The Devil's Touch

The Devil's Touch
#133



Javier keluar dari kamar mandi berjalan menghampiri Miwa di balkon tapi ketika ia malah mendapati Arsen yang duduk di meja makan bersama Miwa.


"Loh, Arsen ... kau di sini." Javier menarik satu kursi dan duduk disana.


"Iya, Dad. Miwa menghubungiku ..." Arsen menoleh kepada Miwa yang sedang mengupas jeruk di tangan nya. Javier ikut menoleh kepada putrinya seraya mendengus kasar. Sudah bilang mau berbicara berdua karena rahasia malah mengajak Arsen.


"Kenapa Dad?" tanya Miwa menaikkan satu alisnya.


Javier menggeleng. "Tidak, tidak ada. Sudah kita makan dulu ..."


Arsen dan Miwa mengangguk, Arsen mengambil pisau dan garpuh untuk memotong steak, Miwa masih sibuk dengan jeruknya dan Javier sedang mengaduk-ngaduk coffe.


"Oh iya, kak Arsen tadi bilang di bawa ke ruangan oleh satpam?" tanya Miwa.


Arsen mengangguk seraya menyuapkan steak ke mulutnya.


"Kenapa?" tanya Javier mengerutkan dahinya.


"Salah paham, Dad. Aku pergi ke kamar mandi untuk mencari Miwa, mereka pikir aku mengintip."


"Lalu?" tanya Javier.


"Mereka memukuliku dengan tas dan menendang ..." Arsen menggantung kalimatnya.


"Menendang apa kak?" tanya Miwa.


"Hmmm ..."


"Ah, Daddy mengerti," sahut Javier yang dulu juga pernah aset berharga nya di tendang oleh Sky.


"Mengerti apa Dad?" tanya Miwa menatap bergantian Javier dan Arsen.


"Menendang jantung kedua laki-laki," sahut Javier.


"Jantung kedua?" Miwa mengerutkan dahinya terlihat berpikir.


"Jantung kedua itu ..." Miwa menatap Arsen lalu pandangan nya perlahan turun ke.


Pletak


"Akkhh!!"


Javier menyentil kening Miwa membuat perempuan itu meringis mengusap keningnya. Sementara Arsen hanya melebarkan mata.


"Jangan mes*m ya!! untuk apa melihat bagian bawah tubuh Arsen!!" Javier berseru seraya menggelengkan kepala.


Arsen hanya mendengus dan ikut menggelengkan kepala lalu mengambil jus dan meminumnya.


"Ih apa sih Dad, aku bahkan tidak melihat apapun!" sahut Miwa kesal.


"Sekarang aku mengerti apa itu jantung kedua," lanjut Miwa.


"Jantung kedua Dad pernah di tendang Mommy kan?" tanya Miwa dengan polosnya. "Jantung kedua kak Maxime pernah di tendang Milan."


Javier melotot mendengar penjelasan Miwa, ia pikir hanya Arsen dan dirinya yang pernah merasakan sakitnya jantung kedua di tendang ternyata Maxime juga sama.


Miwa menoleh ke arah Arsen. "Harusnya aku yang menendang jantung kedua Kak Arsen, bukan perempuan lain!! Ayo kak tendang lagi ..." Miwa mengangkat kakinya dari bawah kolong meja tapi malah mendapat.


Pletak.


"Akhh!!" Miwa lagi-lagi meringis karena Javier menyentilnya lagi.


"Ini anak selain cerewet menyebalkan juga ya!!" ucap Javier tak habis pikir dengan Miwa.


"Dad sudahlah ... Miwa hanya bercanda," potong Arsen.


"Iya ih, hanya bercanda," sambung Miwa menekuk wajahnya dengan satu tangan mengusap-ngusap keningnya.


"Dad tidak mengerti kenapa senjata perempuan itu menendang aset berharga kita sebagai laki-laki."


"Ya karena kalau aset berharga patah masa depan lelaki hancur. Kalau membunuh tidak bisa, setidaknya menghancurkan masa depan lelaki tentu bisa. Iya kan?"


Javier dan Arsen mendesis kesal seraya menepuk jidat mereka.


"Sudah-sudah, Dad mau membahas hal penting di sini. Tadinya hal ini hanya ingin di bicarakan bersama Miwa saja, tapi karena kau sudah di sini Arsen. Jadi kita bahas ini bertiga."


"Apa Dad?" tanya Miwa.


"Bagaimana hubungan kalian? sudah sejauh mana?"


"Ma-maksudnya?" Arsen balik bertanya. Yang ia tahu Javier tidak mengetahui soal dirinya dan Miwa. Kenapa tiba-tiba Javier menanyakan hal itu.


"Dad sudah tau, Ar. Miwa dari awal sudah mengatakan dia menyukaimu ..."


"Dad juga yang menyuruh Ayahmu datang ke mansion Maxime untuk memergoki kau menci*m Miwa, padahal Dad lah yang membuat jebakan itu."


