
Aberto menelpon Smith yang sedang memperhatikan api yang mulai merembet mansion Gabriel.
"Ya, Tuan?"
"Kau dimana, Smith?"
"Aku di dalam helicopter Tuan ..."
"Menjauhlah, biarkan yang lain yang membereskan!"
"Aku berharap kita menang Tuan."
"Dan aku berharap kau selamat ..."
"Tuan--"
"Smith, jika kita menang, itu keberuntungan. Aku hanya ingin kau selamat karena kau harus menjaga Magma ..."
Smith menghela nafas. "Baik, Tuan."
Satu helicopter menjauh. Di halaman mansion, Yakuza dan Antraxs banyak yang menang, mereka berhasil membunuh anak buah Recobra karena jumlah mereka jauh lebih banyak.
Tapi masalah muncul di dalam mansion, mereka yang berada di tangga darurat tidak bisa keluar dari sana karena pintu terkunci, tidak bisa pula mendobrak pintu karena terkurung di dalam. Maxime menendang kesal pintu itu.
Mansion Gabriel di desain mirip seperti hotel, banyak lorong dan kamar untuk para pekerjanya, tapi hanya ada satu tangga darurat ini saja.
"Kembali ke atas!" ucap Maxime menarik tangan Milan. Arsen dan yang lain pun mengikuti, mereka kembali ke ruangan tempat pesta tadi dengan berlari tergesa-gesa.
Maxime berlari mendekati jendela yang sudah setengah hancur, ia menunduk menatap anak buahnya yang saling berjibaku satu sama lain, ia bisa melihat Yakuza dan Antraxs berhasil mengalahkan Recobra walaupun masih ada anak buah Recobra yang belum mati.
"Kita tidak mungkin loncat," ucap Daniel mendekati Maxime.
"Asap apa itu ..." Arsen mendongak menatap gumpalan asap di atas sana.
Miwa, Tessa dan Milan pun ikut mengintip dari jendela lain, mereka mendongak ke atas, melihat kepulan asap hitam membumbung di udara.
"Itu seperti ..." Miwa menggantung kalimatnya. "Apa mansion nya kebakaran?" Miwa langsung melebarkan matanya.
Maxime mengepalkan tangannya kuat sampai memperlihatkan urat di tangannya. "Sial*n!!" geramnya.
Milan terlihat ketakutan, berbeda dengan Miwa dan Tessa yang terlihat lebih santai. Milan saja bingung kenapa dua perempuan itu terlihat tidak panik sama sekali.
Dan tiba-tiba ada tangga gantung yang jatuh begitu saja di dekat kepala mereka, mereka mendongak kembali dan melihat Javier di dalam helicopter.
"Cepat naik!!" teriak Javier.
Para istri pun menghampiri suami mereka.
"Sayang, kau naik lebih dulu," titah Maxime.
"Tapi bagaimana denganmu?" terlihat Milan begitu panik.
"Jangan pikirkan aku, cepat naik!!" Maxime membantu Milan naik ke tangga gantung tersebut sementara Miwa menggerutu sendirian seraya mengelus-ngelus perutnya.
"Si bedeb*h itu pasti membuat kalian ketakutan kan sayang? kasian sekali kalian, untung saja kalian belum di kasih nyawa karena belum empat bulan sayang. Tenang, Mom dan Dad akan selalu menjaga kalian ya kembar."
"Kau ini sedang apa, ayo cepat naik!" Arsen menarik tangan Miwa untuk menyuruh istrinya itu naik ke tangga gantung.
"Ih, aku ini sedang menenangkan anakmu!" sahut Miwa.
Ketika Miwa hendak naik, ia tak sengaja menatap ke bawah, ada anak buah Recobra yang mengarahkan pistolnya ke arah Milan.
"Milan awas!!" teriak Miwa.
Javier segera menarik tangan Milan ketika Milan sudah dekat dengan pintu helicopter dan Maxime segera menunduk dan menembak pria tadi, peluru dari anak buah Recobra berhasil melesat ke arah badan helicopters sebelum akhirnya pria itu tewas tertembak oleh Maxime.
"Tessa kau dulu," ucap Miwa. "Ayo cepat Tessa."
Keenan dan para buntutnya yang baru sampai segera turun dari motornya dan berlari membantu yang lain.
