegang kuat tangan Shalma.
Shalma memberontak, tapi tangan nya tidak bisa lepas dari Maxime.
"Shalma kamu ..." Milan segera memisahkan tangan keduanya.
"Hei perempuan penggoda!" tunjuk Shalma ke wajah Milan. "Kamu sekolah cuman mau godain Pak Muklis hah!"
"Godain?" tanya Milan tak terima. "Hei, aku tidak menggoda siapapun di sini!" sentak Milan.
"Dasar perempuan penggoda!" sentak Shalma.
"Dasar perempuan tidak tau diri!" sahut Maxime dengan tenang tapi cukup membuat Shalma dan Milan kaget dan menoleh ke arahnya.
"K-kau bilang apa?" tanya Shalma.
"Perempuan tidak tau diri!" ulang Maxime.
"Apa maksudmu Pak Muklis?!"
"Pikirkan sendiri!" sahut Maxime lalu melengos meninggalkan mereka.
Shalma masih bertanya-tanya, kenapa Maxime mengatakan hal itu kepada nya. Apa Maxime tahu kalau dirinya menyukai Maxime dan perkataan Maxime seperti menyuruh Shalma untuk sadar diri.
Milan memilih mengejar Maxime.
"Muklis tunggu Muklis!!"
Bugh
Langkah Maxime berhenti mendadak membuat Milan yang berlari akhirnya menubruk punggung Maxime. Pria itu pun berbalik.
"Kau bilang apa tadi?" tanya Maxime.
"Muklis," sahut Milan.
Maxime menghela nafas kasar, tak apa jika orang lain memanggilnya Muklis tapi bisakah jangan gadis di depan nya ini, jangan Milan.
"Maxime," ucap Maxime meminta Milan memanggil dengan nama aslinya.
"Kau kan Maxime, lagi pula kenapa nama mu berubah jadi Muklis. Jangan bilang kalau Muklis nama aslimu dan Maxime nama samaran mu," ucap Milan seraya tangan bersedekap dada.
"Tidak ada satpam dengan nama Maxime, jadi aku mengubahnya sedikit lebih jelek."
"Kenapa?" tanya Milan.
"Sudahlah tidak penting, kita pergi saja." Maxime hendak meraih tangan Milan tapi gadis itu menepisnya.
"Jangan pegang-pegang di sekolah, aku tidak mau ada rumor aneh tentang aku di sini."
"Itu bukan rumor, memang kenyataan nya kita punya hubungan bukan?" tanya Maxime seraya tersenyum tipis.
"Hah, apa maksudmu. Aku bahkan belum mengatakan ..." Milan menggantung kalimatnya.
"Mengatakan apa?" goda Maxime mengedipkan mata nya seraya sedikit membungkukan badan agar wajahnya lebih dekat dengan wajah Milan.
"Mengatakan ..."
BRUKH
Tubuh Milan di tubruk beberapa siswa-siswi yang berlari menuju papan mading, untung saja Maxime dengan sigap menangkap tubuh gadis itu.
"Kenapa mereka itu!" kesal Maxime.
Milan melepaskan pelukan Maxime. "Nilai ulangan tadi di pajang di papan mading."
Milan mengangguk. Dan dengan semangat Maxime ikut berlari di antara para murid dengan seragam satpam nya.
Milan menaikkan satu alisnya, apa Maxime sadar kalau dirinya bukan seorang murid di SMA Ganesha, melainkan seorang satpam.
Gadis itu pun akhirnya ikut berlari mengejar yang lain. Ide Mr Rian lah yang meminta setiap hasil ulangan di pajang di papan mading agar mereka yang punya nilai buruk mempunyai rasa malu sedikit dan mau belajar lebih giat agar nilai buruk nya itu tidak lagi di pajang dan di tertawakan siswa yang lain.
Bukan hanya nilai buruk saja yang di pajang, nilai tertinggi pun di pajang di sana.
Maxime mendengus melihat para murid mengerumuni kertas putih yang menempel di papan mading, sedikit sulit karena harus berdesakan. Kalau saja mereka semua laki-laki, sudah Maxime tarik satu persatu agar menjauh, tapi masalahnya kebanyakan perempuan, Maxime harus sedikit mengalah.
