The Devil's Touch

The Devil's Touch
#104



Javier duduk di sofa panjang sendirian, di depan nya ada Sky, Maxime dan Miwa. Sisa nya berdiri di belakang dengan tangan bersedekap dada.


Javier yang sendirian seakan harus melawan tujuh belas orang keluarganya sendiri. Sekretaris Han saja lebih memilih membela Maxime dari pada dirinya, padahal pria itu sudah di anggap kakak dari kecil oleh Javier.


Maxime menghela nafas seraya menggelengkan kepala tak habis pikir dengan sikap keluarganya, jujur saja niat awal ia menitipkan Milan kepada Peter agar gadis itu tidak melihat pertengkaran Maxime dan keluarganya sendiri. Ia tidak mau Milan trauma lagi setelah melihat kematian Daffa.


Tapi nyatanya, hampir semua keluarga besarnya memihak kepadanya dan membiarkan Javier sendirian duduk di sofa.


Kalau tahu akan seperti ini, lebih baik Milan juga ada di sini untuk di kenalkan kepada keluarganya.


"Dimana gadis itu Max?" tanya Javier.


"Bersama Peter," sahut Maxime.


Javier menghela nafas kasar. "Dad tidak habis pikir dengan sikapmu, Max!! kau ini anak siapa---"


"Anakmu," potong Jonathan.


Semua orang kini mendelik ke arah Jonathan. "Diam dulu, ini sedang serius," bisik Sergio yang berdiri di samping Jonathan.


Javier berdecak sebal lalu kembali mengeluarkan kekesalan nya. "Kau tau Max, dulu ketika Dad bersama Mommy mu, Dad tidak pernah menyentuhnya berlebihan sebelum Mommy mu itu mengatakan perasaan nya kepada Dad!! Tapi kenapa kau malah memperk*sa gadis itu sebelum kalian menikah!!"


"Kak Maxi, tidak bersalah Dad ..." ucap Miwa sedikit ngegas.


"Kakakmu salah karena memperk*sa gadis itu!!" sahut Javier.


"A-aku ... aku yang menaruh obat perangs*ng di minuman kak Maxi ..." Miwa menunduk setelah mengatakan hal itu.


Semua orang di buat ternganga dengan ucapan Miwa.


"Miwa kau ..." Sky menggantung kalimatnya tidak percaya.


"Iya, Mom. Salahku ..."


Keenan berdecak seraya menggelengkan kepala menatap Miwa. "Astaga Miw-Miw ..."


Maxime menghela nafas. "Sudahlah, jangan salahkan Miwa. Dad kalau kau mau menghukum ku, hukum saja."


Javier mengacak-ngacak rambutnya frustasi, ulah si kembar benar-benar membuatnya stress.


"Dad apa kau berniat membunuhku?" tanya Maxime yang penasaran.


"Tentu saja," sahut Javier yang sontak mendapat todongan pistol lagi dari yang lain.


Sebenarnya Javier mengatakan omong kosong saja, tidak mungkin ia membunuh anak nya sendiri. Ia hanya ingin memberi Maxime hukuman kecil, seperti mencambuk tubuh putra nya itu. Setidaknya untuk memberi efek jera, tapi boro-boro bisa menghukum Maxime, ia saja sudah seperti di musuhi oleh yang lain.


"Padahal Dad jauh lebih jahat dari kak Maxi," kesal Miwa.


"Kenapa kau mengatakan hal itu?" tanya Javier. "Dad tidak pernah kasar dengan Ibumu ..."


"Ya, secara fisik mungkin tidak. Tapi Dad mengusir Mom tengah malam, waktu hujan deras dan di situ Mom sedang mengandung kak Maxi dan aku!! Apa Dad lupa mom hampir bunuh diri, mom ketakutan sendirian ... Aku dan Kak Maxi tidak akan ada di dunia ini kalau saat itu Mom berhasil loncat dari jembatan. Untung saja ada Grandpa Xander ..."


"Miwa Dad---"


Miwa kembali memotong pembicaraan Ayahnya. Ia menghela nafas, menahan air mata yang hampir jatuh dari bola matanya.


