
"Hari ini kalian pergi kemana?" tanya Miwa.
"Sekulah," sahut enam bocil itu serempak dengan antusias karena ini hari pertama mereka masuk TK.
"Di sekolah kalian harus apa?" tanya Tessa.
"Belajal," teriak enam bocil serempak kembali dengan mengangkat tangannya senang. Kecuali Winter, yang tampak biasa saja walaupun dalam hatinya ia juga sangat senang.
"Sudah siap pergi ke sekolah?" tanya Milan.
"Siap ..." mereka kembali berteriak.
Seketika orang-orang di mansion langsung bertepuk tangan. Ada Javier, Thomas, Sekretaris Han dan para istri mereka juga di mansion Maxime.
Keenan and the geng juga turut hadir karena mereka lah yang akan mengantar Winter dan yang lain ke sekolah.
Sebelum pergi para bocil itu mencium orang tuanya masing-masing.
"Belajar yang benar, kau harus jadi anak pintar, oke." Kata Maxime mengacak-ngacak gemas rambut Summer.
"Oke Daddy ..."
"Jangan bolos ya," ucap Milan tersenyum memainkan pipi Winter.
"Aku tidak akan sepeltimu, Mom ..."
"Huh kau ini."
"Ya, jangan seperti mommy mu," sambung Maxime.
"Kau sih, dia masih kecil malah membicarakan kejelekan ku." Milan menekuk wajahnya.
"Hehe maaf sayang ..." Milan berdecak memalingkan wajah dari Maxime untuk membenarkan seragam Winter.
"Mommy aku belum bisa menulis," ucap Nala kepada Tessa.
"Tidak apa sayang, kan di sekolah untuk belajar menulis, membaca, berhitung hmm .."
"Aku juga tidak bisa membaca, nanti aku duduk dekat Winter aja ah," sambung Laura.
"Aku yang duduk dekat Wintel," pekik Lalita.
"Ih aku ..." Nala mencebikkan bibirnya.
"Aku ..."
"Aku ahh ..."
Miwa menghela nafas. "Sudah-sudah, duduk dekat siapa saja. Nanti kan kalian ada teman baru di sekolah."
"Tapi aku mau duduk dekat Winter, Mommy ... Winter pintar," sahut Laura.
"Tau darimana Winter pintar?" tanya Arsen.
"Aku suka dengar Winter baca buku," sahut Laura.
"Winter pintar karena mau belajar sama Daddy Maxime, kalian kan tidak mau," sambung Daniel.
"Duduk dekat aku aja," ucap Summer. "Aku juga pintal."
"Summer ini berapa?" tanya Keenan mengangkat kelima jarinya.
"Sepuluh," sahut Summer membuat Keenan menghela nafas lalu menurunkan tangannya.
"Lima," ucap Winter membenarkan.
"Sepuluh tau, kan jali ada sepuluh kata Mommy. Iya kan Mom?" tanya Summer kepada Milan.
Milan memaksakan diri untuk tersenyum. "Iya, benar. Tapi bukan begitu maksud uncle Keenan."
Yang lain terkekeh melihat tingkah mereka.
"Di sekolah nanti kalian punya teman baru, harus baik dengan mereka ya," ucap Sky.
"Jangan berantem," sambung Kara.
"Jangan rebutan mainan," sambung Liana.
"Kalau berantem jangan nangis, kalian harus melawan," ucap Javier yang mendapat pukulan dari Sky di lengannya.
"Kau ini mengajarkan yang tidak baik ya."
"Mereka harus pintar melawan agar remaja nanti tidak bisa di bully orang," sahut Javier.
"Masalahnya siapa yang mau membully mereka ketika yang lain tau mereka cucu mu Javier," sambung Sekretaris Han.
"Modar ya kalau mereka membully cucu Tuan Javier," ucap Oris yang datang tiba-tiba.
"Modar itu apa?" tanya Nathan membuat semua orang menatap Oris dengan kesal.
"Hah, hayoloh Oris ..."
"Kau sih, kebiasaan bahasa kampungmu di bawa ke sini," ucap Aiden.
Maxime berdecak ke arah Oris mendengar Oris berbicara sembarangan di depan anak-anak. Oris hanya diam menutup mulutnya rapat-rapat.
"Sudah, itu bukan apa-apa. Kalian pergi sekolah sekarang," ucap Daniel.
*
Kelima bocil itu rebutan naik mobil lebih dulu. Sementara Winter sudah duduk di depan dengan Jonathan sebagai supir. Satu mobil akan mengikuti mereka di belakang yang isinya Keenan, Aiden, Sergio, Samuel, Athes dan Nicholas sementara Philip diam di mansion Javier menemani Rania.
"Aku di sini ah ..."
"Aku dekat jendela," ucap Laura.
"Ih aku juga mau dekat jendela," pekik Lalita.
"Nathan kau duduk di belakang," ucap Nala.
"Tel ... Tel ... susu nih." Summer memberikan susu kotak kepada Winter.
"Hei jangan ribut!!" teriak Jonathan karena para bocil yang di belakang terus-terusan rebutan tempat duduk.
Winter dengan santainya meminum susu pemberian Summer.
"Anak-anak sudah masuk semua ..." Miwa mencoba melihat dari jendela.
"Sudah Mommy," teriak mereka semua.
*
Di perjalan Jonathan hanya bisa berusaha sabar dan menghela nafas panjang ketika para bocil dari tadi ribut di belakang karena rebutan pensil, penghapus dan peralatan menulis yang lain.
"Ih yang kupu-kupu punya Nala tau." Nala bersedekap dada dengan menekuk wajahnya.
"Aku jerapah lihat hehe ..." Laura menunjukan penghapus miliknya.
"Summel itu punya aku ..." Nala berusaha mengambil penghapus kupu-kupu di tangan Summer.
"Pinjam ya ... pinjam ya ..." Summer menjauhkan penghapus itu agar tidak bisa di ambil Nala.
"Ihhhh ... gak mau ..."
"Nala ini aja, punya Summel." Nathan memberikan penghapus bentuk singa kepada Nala.
Nala menggeleng lagi. "Gak ah!"
"Aku bantu ambil ya." Lalita yang duduk di dekat Summer berusaha mengambil penghapus Nala. Summer beberapa kali mendorong tubuh Lalita.
Winter dengan tatapan dingin melihat ke belakang lalu merogoh sesuatu di dalam tas nya. Kotak pensil yang isinya dua puluh penghapus dengan bentuk-bentuk yang berbeda.
Ada bentuk burung, gajah, ikan, ayam, monyet dan masih banyak lagi.
Ia mengambil penghapus kupu-kupu dan memberikannya kepada Nala.
"Woahhh ... penghapus Wintel kupu-kupu juga?" tanya Nala dengan mata berbinar.
Winter hanya mengangguk samar lalu kembali menatap jalanan setelah memasukan kembali kotak pensil berbentuk mobilnya itu.
Bersambung ...
tadinya Milan mau di panggil Bunda aja sama Winter & Summer. Tapi setelah di pikir2 kayanya Mommy lebih cocok hehe ..