Aiden menembak mereka yang hendak mendekatinya, Philip menangkap kaki anak buah Recobra yang hendak menendangnya.
"Apa kau? apa kau? mau menendangku hah?rasakan ini!!" Philip memutar kaki pria itu dengan kuat sampai pria itu jatuh, lalu Philip menembaknya.
"Huh, jangan remehkan aku makannya. Walaupun sudah tua begini, aku masih kuat!!"
Anak buah Recobra berhasil kehilangan banyak peluru karena di serang habis-habisan oleh Yakuza dan Antraxs yang jumlahnya sangat banyak tadi.
Thomas dan Sekretaris Han juga berperan melawan mereka di halaman mansion, karena mereka tadi turun dari helicopter Javier.
Di saat yang lain berlari ke arah musuh, Keenan sendiri malah berlari mendekati helicopter Javier dan berteriak.
"Panjangkan lagi tangga itu!!"
Semua orang menunduk menatap Keenan, di dalam helicopters sudah ada Miwa dan juga Tessa.
"Dad, bawa mereka ke tempat aman!!" teriak Maxime.
"Naik ke tangga itu Maxi, Dad akan membantumu turun!!"
Maxime pun naik ke tangga gantung itu di ikuti Arsen dan Daniel. Ketika mereka bertiga bergelayut di tangga, helicopter perlahan menurun sampai tangga gantung itu berhasil menyentuh tanah. Maxime, Arsen dan Daniel pun segera menembak anak buah Recobra yang tersisa tepat ketika kaki mereka menginjak tanah.
Dan Keenan segera naik ke tangga darurat tersebut. Helicopter perlahan kembali naik ke atas.
"HEY JANGAN DULU NAIK, AKU BELUM MASUK!!" teriak Keenan.
"Kau mau masuk kemana bod*h?!!" kesal Javier.
"Kesitu!!"
"Tidak ada tempat untukmu!! cepat kita pergi dari sini!!" titah Javier kepada pilot di depan.
"Waaaaaaaa ..." Keenan berteriak ketakutan kala helicopter melaju di udara dengan dirinya yang hanya menggantung di tangga darurat. Keenan berusaha mempererat pegangan tangannya di tangga itu agar tak jatuh ke bawah, kakinya terlihat bergetar karena takut jatuh, apalagi helicopters semakin naik ke atas.
Keenan satu-satunya orang yang tidak bisa bela diri sehebat yang lain, kalau satu lawan satu mungkin dia bisa. Tapi kalau menyerang puluhan orang ia lebih memilih kabur saja, dulu ia hanya menjadi Sekretaris biasa yang bekerja untuk Sky, ia tidak ada waktu untuk belajar bela diri.
Maxime menarik kerah salah satu anak buah Recobra dengan geram.
"Katakan! dimana Aberto!!"
"KATAKAN!!" teriak Maxime dengan kilatan amarah di wajahnya.
"Aku tidak tau dimana Aberto," sahut pria itu dengan berusaha melepaskan cengkraman tangan Maxime di lehernya.
"Kau--"
BUGH
Dari belakang ada pria yang menendang punggung Maxime, Maxime tidak jatuh, ia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Ketika pria yang di cekal lehernya oleh Maxime tadi hendak menyerang, Maxime langsung memukul wajahnya, dari depan ada pria lain yang hendak memukul Maxime tapi Maxime berhasil menangkap tubuh pria itu dan membantingnya dengan keras ke tanah.
Pertengkaran itu terus berlanjut dengan mansion Gabriel yang mulai habis terbakar.
Sekeretaris Han pun sempat bertanya dimana Aberto dan Sekretarisnya tapi tidak ada satupun yang menjawab dan berakhir dengan menembak mereka.
Puluhan mayat terkapar di tanah, Yakuza dan Antraxs berhasil menang. Dada Maxime terlihat naik turun dengan keringat di wajahnya.
Athes and the geng, Philip, Thomas, Sekretaris Han, Arsen dan Daniel memandangi mayat mereka satu persatu-satu hanya untuk memastikan mereka benar-benar mati.
"Cari sisanya ..." titah Maxime.
Dan mereka pun mulai menyebar kembali. Ada yang pergi dengan motornya dan ada juga yang naik mobil untuk mencari anak buah Recobra yang lain.
Bersambung