The Devil's Touch

The Devil's Touch
#48



Maxime kembali duduk bersama keluarga William dan Xander pun berbisik.


"Dimana adikmu?"


"Di atas bersama Mom," sahut Maxime.


"Maaf Tuan Maxime, bagaimana selanjutnya. Apa Daniel dan--"


"Maaf Tuan William, sepertinya perjodohan ini di batalkan saja karena Miwa tidak bisa menerima Daniel," potong Maxime menoleh ke arah Daniel yang kini terlihat menghela nafas.


"Ada apa dengan Miwa, padahal Daniel pria yang baik," bisik Kara kepada Sekretaris Han.


"Sudahlah, tidak perlu ikut campur," sahut Sekretaris Han.


Tak lama kemudian Javier pun kembali ke ruang tamu dan ikut bergabung bersama mereka.


"Tuan Javier ... saya sudah mendengar dari Maxime."


"Maafkan saya Tuan William ... seharusnya saya memberitahu Miwa terlebih dahulu."


"Tidak apa, saya mengerti. Kalau pun di teruskan pernikahan ini tidak akan baik untuk Daniel dan Miwa."


"Saya juga tidak akan memaksa Tuan Javier," sambung Daniel seraya tersenyum.


"Kalau begitu kami permisi dulu." Keluarga William pun berdiri dan yang lain ikut berdiri untuk menghormati tamu mereka.


Daniel berjabat tangan dengan Maxime. "Saya harap permasalahan ini tidak menganggu kerjasama bisnis kita," ucap Maxime.


"Tentu saja tidak akan," sahut Daniel.


Mereka berpamitan, Javier dan Maxime mengantar keluarga William sampai ke teras depan.


Setelah itu mereka semua kembali berkumpul bersama di ruang tamu dengan Miwa yang kini sedang menyantap makanan di atas meja yang di siapkan untuk keluarga William tadi.


Javier duduk di samping Sky lalu menghela nafas melihat tingkah putri nya yang dengan santai nya ia makan.


"Max, Tessa tidak ikut?" tanya Kara.


"Dia di mansion, mungkin nanti malam ke sini," sahut Maxime.


"Sayang, Maxime tadi tidak sopan kepadaku." Javier mengadukan kelakuan putra nya kepada Sky.


"Sudahlah, itu karena kau berbuat sesuka hatimu. Seharusnya bicarakan terlebih dahulu dengan Maxime dan Miwa."


"Betul, Mom. Aku setuju denganmu," sahut Miwa dengan semangat.


Javier berdecak. "Tidak ada satupun yang memihak ku!!"


"Aku memihak mu, Daddy Avier," sambung Arsen.


"Karena Kak Arsen memihakmu Dad, aku juga memihak mu sekarang," sambung Miwa lalu menyuapkan jeruk ke mulutnya.


"Kalian ini, seperti anak kecil saja!" pekik Rania.


"Miwa gagal menikah, siapa targetmu yang akan kau jodohkan lagi Javier?" tanya Sekretaris Han lalu Javier menoleh ke arah Maxime.


"Menjinakkan anak perempuan saja tidak bisa, apalagi aku!!" ucap Maxime seakan peringatan keras untuk sang Ayah bahwa dirinya tidak mungkin bisa di jodohkan.


"Oh ayolahh ... apa kalian tidak akan memberikan Daddy ini cucu?" kesal Javier.


Miwa mengangkat tangan nya. "Aku Dad, aku akan memberikanmu cucu."


Kara menaikkan satu alisnya heran. "Kau baru saja mengagalkan perjodohanmu, kau mau punya anak dari siapa Miwa?"


"Ada kok, Mommy Kara. Tenang saja," sahut Miwa membuat semua orang kebingungan.


Kecuali Maxime, yang langsung mendelik ke arah Arsen. Sebenarnya Maxime tidak tahu kalau Miwa hendak mengejar cinta nya Arsen, hanya saja Miwa bilang kalau ada pria yang akan berani menghadapi Maxime. Satu-satu nya pria yang berani menghadapi Maxime hanya Arsen. Maxime hanya mencoba menebak saja, semoga saja tebakan nya salah. Itu yang Maxime harapkan.


Sementara Peter dan Jack walaupun sahabat tetap mempunyai sedikit rasa takut dengan Maxime. Dan lagi dua pria itu tidak mungkin berani mendekati Miwa.


*


Di Petshop Keenan membawa beberapa makanan untuk Milan, mereka makan bersama.


