
Milan menarik tangan Maxime memasuki festival ice cream. Dia memakai bandana dengan gambar ice cream di atasnya, begitupula dengan Maxime. Maxime mati-matian menolak memakai bandana pink tersebut tapi istrinya juga tak mau kalah untuk meminta Maxime memakainya.
"Woahh ..." Milan mengedarkan pandangannya dengan kagum melihat banyak ice cream dengan varian rasa di sana, suasana sangat terang dengan banyak lampu warna-warni menghiasi malam festival ice cream hari ini.
Ice cream yang di buat oleh beberapa koki terkenal pun ikut meramaikan acara, ice cream dari berbagai negara membuat para pengunjung tak bisa menolak untuk mencoba semua ice cream nya.
"Aku mau yang itu ..." Milan menunjuk ice cream dengan rasa matcha.
"Oke, tunggu di sini ya."
Maxime berjalan menghampiri koki tersebut, para pengunjung yang lain tampak memperhatikan Maxime, apalagi bandana dengan warna pink di kepala Maxime terlihat sangat mencolok. Maxime mengacuhkan mereka semua dan ikut mengantri untuk mendapatkan ice cream matcha bersama pengunjung yang lain.
Di saat Maxime mengantri, Milan jalan-jalan sendirian, melihat ice cream yang lain, melihat beberapa boneka bentuk ice cream yang di jual.
"Hei Nona, kau mau mencoba memanah? jika tepat sasaran kau akan mendapatkan boneka ice cream paling besar yang itu ..."
Seorang pria menawari Milan bermain anak panah, Milan mengikuti arah telunjuk pria itu yang memperlihatkan boneka ice cream yang besarnya hampir sama dengan ukuran tubuhnya.
"Apa sudah ada yang berhasil?" tanya Milan.
"Tentu saja belum, bonekanya hanya satu. Dan belum ada yang mendapatkannya."
Milan tersenyum. "Baiklah, aku mau coba." Dengan semangat Milan mengambil anak panah dari pria itu.
Sementara Maxime masih mengantri, kemudian seorang perempuan ikut mengantri di belakang Maxime. Dengan diam-diam mencuri pandang dari belakang.
Pria ini ... aku seperti mengenalnya.
Perempuan itu melihat bandana di kepala Maxime.
Pria tinggi dan berotot seperti dia kenapa pakai bando.
Ketika Maxime menoleh ke samping, perempuan itu akhirnya menyadari dia Maxime suami Milan. Tadi Maxime terus menatap ke depan membuat dia tidak jelas melihatnya.
"Loh, Tuan Maxime."
Maxime menoleh ke belakang, kemudian ia mendapati Sabrina di belakangnya.
Maxime hanya menoleh sebentar kemudian kembali menatap ke depan karena antrian mulai maju.
"Eh Tuan Maxime, kenapa di sini?" tanya Sabrina.
Maxime diam, enggan menjawab sedikitpun.
"Aku di sini bersama Aron dan Kak Sherly, Tuan Maxime di sini sendirian?" tanya Sabrina.
"Bersama istriku," sahut Maxime datar.
"Terus, istri Tuan Maxime dimana?" Sabrina mengedarkan pandangannya mencari Milan.
Maxime pun baru sadar, ketika ia melihat ke tempat dimana Milan berdiri untuk terakhir kalinya tadi, gadis itu tidak ada di sana.
Maxime mengelilingkan pandangannya, begitupula dengan Sabrina. Maxime mendengus kemudian keluar dari antrian untuk mencari istrinya. Sabrina mengikuti dari belakang.
"Tuan Maxime, tunggu ..."
Maxime terus mencari Milan, banyak sekali orang sekarang, padahal ketika baru masuk tadi tidak sebanyak ini.
Maxime memercak pinggang, ia terus mengedarkan pandangannya tapi masih belum terlihat batang hidung istrinya itu.
"Belum ketemu Tuan?" tanya Sabrina yang datang dengan nafas terengah-engah karena berlari mengejar langkah Maxime yang sangat cepat.
Maxime tidak menjawab, ia berjalan ke arah penjual boneka, kemudian ia kembali mengedarkan pandangannya, kali ini denga jantung yang was-was, karena takut istrinya hilang.
