The Devil's Touch

The Devil's Touch
#57



Setelah memberikan kertas ulangan nya, Milan keluar dari ruang guru dan berjalan hendak menuju kantin. Sedangkan Maxime berada di ruang kepala sekolah bersama Jack.


Milan berjalan dengan siswa siswi memenuhi koridor sekolah. Ada yang mengobrol, ada yang bercanda, ada yang menonton film di hp dan masih banyak lagi.


Beberapa orang berlari menubruk tubuh Milan membuat gadis itu mendesis kesal.


"Milan ... Milan ..." teriak seseorang dari belakang.


Panggil saja dia Dafa, si gendut dari kelas sebelah yang suka sekali menganggu Milan. Dari awal masuk SMA Ganesha, Daffa adalah musuh bebuyutan nya.


Dari awal ospek mereka selalu bertengkar, saat hari pertama ospek di mulai mereka satu kelompok dan Milan telat datang ke sekolah membuat kelompok Daffa harus di hukum jalan jongkok mengelilingi halaman sekolah.


Masalah sederhana, tapi berujung menjadi musuh bebuyutan karena mereka terus saling mengejek satu sama lain.


Milan menoleh ke belakang lalu berdecak dan kembali berjalan mengacuhkan Daffa.


"Hei Milan ..." teriak Daffa lagi.


PLAK


Daffa melempar penghapus papan tulis ke kepala Milan. Membuat yang lain tertawa, Milan memegang belakang kepala nya seraya mendengus.


"HAHAHAHA!!" Daffa tertawa puas, tangan Milan mengepal dan dengan cepat berbalik menghampiri Daffa lalu.


BUGH


Perut gendutnya di pukul keras, Daffa membungkuk memegang perutnya seraya meringis.


Ia mendongak menatap kesal Milan dan maga Milan seakan mengibarkan bendera perang kepada Daffa.


Daffa mengayunkan tangan nya hendak memukul Milan tapi dengan cepat gadis itu menangkap tangan Daffa dan memelintir nya ke belakang.


"Akhh ... Milan sial*n lepaskan!!"


"Oke!" sahut Milan seraya tersenyum lalu mendorong keras tubuh Daffa sampai ambruk ke lantai.


"HAHAHAHA ..."


"Woy Daffa, masa kalah sama cewek!!"


"DAFFA ... DAFFA ... DAFFA ..."


Semua orang bersorak memberi semangat kepada Daffa, suara para siswa itu terdengar ke kantin membuat Alvin dan yang lain saling menoleh.


"Ada apa itu?" tanya Aken.


Alvin mengangkat bahu nya tidak tahu.


Suara itu kembali menyeruak ke kantin dan kini mereka jelas mendengar nama Milan.


"MILAN KALAH ... MILAN KALAH ..."


"Milan kenapa?" tanya Tino panik.


"Jangan banyak omong ayo ke sana!! ucap Faiz lalu bergegas pergi ke koridor sekolah di susul yang lain.


Bukan hanya geng ikan lele, mereka yang memenuhi kantin pun ikut berlari karena rasa penasaran nya.


"Sial*n kau Milan!!" teriak Daffa.


"Apa? kau yang memulai duluan gendut!!" sentak Milan seraya tangan bersedekap dada.


Daffa melangkah cepat mendekati Milan menjambak rambut gadis itu.


"WOAAHHH!!" semua orang bersorak bertepuk tangan melihat rambut Milan di jambak.


Milan tak mau kalah, ia mencakar tangan dan wajah Daffa semampu nya, lalu menendang lagi perut Daffa.


Daffa hampir kembali jatuh tapi untung saja ia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya dan dengan cepat.


PLAK


Ia menampar Milan, semua orang melebarkan mata dan di saat bersamaan Alvin dan yang lain baru sampai ke koridor, mereka dengan cepat berlari ke arah Milan.


Milan yang tidak terima memukul keras wajah Daffa sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah. Daffa pun hendak membalas tapi Milan lebih cepat memukul lagi hidung Daffa.


"Milan stop!!" teriak Tino berusaha melerai dengan memegangi tubuh Milan.


"DAFFA ... DAFFA ... DAFFA ..." yang lain kembali memberi semangat kepada Daffa.


Suara mereka akhirnya terdengar ke ruang kepala sekolah dimana Maxime dan Jack sedang berbincang santai.


"MILAN LICIK WOOOO ... MILAN LICIKK ..."


"Ada apa itu?" tanya Maxime menarik tubuh nya dari sandaran kursi.


Jack menggeleng lalu dua pria itu bergegas keluar berlari ke arah suara. Koridor begitu padat dengan hampir semua murid ada di sana.


"STOP!!" Teriak Jack mengheningkan suasana yang tadinya sangat ricuh.


"Ada apa ini?!!" teriak Jack kembali.


"Milan," gumam Maxime melihat gadis itu sedang duduk di atas perut Daffa seraya terus menjambak dan menampar pipi Daffa. Ya, walaupun terlihat tidak terlalu keras.


"MILAN STOP!!" teriak Maxime, Milan menoleh ke belakang.


Di tariknya tubuh gadis itu oleh Maxime dan Mr Rian baru saja sampai di koridor setelah tak sengaja tertidur di perpustakaan yang jaraknya cukup jauh dari koridor sekolah tempat dimana mereka bertengkar.


"ADA APA INI?!" teriak Mr Rian lalu menghampiri Daffa dan membantu nya berdiri.


"DIA YANG MULAI DULUAN MR!!" tunjuk Daffa kepada Milan.


"KAU YANG MULAI DULUAN BERANI SEKALI MEMFITNAH KU!!" sambung Milan tak terima.


"Milan, Daffa cukup!!" sentak Mr Rian.


"Bawa mereka ke ruang guru!!" sambung Jack lalu pergi lebih dulu ke ruang guru.


Maxime menghela nafas menatap Milan dengan sebelah pipi bengkak karena di tampar Daffa, lalu Maxime menggelengkan kepala. Ia menarik tangan Milan dan Mr Rian menarik tangan Daffa membawa mereka berdua ke ruang guru.


Bersambung