The Devil's Touch

The Devil's Touch
#31



NT lagi error kata admin, jadi maafkan telat up ☺


Maxime memarkirkan taxi yang ia pinjam di depan petshop, lalu masuk dengan tergesa-gesa dan langsung membuka pintu kamar dengan jantung berdebar tak karuan.


Ia menghembuskan nafas dengan perasaan sedikit lega melihat Milan tertidur di ranjang. Ah bukan tidur, gadis itu pasti pingsan.


Maxime mendekat duduk di samping Milan, mengusap poni yang menghalangi keningnya untuk memastikan tidak ada luka sedikit pun di wajah Milan.


Lalu ia pun mengelus lembut rambut yang menghalangi leher Milan, tidak ada luka juga di sana.


Milan yang kebetulan memakai kaos putih polos mudah di ketahui jika ada luka yang mengeluarkan darah dari tubuhnya.


Setelah membalikkan tubuh Milan ke samping, Maxime merasa lega karena ternyata Milan masih aman.


"Milan ..." panggil Maxime seraya mengelus tangan Milan.


Gadis itu masih tidak sadarkan diri.


"Maaf aku meninggalkanmu terlalu lama ..." lirih Maxime menatap Milan dengan raut wajah penyesalan.


Pandangan Maxime tertuju pada saku celana Milan yang menonjolkan sesuatu, seperti batu.


Maxime pun mengambilnya dan benar, itu batu kecil yang di bungkus kertas putih.


Aku menunggu moment ini cukup lama ... Dulu aku ingin sekali membunuh dua adik perempuanmu itu. Tapi rasanya tidak menyenangkan jika hanya mereka yang mati, jadi kuputuskan untuk menunggu mu jatuh cinta terhadap seorang gadis dulu sampai akhirnya moment itu tiba setelah kedatangan Milan.


Ah aku tidak akan terburu-buru ... aku akan memberikanmu waktu untuk menikmati moment baru bersama gadismu, Maxime ...


Maxime meremas kertas itu dengan kuat sampai memperlihatkan urat-urat di tangan nya.


*


Keesokan pagi nya Milan terbangun dan segera keluar dari kamarnya dan mendekati Maxime dengan ragu-ragu.


"Maxime ..."


Maxime yang sedang membereskan petshop nya untuk buka di pagi hari pun menoleh.


"Sudah bangun."


Pria itu pun mendekati Milan lalu memeluknya. "Bagaimana tidurmu, sepertinya sangat nyenyak hm," bisik Maxime di telinga Milan lalu menc*um pipi gadis itu.


Milan yang merasa tidak nyaman mendorong tubuh Maxime.


"Eumm ... semalam aku---"


"Kau tidur ketika aku pulang," potong Maxime.


Milan mengerutkan dahi nya. "Hah? pulang? kau semalam tidak pulang sampai aku harus menyusulmu ke kantor polisi."


"Kau bermimpi hm." Maxime memainkan kedua pipi Milan dengan tangan nya.


"Aku pulang tengah malam dan melihatmu sudah tidur. Kau tidak akan ingat karena kau tidur seperti orang mati," lanjut Maxime dengan terkekeh pelan.


"Tapi aku rasa itu bukan mimpi, semalam ada yang mengikutiku di kebun teh lalu ..."


"Lalu ada yang membekap ku dari belakang setelah itu aku tidak ingat apapun."


"Kau bercanda hm, itu pasti hanya mimpi. Semalam kau tidur nyenyak, little cat."


"Sudah, kita sarapan saja."


Maxime pun menarik tangan Milan duduk di meja kasir.


Sementara itu di tempat berbeda Tessa dan Miwa sedang mengerucutkan bibirnya duduk di jok belakang. Arsen yang duduk di balik kemudi menyetir dengan tenang seakan tidak perduli dengan dua adik perempuan nya yang tampak kesal.


Ponsel Arsen bergetar dan tertera nama Maxime di sana.


Antar mereka ke mansion ku, jangan ke mansion Daddy.


Arsen kembali menyimpan ponselnya, melirik dua perempuan di belakang lewat kaca spion. Dua perempuan itu seperti dua ekor singa yang sedang menatap tajam Arsen. Tapi Arsen bodo amat.


Mobil memasuki halaman mansion, Tessa dan Miwa segera keluar dan tidak lupa membanting pintu membuat Arsen yang di dalam mobil hanya bisa berdecak.


Suara heels yang di kenakan dua perempuan itu membuat Oris yang sedang berada di dapur lari terbirit-birit menghampiri mereka.


"Selamat pagi ..." sapa nya dengan membungkukan badan.


Tessa dan Miwa saling menoleh karena tidak mengenali sosok pria yang sedang tersenyum bak orang bodoh di depan mereka.


"Kau siapa?" tanya Tessa.


Oris mengelap tangan nya ke celana yang ia kenakan lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Saya Oris ..."


Tessa dan Miwa hanya menatap Oris tak suka lalu melengos begitu saja menaiki anak tangga.


Oris menghela nafas lalu mengendus telapak tangan nya. "Perasaan tanganku tidak bau. Tidak kotor juga," ucapnya seraya membolak-balikan telapak tangan nya.