"Duh sedihnya ..." Aiden mengibas-ngibaskan tangan di wajahnya seakan-akan menyeka mata nya yang berair padahal tidak menangis sama sekali.


"Sekarang apa?Dad marah dengan kak Maxi, hanya karena tau kak Maxi memperk*sa Milan? tapi Kak Maxi tidak pernah menyakiti mental Milan, dari awal mereka bertemu Kak Maxi banyak membantu Milan. Sekarang memang gadis itu nya saja sedang keras kepala. Aku yang bersama mereka tinggal di sini. Kakak ku begitu baik dan perhatian, dia tidak pernah main wanita dengan perempuan lain di luar sana, kakak ku tetap memilih Milan. Sekalipun aku pernah melihat Milan di tampar oleh Kak Maxi, tapi itu juga salahnya sendiri bukan salah kak Maxi!!"


"Miwa masalah keluarga kita sudah selesai, kenapa kau membahasnya lagi!! Dad menyusul kalian saat usia kandungan ibumu tujuh bulan!!" Javier mencoba menjelaskan.


"Tujuh bulan itu Mom sudah pulih dari depresi nya. Aku hanya membahas sikap jahat Dad yang membuat Mom depresi berat tapi sekarang Dad seakan-akan berpikir Kakak ku lah yang paling jahat!! Dad ini seperti orang yang tidak punya salah terhadap perempuan saja!!" Miwa mencebikkan bibirnya kesal.


Sementara itu Maxime menggosok hidungnya menyembunyikan senyuman di wajahnya. Miwa benar-benar perempuan yang cerewet.


"Miwa sudah diam ..." ucap Sky.


"Menyebalkan sekali suami mu itu Mom," sahut Miwa yang membuat Sky hanya bisa menggelengkan kepala.


Semua orang ternganga dengan sikap Miwa yang berani berbicara seperti itu kepada Javier.


Javier yang mulai frustasi hanya bisa memijit keningnya.


"Setidaknya Maxime harus di hukum!!" ucapnya.


"Enak sekali kau bicara Javier!!" ucap Sky yang membuat yang lain lagi-lagi hanya bisa melebarkan mata melihat Sky yang tiba-tiba berbicara ngegas kepada Javier.


"Kau tau, aku susah payah melahirkan si kembar ini. Kau tidak merasakan sakit nya melahirkan dan sekarang aku harus melihat putraku di hukum olehmu. Cih, aku lebih memilih bercerai saja!!"


"Sa-sayang ..." Javier berkata terbata menatap tak percaya istrinya mengatakan hal demikian.


"Yeaaayy aku akan mendapatkan Daddy baru ... Mom aku akan mencarikan Sugar Daddy untukmu ..." teriak Miwa heboh agar Javier merasa dirinya tak berdaya melawan anak dan istrinya.


Maxime lagi-lagi hanya bisa menahan senyum nya saja dengan sikap adik dan Ibunya itu.


"Mampu*s kau Javier!!" ledek Liana.


"Pernikahan kedua untukmu menanti Sky ..." Kara ikut meledek Javier.


"Kalau kau berani menyentuh cucuku, aku akan menembakmu." Rania Ibu kandung Javier pun ikut bersuara.


Maxime menghela nafas. "Dad ... sudah lah ... kau akan kalah sekalipun kita tidak bertengkar!! pawang ku terlalu banyak!!" ucap Maxime sombong.


"Apapun yang terjadi, aku tetap memilih kak Maxi ..." Miwa langsung memeluk Maxime di sampingnya.


"Sayang ..." Javier menoleh kepada Sky.


"Putraku segalanya ..." Sky pun ikut memeluk Maxime.


Kini Maxime yang duduk di tengah di peluk oleh Adik dan Ibunya. Maxime hanya menunduk menahan senyumnya, apalagi melihat muka Javier yang menyedihkan karena tidak ada satu orang pun yang berpihak kepada nya.


"Cucuku terbaik ..." Xander mengelus kepala Maxime dari belakang.


"Menghukum Max sama seperti menghukum ku Daddy Javier," sambung Arsen.


Javier hanya bisa menghembusan nafas.


Bersambung