Terdengar tawa dari mereka yang melihat nilai paling jelek dan sorak senang dari mereka yang mendapat nilai sempurna.
"Minggir-minggir."
Milan menerobos begitu saja mereka yang sedang berkerumun untuk melihat hasil ulangan nya tadi. Mereka yang tidak terima pun menyuraki Milan.
Jari telunjuk Milan bergerak mencari nama nya, setelah ia melihat nilai yang ada di sana matanya berbinar seketika di ikuti senyuman terlukis di wajahnya.
"YEAYYY!!" teriak Milan seraya melompat senang.
Maxime yang melihat itu pun tersenyum, apa nilai ulangan Milan bagus. Apa Milan ingat semua hal yang di ajari Maxime.
"Berapa Milan?" tanya Maxime di belakang.
Milan pun berbalik dan menghampiri Maxime. "Kau mau tau berapa?"
Maxime mengangguk dengan senyuman.
"LIMA PULUH! YEAYYY!!" teriak Milan membuat senyuman di wajah Maxime pudar seketika.
Dan sekarang gadis itu terlihat melompat-lompat girang seraya berteriak.
"Yeayy ... Yeayy ... lima puluh ... yeayy ... yeayy lima puluh ... aku hebat ... aku hebat ..."
Jangan tanya seberapa kesalnya Maxime melihat Milan seperti itu.
"Milan ..."
"Yeayy ... yeayyy ... lima puluh ..." gadis itu tidak menanggapi panggilan Maxime, ia terus melompat seraya berputar-putar senang.
Maxime menghela nafas lalu memegang kedua bahu Milan agar diam dan berhenti melompat.
"Apa yang kau senangi dari nilai lima puluh?"
"Hei itu sudah besar, biasanya paling besar tiga puluh," sahut Milan.
Seketika Maxime menepuk jidatnya, seakan ingin sekali bertanya kepada gadis itu kemana pelajaran yang dia ajarkan selama ini.
"Apa kau tidak senang?" tanya Milan.
Dengan terpaksa Maxime mengangguk. "Ya, aku senang. Setidaknya naik dua puluh," sahut Maxime dengan senyum di paksakan.
"Tapi kau harus berusaha agar mendapatkan nilai seratus, janji?" Maxime mengelus puncak kepala Milan.
"Tidak bisa janji sih karena itu tidak mungkin, tapi aku usahakan," sahut Milan membuat Maxime kembali tersenyum karena Milan mau berusaha lagi.
Alvin, Aken, Tino dan Faiz berlari ke mading, menerobos dan menubruk mereka yang menghalangi mading.
"Minggir ... minggir ..."
Lagi-lagi seperti Milan, mereka mendapat surakan tidak suka dari yang lain.
"Yeaayyyy dua puluhhh ..."
Alvin dan yang lain bersorak senang seraya melompat dan saling berpelukan karena mendapatkan nilai buruk.
Menurut mereka tidak ada yang salah dengan nilai buruk yang penting jangan sampai nol.
"Milan kau berapa Milan?" tanya Tino menghampiri Milan.
"Lima puluh!" sahut Milan dengan semangat lalu mata Tino dan yang lain pun melebar seketika, seakan tidak percaya jika Milan mendapatkan nilai lima puluh. Biasanya di bawah itu.
Tino dan yang lain pun sontak memeluk Milan, mereka semua bersorak senang. Tertawa dengan nilai mereka yang di anggap cukup.
Maxime memandang mereka kesal karena berani memeluk Milan, pria itu pun segera menarik tangan Milan untuk mendekat ke arahnya.
"Apa yang di bangga kan dari nilai kalian?" tanya Maxime.
"Bangga lah, setidaknya tidak dapat nol Pak Muklis," sahut Alvin.
"Iya Pak Muklis, biasanya kita-kita ini dapet telur ceplok eh sekarang telurnya netas jadi angka dua puluh hahaha," sambung Aken.
Mata Tino bergerak ke arah tangan Milan yang di genggam Maxime. Ia menautkan kedua alisnya seakan bertanya kenapa Maxime memegang tangan Milan.
"Pak Muklis, kenapa pegang tangan Milan?" tanya Tino.
Sontak Milan pun melepaskan tangan nya dari genggaman Maxime.
Bersambung