
Miwa tersenyum haru melihat Maxime dan Milan bercanda di kandang Glory, ia memperhatikan mereka dari atas balkon.
Ia pikir Maxime selamanya akan mempunyai sikap dingin tapi ternyata kehadiran Milan membawa banyak perubahan ke dalam hidup Maxime.
Maxime jadi lebih sering tinggal di mansion sekarang, Miwa senang berkumpul seperti saat mereka kecil bersama Maxime. Puluhan tahun Maxime keluar dari mansion dan tinggal di petshop membuat Miwa sedikit kesepian karena perhatian kecil dari Maxime mulai hilang.
Kalau Maxime di petshop, ia menanyakan kabar Miwa lewat pesan chat saja. Miwa terkadang memang sebal dengan sikap posesif Maxime tapi jauh dari pria itu lebih menyebalkan ternyata.
Miwa menghela nafas lalu berbalik dan ia terlonjak kaget mendapati Arsen berdiri di belakangnya.
"Kak Arsen ..."
Arsen juga terlihat sedang memperhatikan Maxime dan Milan, lalu ia menoleh kepada Miwa. "Kakak mau ambil earphone, dimana?" tanya nya.
"Ada," sahut Miwa. "Di meja," perempuan itu menunjuk meja dekat ranjangnya. Menunjuk pada earphone yang ia pinjam semalam dari Arsen.
Arsen pun berbalik dan berjalan mengambil earphone miliknya lalu hendak pergi dari kamar Miwa.
"Datang ke kamarku hanya untuk mengambil earphone?" tanya Miwa membuat langkah Arsen terhenti.
Arsen berbalik menatap Miwa lalu mengangguk.
"Kenapa tidak langsung ambil kalau begitu? kenapa malah diam di belakangku, aku yakin kakak udah liat earphone nya di atas meja." Miwa menyilangkan kedua tangan nya di dada menunggu jawaban.
"Tidak sopan kalau langsung ambil begitu saja," sahut Arsen.
"Oh. Sejak kapan kakak punya sopan santun, biasanya seenaknya ambil barang di kamarku atau kamar Tessa. Kita dari kecil memang seperti itu, iya kan?"
Miwa hanya berpikir, sikap sopan Arsen datang karena ia sudah tidak lagi menganggap dirinya adik. Karena biasanya benda apapun yang ingin di ambil antara Maxime, Miwa, Arsen dan Tessa tidak perlu memakai sikap sopan santun, mereka mengambil barang seenaknya satu sama lain.
Arsen menghela nafas karena malas berdebat ia pun berbalik hendak pergi tapi lagi-lagi langkahnya di hentikan oleh Miwa.
"Bisa tidak jangan gengsi seperti itu!"
Arsen hanya menoleh sesaat lalu kembali keluar begitu saja dari kamar Miwa. Meninggalkan Miwa yang berteriak kesal.
*
Maxime dan Milan baru selesai bermain dengan Glory, Milan sudah sedikit berani mengelus kepala singa itu. Sekarang mereka sedang berjalan di lorong menuju kamar.
Tapi baru saja keluar dari lorong, mereka mendapati Miwa dengan wajah kusut menghampiri Maxime dan tiba-tiba memeluk pria itu.
Milan yang bingung hanya menatap Maxime, Maxime mengelus kepala Milan. "Masuk duluan ke kamar sayang ..." titahnya, Milan pun mengangguk dan pergi meninggalkan Maxime dan Miwa.
Maxime menghela nafas lalu beralih mengusap kepala Miwa. "Kenapa hmm?" tanya nya lembut.
Dalam keadaan kacau, Miwa memang suka menghampiri Maxime karena segalak-galaknya Maxime dia mudah memberi solusi dan ketenangan untuk Miwa.
"Ada apa? Arsen?" tebak Maxime yang di jawab anggukan pelan dari Miwa.
"Aku gagal menikah lagi kak ..." lirih Miwa. "Kak Arsen tidak mencintaiku ... sudahlah, aku jadi perawan tua saja ..."
Maxime berdecak. "Kenapa lagi anak itu! dia bilang dia akan belajar mencintaimu ..."
Sontak Miwa mendongak menatap Maxime. "Kak ... kak Arsen bilang kaya gitu kak?"
Maxime mengangguk.
"Tapi ... tapi dia masih sama. Seperti menganggapku seorang adik."
"Dia pasti takut, kalau sudah mencintaimu dan hubungan kalian di larang oleh keluarga kita," sahut Maxime.
"Tapi kan Daddy--"
"Dia tidak tahu kalau Daddy sudah setuju," potong Maxime.
"Sudahlah jangan di pikirkan, biar kakak yang urus dia."
"Kakak ... kakak sudah setuju juga dengan aku dan Kak Arsen?" tanya Miwa ragu.
Maxime menatap mata Miwa dan itu membuat Miwa sedikit takut dengan jawaban kakaknya.
"Kalau kakak tidak setuju?" tanya Maxime seraya menaikkan satu alisnya.
"Aku akan pake cara licik dengan menjebak Kak Arsen dengan obat perangs*ng agar aku hamil dan akhirnya menikah," sahut Miwa dengan senyum jahilnya.
"Cih, anak ini!!" Maxime mengacak-ngacak gemas rambut Miwa.
Miwa menekuk wajahnya seraya membenarkan rambutnya yang berantakan.
"Tadi kau bilang mau jadi perawan tua, sekarang malah mau menjebak Arsen!!"
"Hehe bercanda kak, aku engga mungkin menyerah dapetin Kak Arsen. Kakak aja bisa dapetin Milan. Iya kan?"
Maxime mengangguk dengan tersenyum lalu melentangkan kedua tangan nya, Miwa pun segera memeluk pria itu.
"Apapun!! asal kau bahagia pasti kakak bantu. Selama kakak tau pria yang kau suka baik untukmu ... sekalipun itu harus Arsen, kakak merestuimu mulai sekarang."
Miwa menggulum senyum bahagia di wajahnya seraya semakin erat memeluk Maxime.
Bersambung