Sampai akhirnya Maxime melihat Milan sedang memainkan anak panah dengan pria di sampingnya yang terlihat mulai bosan karena dari tadi Milan gagal memanah titik merah yang di tunjuk pria itu.
Maxime pun segera berlari menghampiri istrinya.
"Nona, menyerah saja," ucap pria itu.
"Kau yang menawari, sekarang kau yang menyuruhku menyerah."
"Saya bilang titik merah nona, kalau tidak bisa yang itu anak panahnya harus menancap minimal di lingkaran itu, dari tadi panahnya melesat kemana saja."
Pria itu menahan kekesalannya, sebab anak panah yang Milan mainkan malah melesat ke arah lain, menancap ke beberapa boneka yang terpajang rapih sampai jatuh berantakan, menancap ke beberapa minuman sampai minuman tersebut jatuh berserakan dan kekacauan lainnya.
"Loh, kenapa di sini? mana ice creamnya?" tanya Milan.
"Tuan Maxime ..." gumam pria itu.
"Kau kemana saja hm? kenapa pergi tidak bilang dulu!"
"Aku hanya main ini." Milan menunjukan anak panah di tangannya.
"Kalau aku berhasil, aku dapat boneka itu." Milan menunjuk boneka ice cream yang besar.
"T-tuan Maxime ..." Sabrina datang dengan dadanya yang naik turun akibat kelelahan, ia terlihat memegangi perutnya.
"Loh, Sabrina," ucap Milan.
Sabrina mendongak menatap Milan. "Eh ... hei, Milan," ucap Sabrina dengan mengusap keringat di keningnya.
"Sabrina, kenapa di sini?" tanya Milan. "Dan kenapa mengikuti suamiku?"
"A-aku ... aku hanya membantu Tuan Maxime mencarimu Milan."
"Ohhh ..." Milan mengangguk-ngangguk.
"Biar aku yang main sayang." Maxime mengambil anak panah itu.
Milan, Sabrina dan pria itu menatap bagaimana cara Maxime memanah. Milan dan Sabrina melebarkan matanya ketika melihat anak panah melesat sempurna di titik merah itu.
"Woahhh ..." Milan bertepuk tangan. "Sempurna ..."
Maxime tersenyum. "Itu kecil," ucapnya kepada Milan.
"Kau, ambilkan boneka itu," titah Maxime kepada pria itu.
"I-iya Tuan." Pria itu pun berlari mengambil boneka ice cream nya.
"Tuan apa aku boleh mencobanya?" tanya Sabrina.
Maxime memberikan panahan tersebut. Sabrina pun mulai mengarahkannya ke titik merah dengan satu mata tertutup, ia berusaha untuk fokus karena Jack pernah mengajari dirinya memanah.
Ketika anak panah itu melesat, akhirnya berhasil menacap dititik merah dengan anak panah milik Maxime tadi. Sabrina tersenyum senang, ketika ia menoleh ke arah Maxime, Maxime sedang sibuk membenarkan rambut Milan, tidak melihat dirinya memanah sama sekali, bahkan Milan sendiri terlihat cuek.
Sabrina mendengus kasar, kemudian pria tadi datang membawa boneka ice creamnya.
"Ini Tuan ..."
Maxime mengambilnya dan memberikannya kepada Milan. Milan terlihat senang membuat Maxime sedikit kebingungan.
"Aku pikir kau tidak suka boneka sayang."
"Ini boneka besar, aku suka lah," sahut Milan dengan memeluk boneka itu.
"Eh Sabrina, kau juga berhasil." Milan baru sadar, Sabrina juga berhasil memanah sempurna di titik merah itu.
"Hehe iya Milan." Sabrina tersenyum samar.
"Tapi bonekanya hanya satu," ucap Milan.
"Tidak apa-apa, aku tidak terlalu suka boneka."
"Sayang, ayo kita cari ice cream lagi." Maxime menarik tangan Milan.
"Aku pergi dulu Sabrina," ucap Milan.
"Iya, dahh ..." Sabrina membalas lambaian tangan Milan.
"Kenapa Sabrina ada di sini?" tanya Milan kemudian.
"Dia datang bersama Aron dan Sherly," sahut Maxime.
"Aron? dimana dia? dimana?" tanya Milan mengedarkan pandangannya.
Maxime merangkul pundak istrinya itu. "Sudahlah, jangan mencari yang lain sayang."
Bersambung