The Devil's Touch

The Devil's Touch
#177



Miwa keluar dari kantor karena sudah mulai malas membahas soal Recobra. Maxime dan Arsen masih berdiskusi berdua di dalam.


Ketika lift di lantai bawah terbuka setiap orang yang melihat Miwa membungkukan badan tanda sopan, Miwa tidak perduli, menyapa mereka saja tidak. Ia terus berjalan mengacuhkan karyawan yang lain.


Ketika berada di parkiran, ia hendak masuk ke mobilnya tapi ia melihat orang mencurigakan di ujung jalan, dua orang pria yang tampak memperhatikan perusahan De Willson group.


Miwa menajamkan penglihatannya, mencoba berpikir apa dua pria itu kemungkinan salah satu anak buah Ayah atau kakaknya. Tapi kalau memang benar, gerak-geriknya tidak mungkin mencurigakan seperti itu.


Miwa pun masuk ke mobilnya, memperhatikan dua pria yang kini sedang menelpon seseorang. Miwa mengedarkan pandangannya hanya untuk memastikan ada cctv di sekitar halaman mansion.


Cctv sudah ada, tapi jarak untuk merekam dua pria di ujung jalan itu sepertinya terlalu jauh. Miwa membuka tas nya, hendak mengambil ponsel untuk memberitahu Maxime. Sialnya, ponselnya ketinggalan di kantor Maxime, Miwa menggeram marah dan bersamaan dengan itu dua pria tadi naik ke motornya hendak pergi.


Miwa yang meliha itu segera menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti motor tersebut diam-diam.


Matanya terus menajam berusaha agar tidak kehilangan jejak dua pria yang mencurigakan tersebut, ia mencengkram stir mobil nya dengan kuat.


"Siapa mereka, mau apa memperhatikan perusahaan dengan mencurigakan seperti itu," gumam Miwa.


Miwa mengambil pistol di laci mobilnya lalu memasukannya ke dalam tas. Pria yang duduk di belakang itu menoleh ke arah mobil Miwa lalu berbisik kepada temannya.


"Si*l, sepertinya mereka tau aku mengikutinya!" gumam Miwa.


Miwa melihat pria yang duduk di belakang itu merogoh sesuatu diam-diam di dalam jaket yang pria itu kenakan, Miwa meloto ketika pria itu perlahan mengeluarkan pistol.


Dengan cepat Miwa pun mengambil pistol di dalam tasnya, lalu membuka jendela mobil dan mengarahkan pistolnya dengan cepat ke arah ban motor tersebut.


Satu peluru melesat menembak ban motor dan bersamaan denga itu pria tadi juga menembak ke arah kaca bagian depan mobil Miwa.


Motor dan mobil itu oleng seketika, motor yang di naiki dua pria tersebut jatuh karena ban motornya meletus dan Miwa yang kaget dengan peluru melesat ke mobilnya spontan membanting stir ke kanan sampai menubruk salah satu pohon di sana, beruntunglah ketika benturan keras mobil menabrak pohon itu tidak membuat kepala Miwa cidera karena airbag di dalam mobil langsung berfungsi dengan baik melindungi kepalanya dari benturan keras.


Miwa tampak shock, dadanya naik turun. Kaca bagian depan hancur setengah dan kepulan asap tampak keluar dari luar.


Miwa segera keluar dari mobilnya, dua pria tadi pun dengan susah payah berusaha berdiri. Miwa masih menggenggam pistol di tangannya dengan cepat ia menembak dua pria tersebut.


Awalnya Miwa ingin menyelidiki siapa mereka, mengapa diam-diam memperhatikan perusahaan De Willson. Tapi ketika dirinya keluar dari mobil, salah satu pria itu sempat meraih pistol yang tergeletak di aspal, Miwa tahu dia akan menembak dirinya jadi Miwa menembak lebih dulu dua pria tersebut.


"Hei apa itu!"


"Ada kecelakaan!!"


Orang-orang segera mengerumuni Miwa dan dua pria yang tertembak itu. Beberapa dari mereka mengeluarkan ponselnya untuk merekam kejadian tersebut tapi Miwa mengancam.


"Turunkan ponselmu atau aku akan mengeluarkan nyawamu itu!!" ucap Miwa Sadi dengan tatapan tajam dan pistol mengarah ke arah mereka.


"Bukankah itu kembarannya Tuan Maxime," bisik salah satu dari mereka kepada temannya.


"Kau ... aku pinjam ponselmu!" Miwa meminta ponsel salah satu dari mereka. Dua pria yang barusan mati tertembak mayatnya sedang di tutupi dengan koran oleh yang lain. Dan Miwa pun berteriak.


"JANGAN ADA YANG MENGHUBUNGI POLISI!!"


Sontak mereka menoleh ke arah Miwa dan langsung diam ketika mengenali wajah Miwa.


Miwa menelpon Maxime, ia hafal nomor kakaknya itu.


"Aku ada di jalan X, baru saja membunuh dua pria di sini. Mereka mencurigakan, Kak."


"MIWA!!" teriak Maxime membentak membuat Miwa harus menjauhkan ponsel dari telinganya sesaat. Miwa menghela nafas dengan memejamkan mata, Maxime selalu marah kalau dirinya menembak seseorang.


Miwa kembali menempelkan ponselnya ke telinga


"Kak---"


"Menyebalkan, kalau ada yang mencurigakan jangan diikuti, hubungi Kakak!!"


"Tapi Kak-"


"Diam di situ, jangan kemana-mana!!"


Maxime mematikan panggilannya membuat Miwa mendengus kasar lalu mengembalikan ponsel itu kembali kepada pemiliknya.


Miwa tampak kesal, lebih kesal lagi ketika memikirkan Maxime dan Arsen yang akan marah-marah di mansion nanti karena Miwa mengikuti dua pria yang mencurigakan itu.


Memikirkan hal tersebut membuat Miwa tak sadar jika ada salah satu pria yang mendekatinya lalu dengan cepat membekap mulut Miwa dengan sapu tangan yang sudah di tetesi obat bius.


Yang lain menjerit melihat itu, pasalnya ketika pria tersebut membekap mulut Miwa, Pria itu langsung menodongkan pistol ke arah orang-orang yang tadi mengerumuni Miwa.


"Diam kalian!! jangan ikut campur atau kalian akan mati!!"


Mereka semua sontak mundur perlahan karena takut, mereka hanya masyarakat biasa yang memegang pistol saja belum pernah. Miwa sudah tak sadarkan diri di pelukan pria itu.


Sebuah mobil berhenti di depan kerumunan orang-orang, terlihat seorang perempuan juga tak sadarkan diri di dalam mobil tersebut dengan mulut di lakban dan tangan di ikat, dia Milan yang berhasil di culik ketika masuk ke kamar mandi saat les piano dan Peter tidak menyadari hal tersebut.


Bersambung