
Maaf baru bisa up dan telat up karena aku baru mendingan dari sakit guys hehe.
*
"Saya, Arsen Zahair Bachtiar, menerima engkau Miwa Louisa De Willson, sebagai istri satu-satunya dan sah di mata Tuhan. Saya berjanji akan selalu mengasihimu, baik dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita. Saya berjanji segala milikku adalah milikmu juga."
"Saya, Miwa Louisa De Willson, menerima engkau, Arsen Zahair Bachtiar, sebagai suami satu-satunya dan sah di mata Tuhan. Saya berjanji akan selalu mengasihimu, baik dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita. Saya berjanji segala milikku adalah milikmu juga."
Janji mereka di ucapkan di depan pendeta, Javier, Sky, Sekretaris Han dan Kara tersenyum haru karena tidak pernah berpikir di benak mereka kalau Arsen dan Miwa yang tumbuh sebagai adik kakak kini menjadi pasangan suami istri.
Gedung tempat pernikahan Miwa dan Arsen tak kalah mewah dari pernikahan Maxime. Hanya saja tidak terlalu banyak bunga seperti yang di inginkan Milan, desainnya berwarna gold yang memancarkan kemewahan dari pasangan ini.
Para tamu undangan mulai menyalami Arsen dan Miwa yang berdiri di atas Altar. Kemudian Maxime dan Milan pun berjalan ke arah pasangan yang baru menikah itu.
Maxime memeluk Miwa. "Selamat ... kurangi sikap agresifmu di malam pertama nanti," bisik Maxime.
Miwa terkekeh geli. "Bahkan aku sudah bersemangat dari sekarang kak."
Maxime berdecak lalu menyentil kening Miwa membuat perempuan itu menggosok keningnya dengan wajah cemberut. "Jaga harga dirimu!!"
"Tidak ada yang perlu di jaga lagi karena aku sudah menikah!"
"Sekali lagi aku melihatmu menyentil kening istriku kau berhadapan denganku Maxi!!" ucap Arsen membuat Maxime menarik ujung bibirnya tersenyum lalu berjalan mendekati Arsen dan menoyor kepala pria itu.
"Jaga dia baik-baik!! menyakitinya sama dengan menyakitiku!!"
"Aku tidak berpikir untuk melakukan hal itu sial*n!!" sahut Arsen.
Milan pun memeluk Miwa. "Selamat yaa ..."
"Terimakasih kakak ipar kecilku," sahut Miwa dengan tersenyum.
Kemudian Tessa dan Daniel berjalan menghampiri mereka. Sontak Maxime dan yang lain menoleh ke arahnya.
Tessa menatap bergantian Maxime dan Milan lalu menatap Miwa dengan senyuman. "Miwa ... selamat ya ..."
Miwa langsung memeluk Tessa. "Kau anak nakal, mau sampai kapan tinggal di Negara M?"
"Kalian sudah bersama?" tanya Arsen menatap bergantian Tessa dan Daniel.
Miwa melepas pelukannya menunggu jawaban dari Tessa.
"Kita--"
"Ya, kita sudah bersama," potong Daniel yang langsung mendapat tatapan tidak suka dari Tessa.
Daniel melingkarkan tangannya di pinggang Tessa. "Sudahlah, mereka harus tau."
"Bagus, semoga sampai ke pernikahan," ucap Maxime dengan tersenyum tulus.
"Tidak lama lagi kami akan menyusul kalian. Iya kan sayang?" tanya Daniel kepada Tessa.
"Kau ini banyak bicara sekali!" sahut Tessa.
Daniel menghembuskan nafas lalu menatap Maxime dan Arsen. "Aku tidak tau bagaimana kalian dulu sangat sabar menghadapi macan betina seperti dia. Dia galak sekali!" ucap Daniel menyindir Tessa.
Maxime dan Arsen tersenyum sementara Miwa tertawa.
"Cara memenangkan hati dia beli saja kanvas yang banyak," ucap Miwa.
"Ya, aku sudah pernah melakukannya," sahut Daniel.
Kemudian Tessa menatap Milan. Antara keduanya terlihat canggung, bahkan dulu saat Milan menikah dengan Maxime, Tessa hanya memberi selamat dengan senyuman kecil tidak ada lagi obrolan antara keduanya.
"Ya ..."
"Aku minta maaf atas sikapku yang dulu."
Yang lain pun menatap bergantian Tessa dan Milan.
Milan tersenyum. "Tidak apa-apa, aku sudah memaafkanmu ..."
Tessa tersenyum lalu memeluk gadis itu. "Terimakasih ..."
Maxime ikut senang melihat mereka akrab seperti itu. Kedua tangannya mengelus kepala Milan dan Tessa yang sedang berpelukan. Kemudian tangan kirinya di tepis Daniel.
"Jangan menyentuh Tessa lagi, dia milikku!!"
Maxime mendesis kesal. "Dia adikku juga bod*h!!"
Selepas Tessa melepas pelukannya, ia menggelengkan kepala melihat sikap Daniel yang seperti itu.
"Jadi ... kapan kalian menikah?" tanya Miwa.
Daniel dan Tessa sontak saling menoleh.
"Secepatnya," sahut Daniel.
"Kita bahkan belum membahas hal itu, kau sudah jawab secepatnya saja!!" sambung Tessa.
"Sudahlah, aku lapar. Lebih baik kita makan saja."
Daniel mendorong pundak Tessa untuk turun dari altar kemudian langkahnya kembali berhenti. Daniel baru ingat ia harus mempromosikan novel barunya.
"Hei kalian, beli Novelku!"
"Novel apa?" tanya Arsen.
"Memangngnya kau penulis novel?" tanya Maxime.
"Ya, series perjuangan Tuan D dan Bubu. Baca buku terakhirnya, judulnya 'Bertemu Dengannya."
Miwa terlihat sedang berpikir. "Aku kalau tidak salah pernah membaca novel itu. Aku pinjam dari Tessa. Aku tidak mau baca ah!"
"Kenapa?" tanya Arsen.
Miwa menjelaskan. "Kisahnya menyedihkan, Tuan D berjuang diam-diam untuk Bubu tapi Bubu menikah dengan orang lain, menyedihkannya lagi Tuan D ikut membantu Bubu untuk dekat dengan pria yang dia cintai."
Tessa menghela nafas mendengar penjelasan Miwa. Andai saja Miwa tahu, Bubu yang di maksud itu dia.
"Di buku terakhirnya happy ending, baca saja!" ucap Tessa.
"Kalau benar kau penulisnya, kenapa kau membuat cerita menyedihkan seperti itu!" ucap Miwa kepada Daniel.
"Terserah imajinasi ku mau membuat cerita seperti apa!" sahut Daniel.
"Daniel, kau hebat bisa membuat buku best seller seperti itu," ucap Milan dengan tersenyum.
"Jangan tersenyum untuk orang lain sayang!" bisik Maxime membuat senyuman di wajah Milan pudar seketika.
"Sudahlah, kami mau makan dulu. Jangan lupa baca nanti ya!" ucap Tessa lalu turun dari altar bersama Daniel.
"Si kepar*t itu ternyata yang membuat Tessa menangis saat membaca novel," ucap Arsen menatap kepergian Daniel dan Tessa.
Bersambung