"Eumm paman ... paman tinggal dimana?" tanya Milan.


"Di rumah," sahut Keenan lalu melahap burger di tangan nya.


"Berdiri di atas tanah," sahut Keenan lagi lalu menusuk minuman dengan sedotan nya.


Keenan di larang berbicara aneh-aneh oleh Maxime, jadi dia menjawab seenaknya saja.


"Paman ... aku serius ..."


"Aku juga!"


Milan mengigit bibir bawahnya, ia memikirkan cara agar lebih mudah mencari identitas Maxime. Dan siapa tahu Keenan punya petunjuk, tapi ternyata tidak mudah berbicara dengan pria tua di depan nya ini.


"Eumm ... paman yang lain ada dimana sekarang? dulu bukan hanya paman yang datang ke sini."


"Ada," sahut Keenan.


"Dimana?" tanya Milan.


"Di rumahnya," sahut Keenan lagi.


"Rumahnya dimana?"


"Di--"


"Dia atas tanah," potong Milan dengan muka menyemenye, seakan meledek jawaban yang akan di lontarkan Keenan.


"Kalau tau tidak perlu bertanya," sahut Keenan lalu menyeruput minuman nya.


Milan menemukan ide, ia tersenyum ketika melihat tangan kanan Keenan di atas meja. Milan hendak mengambil minuman nya dan pura-pura menyenggol minuman tersebut sampai tumpah ke tangan Keenan.


"Hei kau ..." Keenan yang kaget jam tangan mahal langsung berdiri dan membersihkan tangan nya dengan tisu.


"Ma-maaf ... maaf paman aku tidak sengaja. Sini biar aku bersihkan."


Milan mengambil tisu dan membantu mengeringkan tangan Keenan tapi Keenan menepisnya.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri."


"Tidak paman, aku harus bertanggung jawab." Milan kembali memegang tangan Keenan.


"Lepaskan dulu jam tangan nya agar tidak rusak."


Milan dengan cepat melepaskan jam tangan Keenan dan tiba-tiba ia mematung karena kaget melihat tatto bola api merah di sana.


"Lambang Yakuza berada di belakang leher mereka dengan tatto sayap garuda dan lambang Antraxs ada di pergelangan tangan mereka dengan tatto bola api merah. Sementara pemimpin nya mempunyai kedua lambang tersebut dan hanya di miliki oleh putraku, Maxime De Willson."


Suara Javier seakan berputar di kepala Milan, ia tidak salah lihat paman di depan nya ini mempunyai lambang Antraxs. Itu artinya Maxime ... mempunyai lambang keduanya.


Tidak, ia harus memastikan terlebih dahulu. Ia akan percaya kalau sudah melihat dua lambang itu di pergelangan tangan Maxime.


"Ada apa? kau kenapa? Hei ..." Keenan mengibaskan-ngibaskan tangan nya di depan wajah Milan.


Milan sontak mengerjapkan mata. "Tidak, tidak Paman."


"Aku akan membersihkan jam nya dulu."


Milan duduk dan mengeringkan jam tangan milik Keenan. Seraya sesekali melihat ke arah Keenan yang sedang mengelap tangan nya.


Suara mobil mendekati petshop mereka dan itu Maxime. Setelah mengantar Miwa ke mansion ia kembali ke petshop.


Sementara Arsen kembali ke kantornya saja, awalnya Miwa ingin ikut Arsen tapi Arsen menolak dan meminta Maxime mengantarkan Miwa ke mansion saja.


Maxime masuk ke petshopnya setelah mengganti pakaian nya menjadi seragam satpam lagi. Keenan dan Milan pun menoleh.


"Sudah pulang," ucap Milan lalu meletakkan jam tangan milik Keenan di meja.


Maxime mengangguk lalu menoleh ke arah Keenan. Dan Keenan yang mengerti pun langsung mengambil jam tangan nya dan keluar dari petshop.


"Jangan lupa transfer," ucap Keenan pelan ketika melewati Maxime.


Maxime menghampiri Milan dan meraup kedua pipi gadis itu dengan kedua tangan nya lalu mengecup kening Milan.


"Kau merindukanku?" tanya Maxime.


Milan memegang tangan Maxime seraya tersenyum lalu dengan cepat ia melepaskan jam tangan Maxime dan sontak mata nya membulat melihat lambang sayap burung garuda dengan bola api merah di atasnya.


Bersambung