Arsen mengusap wajahnya kasar seraya menghela nafas. Sungguh, ia sangat takut jika Javier tahu hubungan dirinya dan Miwa. Tapi ternyata Javier malah ikut membantu Miwa dari awal. Tidak habis pikir.


"Sekarang Dad mau semuanya jelas, Miwa akan bertunangan dengan siapa? Daniel atau kau Arsen?"


Hening beberapa detik sampai akhirnya Arsen menjawab.


"Yang akan bertunangan aku dan Miwa, Dad. Bukan Daniel ..."


Jawaban Arsen tidak hanya membuat Javier terkejut tetapi Miwa juga.


"Lalu Daniel?" tanya Javier bingung.


"I-itu ... itu hanya rencana kak Maxime," jawab Miwa membuat Arsen sontak menoleh ke arahnya.


"Jadi itu bohong?" tanya Arsen yang di jawab anggukan dari Miwa.


Javier berdecak. "Dad sudah menduganya ..."


Arsen menghembuskan nafas, ia sudah panik sendiri masalah tunangan Daniel dan Miwa. Ternyata ia tidak salah, ini semua hanya akal-akalan Maxime saja.


"Siapa saja yang sudah tau tentang hubungan kalian?" tanya Javier lagi.


"Kak Maxi, Daddy dan Daddy Han," sahut Miwa.


"Uncle Keenan dan yang lain juga sudah tau," sambung Arsen membuat Javier melebarkan mata.


"Benarkah?"


Arsen dan Miwa mengangguk.


"Dad tidak habis pikir, kenapa mereka selalu tau masalah kalian di banding Daddy. Dulu Maxime dan Milan sekarang kalian!! mereka cocok sekali menjadi mata-mata ..."


"Mereka bukan mata-mata Dad, mereka hanya berpihak ke orang kaya raya saja. Memang dasar mafia mata duitan," sahut Miwa mencebikkan bibirnya kesal.


"Yasudah sekarang begini saja ... kalian tidak bisa menikah sekarang, jalani saja dulu. Kalau kalian merasa sudah sangat cocok baru kita bahas pernikahan kalian dengan keluarga besar yang lain. Mengubah status dari adik kakak menjadi kekasih tidak mudah ..."


"Tapi nanti menikahnya bareng Kak Maxi ya? bagaimana? jadi ada dua pernikahan nanti." Miwa menyengir.


Javier berdecak. "Dad bilang jalani dulu ... Arsen saja terlihat santai, kau perempuan agresif sekali Miwa!!"


Miwa menekuk wajahnya membuat Arsen menggulum senyum di wajahnya.


"Sudah, ayo makan lagi ..."


*


Selesai bicara dengan Javier, Miwa dan Arsen keluar dari hotel mencari hotel baru. Javier ingin istirahat sendirian di hotel seraya menunggu Tessa yang masih di rawat.


Arsen membuka pintu hotelnya, masuk di ikuti Miwa di belakang. Sebenarnya ajakan ke hotel baru itu ide Arsen, Miwa sendiri tadi meminta untuk pulang ke mansion tapi Arsen menolak.


Miwa duduk di ranjang seraya menghela nafas, Arsen mengunci pintu kamarnya lalu mendekati Miwa.


Miwa *******-***** dress yang ia pakai, entah kenapa perasaan nya menjadi tidak nyaman berduaan dengan Arsen di kamar hotel.


Ini bukan kali pertama mereka ada di kamar berdua, tapi masalahnya sekarang statusnya bukan adik kakak lagi, tapi sebagai seorang kekasih.


Tadi ketika bersama Javier, Miwa masih banyak bicara tapi kalau berdua seperti ini tiba-tiba mulutnya tertutup rapat.


Arsen duduk di samping Miwa, perempuan itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Melihat lampu, meja, tv, apa saja yang penting tidak melihat wajah Arsen.


Arsen yang tahu Miwa gugup hanya tersenyum, Miwa yang cerewet kini hilang sudah. Miwa sendiri yang mengatakan perasaan nya lebih dulu, tapi ketika Arsen membalas perasaannya perempuan itu malah terlihat kikuk sekarang.


"Sekarang mau apa?" tanya Arsen mencairkan suasana.


"Hah ..." Miwa menoleh ke arah Arsen. "Ma-mau apa?" ulang Miwa yang di jawab anggukan dari Arsen.


Miwa menggeleng. "Tidak ... tidak tau kak."


Arsen mengangguk-ngangguk seraya menahan senyumnya. Miwa yang melihat itu kembali memalingkan wajahnya seraya memejamkan mata dan meremas kembali ujung dress yang ia pakai.


"Seharusnya aku memaksa untuk pulang saja tadi," batin Miwa.


Tubuh Miwa bergetar kaget kala Arsen tiba-tiba memainkan rambutnya di belakang telinga. Bersamaan dengan itu jantungnya seakan berdegup kencang.


"Kak ... a-aku mau ke kamar mandi dulu." Miwa bergegas beranjak dari duduknya meninggalkan Arsen yang hanya bisa memainkan lidahnya di dalam mulut untuk menyembunyikan senyumannya.


Bersambung