
Mereka berangkat bersama ke sekolah Milan, di perjalanan gadis itu terus saja membuang muka ke luar jendela. Bahkan ketika Maxime berbicara kepada nya pun ia hanya diam.
"Jangan coba-coba untuk kabur, karena banyak cctv di sekolahmu!" ucap Maxime tanpa menoleh ke arah Milan.
Milan mendengus, sekarang ia merasa di sekap oleh pria di sampingnya itu.
Maxime menghentikan mobilnya depan halte, agar tidak ada rumor beredar kalau mereka tinggal bersama. Walaupun itu benar adanya.
Gadis itu keluar dari mobil selepas membanting pintu mobil dan Milan berjalan menuju sekolahnya sementara itu mobil Maxime masih ada di depan halte. Pria itu memastikan Milan masuk terlebih dahulu ke sekolahnya barulah ia memarkirkan mobilnya di halaman sekolah.
Pagi ini ia pergi ke kolam renang baru di sekolahnya. Keadaan masih sepi, Milan duduk di pinggir kolam memasukan setengah kaki nya ke dalam air setelah membuka sepatu dan kaos kaki nya.
Ia hanya melamun seraya memainkan kaki nya di dalam air. Milan sedang memikirkan cara bagaimana lepas dari mafia kejam itu, ini benar-benar salahnya karena memaksa Maxime memberi nya tempat tinggal dan pekerjaan hari itu.
Sekarang, hidupnya berada di genggaman tangan Maxime.
Maxime datang dan ia berdiri di depan pintu masuk kolam renang lalu menelpon Jack.
"Larang murid yang lain masuk ke kolam dan matikan cctv di sini!"
"Kau mau apa sial*n?" tanya Jack.
"Matikan saja!!"
"Tapi aku lebih suka mengintip!!" sahut Jack seraya terkekeh pelan.
Maxime berdecak lalu mematikan panggilan nya, ia berjalan seraya membuka satu persatu kancing baju nya dan menaruh baju di loker.
BYURR
Maxime meloncat ke kolam dengan hanya memakai boxer hitam, cipratan air mengenai wajah Milan sampai ia menutupi wajah dengan tangan nya.
"Maxime ..." gumam Milan saat pria itu memperlihatkan kepalanya ke permukaan.
Ia berenang menuju Milan lalu memeluk kaki gadis itu.
"Mau berenang?" tanya nya seraya tersenyum.
Milan menggeleng. "Tidak, lepaskan!" Ia menendang-nendang kaki nya agar Maxime melepas pelukan kaki nya.
Tapi Maxime memeluk erat kaki Milan. "Ayolah, kita belum pernah berenang bersama, bukan?"
"Aku tidak mau, Maxime. Lepaskan!" Milan berusaha berdiri, menarik kakinya tapi Maxime lebih dulu menarik kaki Milan sampai tercebur ke kolam.
"Maxime!!" Milan menjerit mengalungkan tangan nya di pundak pria itu.
Maxime terkekeh. "Bagaimana, kalau kita balapan?"
Milan menggeleng. "Tidak, aku tidak mau!!"
"Kita mulai sekarang." Maxime hendak melepaskan tangan Milan yang mengalung di pundaknya tapi sontak Milan menjerit membuat Maxime setengah terkejut.
"Hah ... kau tidak bisa berenang?" Milan dengan malu terpaksa menggeleng.
Maxime memperlihatkan senyum jahilnya lalu membawa Milan ke tengah kolam yang semakin dalam.
"Maxime ... Maxime ..." Milan terlihat panik tapi Maxime tidak berhenti.
Ia terkekeh melihat Milan semakin erat memeluknya, bilang saja ini keberuntungan untuknya karena tahu kelemahan Milan.
Maxime bisa modus dengan hal ini agar Milan memeluknya.
"Maxime aku mau keluar dari sini!!" Milan setengah berteriak seraya memukul-mukul dada Maxime agar pria itu kembali membawa nya ke pinggir kolam.
"Baik, kau bisa keluar dari kolam kalau sudah menc*umku. Bagaimana?"
"Jangan gila Maxime!!" Milan mendorong dada Maxime dengan kesal. Untung saja pria itu tidak berniat melepaskan pelukan nya dan membiarkan Milan tenggelam.
Maxime berbisik tepat di telinga Milan. "Aku serius sayang!"
Lagi-lagi Milan mendorong dada Maxime agar menjauh dari wajahnya. "Aku lebih baik tenggelam!" sahut Milan.
"Tapi aku lebih baik menci*m mu."
Dengan cepat Maxime menarik tengkuk Milan dan ******* bibir gadis itu. Milan memberontak, tentu saja tapi tidak bisa berbuat banyak karena ia juga takut tenggelam.
*
Maxime memberikan seragam baru di loker karena seragam Milan basah. Milan menerima seragam itu seraya memalingkan wajahnya ke arah lain karena pria itu tanpa malu masih belum memakai baju, hanya boxer saja yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Cepat pakai bajumu, untuk apa kau masih berdiri di situ? mau aku perk*sa?!"
Milan mendesis kesal lalu pergi ke kamar mandi meninggalkan Maxime yang menggulum senyum karena berhasil menggoda Milan.
Selepas keduanya memakai bajunya masing-masing mereka berjalan di koridor. Milan hendak ke kelasnya dan Maxime yang hendak ke kantor satpam memilih memastikan Milan masuk ke kelasnya terlebih dahulu.
Pria itu berjalan santai di belakang Milan. Jam pelajaran pertama untungnya belum ada guru masuk, jadi Milan tidak perlu repot-repot mencari alasan karena telat masuk kelas.
Gadis itu duduk di kursinya dan Maxime pun berjalan ke pos satpam setelah melihat Milan masuk kelas.
"Mil, kenapa rambutmu basah?" tanya Alvin mendekati Milan.
"Eh, iya Mil. Basah banget," sambung Aken memegang rambut Milan.
Milan menghela nafas. "Tadi pagi engga mandi jadi mandi di sekolah aja!" sahut Milan asal lalu menelungkupkan wajahnya di meja membuat teman-teman nya saling menoleh heran.
Bersambung
Kakak aku abis lahiran nih jadi sibuk dan lupa update hehe sorry 😁