The Devil's Touch

The Devil's Touch
#113



Maxime mengenggam tangan Milan turun ke bawah, di meja makan sudah ada Ara, Miwa, Arsen dan Tessa yang diam-diam matanya melirik ke anak tangga seraya meminum segelas susu.


"Pagi ..." sapa Maxime.


"Pagi ..." jawab mereka semua.


Maxime menarik kuris mempersilahkan Milan duduk dan itu membuat Tessa iri. Perempuan itu menoleh sejenak lalu memilih mengambil roti dan mengolesi nya dengan selai.


"Roti saja tidak akan kenyang, Tess." Miwa berkata seraya mengambil paha ayam dan menyimpan di piring miliknya.


Tessa tersenyum samar. "Aku sedang diet," sahutnya.


"Kau takut gendut?" tanya Miwa lagi.


Tessa mengangguk. Sementara Milan hanya menatap bergantian dua perempuan yang sibuk mengobrol itu, Arsen dan Ara terlihat fokus dengan sarapan nya saja.


"Jangan diet, kau sudah terlalu kurus Tessa." Maxime berkata seraya menyimpan beberapa lauk ke piring Milan.


Tessa tidak terlalu mendengarkan ucapan Maxime justru dirinya malah fokus dengan tangan Maxime yang sibuk mengambil lauk untuk Milan.


"Makan sayang ..." ucap Maxime pelan kepada Milan dengan tersenyum.


Dan senyuman itu, senyuman manis yang baru Tessa lihat dari pria dingin seperti Maxime. Maxime juga ramah kepadanya, selalu tersenyum setiap berbicara dengan nya. Tapi senyuman yang diberikan Maxime kepada Milan terasa berbeda. Terlihat begitu tulus.


Dan lagi, ia tidak salah dengar Maxime memanggil gadis itu sayang.


Arsen yang sedang mengunyah nasi berhenti sesaat menatap heran Tessa yang terus memandangi Maxime.


"Kau baik-baik saja?" tanya Arsen kepada Tessa.


Suara Arsen bukan hanya menyadarkan Tessa, tapi juga Maxime dan yang lain. Kini mereka semua pun melihat ke arah Tessa.


"A-aku baik-baik saja." Tessa segera mengunyah roti di tangan nya.


Arsen beralih menatap Maxime dengan sorot mata mempertanyakan keanehan Tessa. Maxime hanya menggeleng kecil dengan maksud tidak tahu kenapa Tessa seperti itu.


Begitupula dengan Ara yang hanya bisa memandangi mereka bergantian dengan sorot mata penuh tanda tanya. Miwa bodo amat ia makan saja.


Arsen menghela nafas dan kembali fokus dengan sarapan nya. Milan sendiri hening dengan makanan nya.


Arsen kembali berhenti mengunyah kala merasa ada sesuatu yang menyentuh kakinya di bawah meja. Ia perlahan menunduk dan melebarkan mata kala mendapati kaki Miwa bermain-main dengan kaki nya.


Arsen malas menanggapi, ia lebih memilih makan kembali saja.


"Maxime, kau akan kembali ke perusahaan?" tanya Ara.


"Sepertinya, iya. Mulai besok aku akan kembali ke perusahaan."


Ara mengangguk-ngangguk. "Baguslah."


"Berhenti jadi sekretaris Arsen dan diam saja di mansion."


"Yaahhh ..." Milan terlihat kecewa. "Tidak mau ah Kak, aku udah cocok jadi Sekretaris kak Arsen."


Arsen sendiri diam-diam tersenyum senang. Ia tahu ia sedang belajar mencinta Miwa, tapi jujur saja keberadaan Miwa di perusahaan membuatnya sulit fokus karena Miwa selalu menganggu dirinya.


"Aku sudah selesai ... aku ke kamar dulu ..." Tessa beranjak dari duduknya berjalan cepat menaiki anak tangga meninggalkan mereka semua dalam kebingungan.


"Ishhh ... anak itu kenapa lagi." Miwa berkata seraya menggeleng. "Akhir-akhir ini seperti menghindari kita semua. Iya kan?" tanya Miwa kepada yang lain.


Maxime menghela nafas menatap pintu kamar Tessa yang sudah tertutup. Milan yang tidak tahu apa-apa juga merasa heran dengan sikap Tessa. Dulu awal bertemu dengan Tessa perempuan itu juga terlihat cuek dengan nya, jadi Milan sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa.


"Apa dia punya masalah dengan seseorang?" tanya Ara.


"Tidak, aunty. Eh tapi aku juga tidak tau sih," sahut Miwa.


"Coba kau tanya Max," pinta Arsen.


"Tadi pagi aku sudah ke kamarnya, dia bilang baik-baik saja," sahut Maxime.


"Dia kan memang seperti itu, dari dulu suka sekali menyembunyikan masalah dari kita. Dulu waktu sekolah dia di bully seseorang juga diam tidak mau cerita ke kita."


Miwa kembali mengingat kejadian masa-masa sekolahnya dulu. Tessa sering di bully karena sulit bergaul dengan yang lain dan lagi anak-anak di sekolahnya tidak ada yang tahu kalau Ayah Tessa bagian dari Yakuza.


Meski demikian, Tessa lebih memilih memendam semuanya tanpa bercerita kepada Maxime atau yang lain.


"Sudah, selesaikan dulu sarapan nya. Biarkan dia sendirian untuk sementara waktu," ucap Maxime yang di jawab anggukan dari mereka yang masih di meja makan.


Selesai sarapan Maxime hendak mengajak Milan ke kandang Glory. Tangan gadis itu terus di tarik-tarik oleh Maxime tapi Milan terus menahan nya.


Ia benar-benar tidak mau bertemu dengan singa dan macan tutul yang hampir memakan nya saat di hutan. Walaupun sebenarnya Glory hanya bermain-main saja bukan benar-benar ingin memakan Milan.


"Aku tidak mau ..."


"Ayo sayang ..." Maxime terus menarik tangan Milan. "Mereka baik."


"Tidak, kau bohong. Mereka mau memakan ku hari itu!!" Milan terus menahan dirinya agar tidak bisa di seret Maxime masuk ke kandang Glory.


Mereka sudah di lorong menuju kandang Glory tinggal membuka pintu saja sudah bisa melihat dua singa dan macan tutul itu.


Maxime terkekeh pelan. "Mereka tidak suka daging perempuan tomboy sepertimu!"


Karena tidak ada cara lain untuk lepas dari cengkraman Maxime alhasil Milan mengigit tangan pria itu sampai Maxime melepaskan tangan nya. Gadis itu pun langsung lari terbirit-birit meninggalkan Maxime yang hanya bisa tertawa.


#Bersambung