Setelah mengantar dua adik perempuan nya ke mansion Maxime, Arsen kembali melajukan mobilnya menuju petshop Maxime.


Semalaman ia harus menginap di salah satu kamar yang berada di klab hanya untuk menunggu Miwa dan Tessa sadar. Dua perempuan itu pingsan cukup lama dan baru sadar tadi pagi.


Setelah sampai Arsen langsung masuk ke dalam petshop, terlihat Maxime dan Milan baru selesai sarapan.


"Milan aku harus membeli vitamin kucing yang habis, kau tunggu dulu di sini bersama Arsen, oke."


Milan mengangguk dan Maxime pun beranjak dari duduknya, mengelus kepala Milan lalu mengambil kunci mobil dari Arsen.


Maxime melajukan mobilnya namun bukan untuk membeli vitamin, pria itu hendak pergi ke mansion nya untuk menemui Miwa dan Tessa.


Karena khawatir dengan Milan jika di tinggalkan sendirian di petshop, alhasil Maxime harus merepotkan Arsen untuk menjaga Milan selama ia keluar.


Gerbang mansion terbuka, satpam yang berjaga membungkukan badan kala melihat yang ada di balik kemudi itu Maxime.


Mobil masuk ke halaman mansion dan berhenti di teras depan. Oris berlari ke depan teras untuk menyambut Tuan nya.


"Selamat pag--"


Belum selesai menyapa seraya membungkukan badan, Maxime berjalan melewati Oris begitu saja. Membuat Oris kembali menarik tubuhnya tegak seraya menggeleng kecil.


Padahal Peter memerintahkan Oris untuk selalu menyambut majikan yang hendak masuk ke dalam mansion. Tapi Miwa, Tessa dan Maxime terlihat tidak perduli dengan sambutan nya.


"Dimana mereka?" tanya Maxime kepada Peter yang sedang membaca koran di sofa.


"Di kamar," sahut Peter menurunkan koran yang menghalangi wajahnya.


Maxime pun segera menaiki anak tangga menuju pintu kayu berwarna coklat. Ia mendorong knop pintu itu dan terlihat dua orang perempuan sedang memainkan ponselnya di ranjang seraya tiduran.


Mereka langsung duduk tegak kala melihat Maxime masuk ke kamarnya.


"Kakak ..." ucap Mereka bersamaan.


Maxime menutup pintunya kembali dan duduk di sofa samping ranjang.


Maxime menyilangkan kakinya seraya tangan bersedekap dada menatap dua perempuan yang sedang kebingungan.


"Semalam darimana?" tanya nya.


"Klab," sahut Miwa lalu menundukkan kepala nya, Maxime sudah menatapnya tajam dan datar. Ah Kakak nya itu pasti marah lagi.


"Berdua?"


"Iya," sahut Tessa.


"Tidak ada penjaga?"


Keduanya menggeleng.


"Tidak izin dulu dengan Kakak atau Arsen?"


Mereka menggeleng lagi.


"Daddy?"


Mereka menggeleng lagi.


Maxime menghela nafas kasar. "Tidak bisakah kalian menurut hm? Tidak bisakah kalian izin kemanapun kalian pergi?"


Mereka diam.


Maxime mengusap kasar wajahnya. "Tau apa yang terjadi semalam? Arsen sudah menceritakan sesuatu kepada kalian?"


Miwa memberanikan mendongak menatap Maxime. "Tidak bisakah kami hidup bebas, Kak. Maksudku, kami bukan anak kecil lagi. Kalau Kakak dan Kak Arsen terus membuntuti kami seperti anak kecil kapan kami akan menikah!!"


"Bahkan besok pun kalian bisa menikah kalau ada pria yang berani menghadap kakak!" sahut Maxime.


Miwa terkekeh sinis dengan menggeleng kecil seakan sudah lelah dengan sikap posesif Maxime.


"Miwa cukup," bisik Tessa.


Suasana saling membentak pun terjadi antara dua anak kembar yang hanya berbeda lima menit itu.


"Tidak akan ada pria yang menikahi ku karena sikap posesif kakak ini!"


"Ini demi kebaikanmu, Miwa!"


"Kebaikan apa?!! menjauhkan ku dari dunia luar, itu yang kakak sebut kebaikan?!! bahkan Daddy dan Mommy tidak seposesif Kakak!!"


Maxime beranjak dari duduknya dengan kesal menghampiri Miwa. Miwa yang biasanya lebih banyak diam kini memberanikan diri mendongak menatap Maxime.


"Apa?!!" sentak Miwa.


"Mau tampar aku? Mau tampar aku karena aku tidak bisa menjadi adik penurut?!!"


"Aku sudah lelah, Kak. Aku lelah dengan semua peraturan yang Kakak buat!!"


Maxime meraup wajah Miwa dengan satu tangan nya, membuat bibir Miwa sedikit Maju. Pria itu membungkuk sedikit dan berbicara penuh penekanan.


"Kau dan Tessa hampir di perk*sa semalam kalau Kakak dan Arsen telat datang!" Maxime mendorong pelan wajah Miwa lalu meninggalkan kamar membuat dua perempuan itu mematung seketika dengan apa yang di katakan Maxime.


Mereka benar-benar tidak sadar apa yang terjadi semalam.


*


#Bersambung


Miwa



Tessa