The Devil's Touch

The Devil's Touch
#77



Maxime menghentikan mobilnya di halte, seperti biasa Milan turun di sana agar tidak ada orang yang melihat Milan berangkat bersama dengan Maxime.


Bahkan keduanya berangkat sangat pagi agar suasana sekolah masih sepi.


Milan keluar dari mobil dan Maxime menurunkan kaca mobilnya. "Cepat masuk, jangan berdiri disitu!"


Milan mengangguk dan Maxime pun melakukan mobilnya masuk ke halaman sekolah. Milan masih berjalan di saat Maxime sudah menunggu gadis itu di parkiran.


Ia akan ke post satpam kalau sudah melihat Milan masuk ke kelasnya.


"Muklis ..." teriak Pak Asep menghampiri Maxime dengan segelas kopi di tangan nya.


Maxime masih menatap gerbang, enggan menoleh atau menjawab panggilan Pak Asep.


"Eh Muklis!" Pak Asep menepuk bahu Maxime. "Ikut saya ..."


Lagi-lagi Maxime mengacuhkan dan memilih bersandar di pintu mobil saja dengan terus menunggu Milan masuk.


"Muklis ayo ikut saya, mau sarapan tidak. Ada. bakwan enak di sana," tunjuk Pak Asep ke arah kantin sederhana samping sekolah. Kantin itu berada di luar sekolah SMA Ganesha. Biasanya dipakai untuk siswa nakal merokok.


"Mau tidak?" tanya Pak Asep.


"Eh si Muklis di ajak ngomong!!" Pak Asep mulai terlihat kesal karena Maxime terus mengacuhkan nya.


Maxime berdecak mengambil ponsel di saku dan menelpon Milan dengan gelisah. Pak Asep masih berdiri di sana memperhatikan Maxime.


Nomor Milan tiba-tiba tidak aktif. Maxime mencoba sekali lagi dan tetap sama. Ia mendengus, ia menerka-nerka kalau Milan kabur lagi.


Ia meremas ponsel di tangan nya lalu berjalan dengan langkah cepat keluar dari halaman sekolah meninggalkan Pak Asep yang hanya menggaruk kepala heran melihat rekan satpam nya di sekolah terlihat begitu marah di pagi hari.


Maxime kembali ke halte dan benar Milan tidak ada di sana.


"Si*l!" umpatnya.


"MILAN ..." teriak Maxime seraya matanya terus mencari-cari sosok Milan di dekat halte.


"MILAN ..."


Di luar sekolah ini tidak ada cctv membuat pikiran Maxime semakin kalut karena ia hanya memasang cctv di dalam sekolah saja. Maxime berlari kembali ke sekolah untuk membawa mobilnya dan dengan cepat mobil itu keluar dari gerbang sekolah.


Ia hanya menelusuri jalanan dekat sekolah, matanya celengak-celinguk mencari sosok Milan. Siapa tahu gadis itu belum jauh kabur dari Maxime.


Sementara itu di sebuah mobil Milan tak sadarkan diri dengan dua pria duduk di samping Milan. Dua pria lagi duduk di jok depan.


Saat berjalan ke sekolah mulut Milan di bekap seseorang sampai gadis itu pingsan dan di bawa ke dalam mobil jeep oleh empat orang pria asing.


"Cantik juga mangsa kita kali ini," ucap pria yang duduk di samping kiri Milan.


Pria di depan menoleh dari spion seraya bersiul menaikkan kedua alisnya dengan maksud ia membenarkan ucapan teman nya.


"Hotel lah. Tidak mungkin menikmati gadis itu di hutan, kita bukan babi hutan yang mau kawin!" sahut pria yang duduk di balik kemudi.


Sontak mereka semua tertawa. Pria yang duduk di samping kiri Milan dengan tak sabar membuka kancing seragam gadis itu tapi baru saja satu kancing terbuka teman nya menahan tangan pria itu.


"Sabars sial*n! jangan sekarang!"


Pria itu menghembuskan nafas. "Ah aku sudah tidak sabar."


Maxime masih melajukan mobilnya dengan ponsel menempel di telinga. Ia menelpon salah satu anak buah Yakuza. Yang jelas bukan Arsen, Peter maupun Jack.


Maxime berpikir jika Milan kabur dengan taxi dari sekolah. Gadis itu tidak mungkin kabur dengan berjalan kaki. Hal bodoh karena pasti jika berjalan kaki akan mudah di tangkap oleh Maxime.


"Tangkap semua mobil yang melewati jalanan SMA Ganesha!"


"Siap Tuan!"


Para anak buah Yakuza pun melakukan tugasnya. Semua mobil yang baru saja keluar dari gapura jalan SMA Ganesha di tahan dan menyebabkan macet panjang.


Klakson pun saling bertautan para pengguna berjalan berteriak.


"Hei ada apa ini?"


"Hei kau yang di depan cepat maju!"


"Cepatlah woy!!"


Para pria yang membawa Milan pun ikut kesal dan marah-marah di dalam mobil.


"Ada apa ini sebenarnya!"


"Siapa mereka?" tanya nya menunjuk para pria memakai jas hitam berdiri di depan gapura.


"Sial*n bagaimana kalau gadis ini bangun!!"


"Kau, keluarlah dan lawan saja mereka!!"


Dengan marah salah satu dari mereka keluar menghampiri anak buah Yakuza.


Bersamaan dengan itu mobil Maxime berhenti paling belakang. Ia cepat-cepat keluar dari mobil dengan rahang mengeras dan amarah menguasai dirinya ia mengetuk jendela mobil dari yang paling belakang satu persatu.


Supir menurunkan jendela nya. "Ada apa?" tanya nya yang heran tiba-tiba ada satpam yang mengetuk jendela mobilnya.?


Maxime pun melihat siapa saja yang di bawa supir tersebut. Dan ternyata tidak ada Milan di sana.


#Bersambung